Tiga Guncangan dalam Sepuluh Tahun

TIGA KALI dalam sepuluh tahun terakhir ini, dunia digemparkan oleh penemuan jejak peradaban awal manusia di muka bumi yang berada di tiga titik di Indonesia, tepatnya di Pulau Sulawesi dan Kalimantan, dua pulau yang hanya diantarai oleh Selat Makassar. 

Permulaan dasawarsa, tepatnya antara tahun 2011-2013, Pusat Arkeologi Nasional, Balai Arkeologi Makassar, Balai Peninggalan Cagar Budaya (BPCB) Makassar, Universitas Wollongong, dan Universitas Griffith meneliti lukisan stensil tangan dan figur babi rusa betina di Gua Timpuseng, Maros, Sulawesi Selatan, sekisar 30 kilometer di utara Kota Makassar. Hasil riset ini menghasilkan rilis yang mencengangkan pada 2014: telah ditemukan gambar cap tangan dan lukisan tertua di dunia.

Belum dingin berita tentang gambar stensil tangan dan figur di Timpuseng, gempar kabar berikutnya tentang penemuan gambar-gambar di dinding Gua Jeriji Saleh di Kecamatan Bengalon, Kalimantan Timur yang menggambarkan banteng dan stensil tangan oker, yang disiarkan oleh jurnal Nature pada 7 November 2018. 

Belum selesai kehebohan ini, menjelang tutup dasawarsa, dirilis lagi titik penemuan gambar tertua dunia. Kali ini, titiknya kembali menyeberangi Selat Makassar. Publikasi pada Desember 2019 itu menguakkan titik lain yang bertetangga dengan Gua Timpuseng, Maros. Berita menyebut bahwa gambar-gambar tua ditemukan di Bulu Sipong 4, di wilayah pegunungan kapur Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan.

Adegan perburuan anoa di Gua Bulu Simpong 4, pegunungan karst Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan (Foto Ratno Sardi via Nature).

Sejauh ini, keistimewaan gambar di Bulu Simpong 4 ini ada dua. Pertama: tidak bersifat figuratif seperti dua yang terdahulu; melainkan menampakkan adegan perburuan anoa yang dilakukan tujuh figur setengah manusia dan setengah hewan (therianthropes). Beberapa peneliti memperkirakan lukisan ini adalah kisah terekam yang tertua di dunia. Kedua, ketujuh figur dalam gambar yang terpampang selebar hampir lima meter itu menampakkan kompleksitas dan perkembangan pemikiran manusia.

Menurut Profesor Maxime Aubert dari Place, Evolution and Rock Ark Heritage Unit (PERAHU) dan Universitas Griffith Australia, konsep inovatif tentang adegan interaksi antar subjek dan pengembara entitas imajiner therianthropes ini diketahui sangat jarang ditemukan hingga 20.000 tahun yang lalu. Bagaimana pun, lanjut Aubert, kemampuan manusia untuk membuat cerita, adegan naratif, terbentuk di tahap terakhir dari kecerdasan atau kognisi manusia.

“Keberadaan lukisan gua di Leang Bulu Sipong 4 memberikan pengetahuan bahwa tidak ada evolusi seni dari yang sederhana menjadi kompleks pada 35.000 tahun yang lalu, paling tidak di Asia Tenggara,” kata Aubert.[1]

Figur therianthropes yang tampak di bagian kiri (Foto: Maxime Aubert/PA Wire via BBC).

KAWASAN pegunungan batu gamping di kedua kabupaten di utara Kota Makassar itu memang dikenal sangat kaya dengan peninggalan gambar-gambar purbakala di dinding gua. “Masih ratusan gambar,” begitu perkiraan yang sering saya dengar. Belakangan muncul angka 242 gua—jumlah yang masih membuka kemungkinan penemuan-penemuan baru. Namun sayang sekali, karya-karya seni gua yang merupakan sebuah hadiah dari permulaan budaya manusia itu diperkirakan segera runtuh di depan mata kita. Padahal, kompleks penuh gambar purba itu masih menunggu untuk diketahui usianya.

Di luar dari keterbatasan teknis dan waktu terkait pengujian usia sisa peradaban manusia itu, ada perihal yang segera ditangani oleh negeri ini. Itu tak lain soal kerusakan yang sangat mungkin dialami gambar-gambar ini. Menurut The Conversation, pemantauan BPCB mengonfirmasi bahwa permukaan dinding gua batu kapur tempat gambaran-gambaran ini dibuat mulai terkelupas dan menghapus seni yang ada. Proses ini telah berjalan begitu cepat: di beberapa lokasi, gambaran seni ini hilang 2-3 cm dalam tiap bulan.[2]

Berdasarkan pengalaman mengunjungi Gua Timpuseng pada musim kemarau tahun 2018, saya pun melihat sendiri gambar-gambar tersebut mulai terkelupas, termasuk gambar anoa. Sambil menunjukkan bagian gambar yang menjadi sampel untuk diuji karbon, saya mendengar langsung dari juru kunci Gua Timpuseng, Pak Muhtar, bahwa iklim memang bisa menjadi salah satu faktor penting kerusakan situs. Gua seperti Timpuseng memerlukan kelembapan. Sayangnya, mulut gua itu lurus menghadap ke arah matahari terbit, tanpa pohon pelindung. 

Gua ini tampak membutuhkan jenis pohon yang berbatang keras dan menjulang lantaran mulut gua yang menganga setinggi antara 10 sampai 20 meter. Keadaan ini berbeda dengan, misalnya, gua Leang-Leang yang cukup dalam sehingga gambar babi rusa dan stensilan tangan di dindingnya yang diperkirakan 5000 tahun itu bisa berteduh di kelembapan. Gambar di gua ini adalah gambar yang banyak muncul dalam buku-buku sejarah sekolah mulai masa 1980-an.

Timpuseng juga berbeda dengan Gua Jeriji Saleh yang dari segi geografis yang cenderung ‘aman’. Untuk mencapai lokasi, pengunjung harus menggunakan perahu katinting menyusur Sungai Bengalon dari tepian sungai kampung Hambur Batu hingga percabangan Sungai Marang. Lama perjalanan sekisar 4 jam demi menempuh 45 kilometer, dilanjutkan berjalan kaki menyusur Sungai Marang hingga ke hulunya—tetapi ketika debit airnya naik, bisa memakai perahu katinting hingga ke Tepian Anus kemudian melanjutkan perjalanan sampai ke hulu. Perjalanan dari percabangan Sungai Bengalon dan Sungai Marang berkisar 7 jam sampai ke hulu Sungai Marang sebagai kamp sementara. Dari hulu ini lalu dilanjutkan lagi berjalan kaki ke kaki bukit Batu Raya, lantas menyeberangi punggungan bukit ini dengan melintasi celah bukit hingga mencapai sisi timurnya. Dari sinilah kemudian harus menempuh 6 jam mencapai Gua Jeriji Saleh.[3]

Dari gambaran ini kita bisa memperkirakan betapa sulitnya menjamah gambar-gambar itu. Namun Gua Timpuseng tidak sama lantaran berada di tengah hamparan sawah dan perbukitan batu gamping di Lingkungan Tompobalang, Kabupaten Maros, tiga puluhan kilometer di utara Makassar. Gua ini mudah diakses manusia. Letaknya hanya sekisar 300 meter dari pinggir jalan beraspal yang membelah wilayah persawahan Tompobalang. 

Timpuseng adalah kosa kata bahasa Bugis yang bermakna ‘gua mata air’. Langit-langit gua inilah yang menggegerkan dunia tahun 2014 lalu dengan temuan gambar stensil gambar tangan dan gambar disebut berusia setidaknya 39.900 tahun sebelum Masehi lewat uji karbon.

Seperti makna namanya, warga Tompobalang, timpuseng menjadi ‘sang memberi hidup’. Di beberapa daerah lain, sawah tadah hujan biasanya hanya bisa panen sekali setahun. Namun padi sawah di sekitar Gua Timpuseng bisa tumbuh dan dipanen hingga dua kali. Mata air yang berjarak sekisar lima meter dari mulut gua, mengalir turun sampai dua puluhan meter ke arah selatan gua. Air yang berkumpul di sekitaran sebatang palem dipompa oleh warga dan dialirkan ke petak-petak sawah mereka.

Dalam konferensi pers pada pertengahan Desember 2019, BPCB Sulawesi Selatan, menyebut tentang ancaman lain terhadap gambar-gambar ini, yakni bakteri dan debu. “Pengaruh bakteri-bakteri yang dibawa oleh pengunjung maupun debu dan asap yang sempat menyentuh ruangan [Gua Leang Bulu Sipong 4] cukup berbahaya. Malah, salah satu bakteri memiliki sifat yang dapat mengubah warna pigmen,” terang pengkaji BPCB Sulsel, Rustan Lebe.[4]

PENEMUAN ini mematahkan catatan usia cetakan telapak tangan Gua El Castillo Cantabria, Spanyol, yang diperkirakan 37.300 tahun dan lukisan figuratif Gua Chauvet, Prancis yang ditaksir berumur 35.300 sampai 38.827 tahun. Temuan itu jelas penting sebab nyaris dua abad lamanya peneliti Eropa menyatakan manusia modern pertama hanya menyebar di Afrika dan Eropa. 

Mungkin pematahan rekor semacam ini sebagai hal penting dalam khazanah ilmu pengetahuan. Tapi yang lebih sering terjadi pada bangsa ini, kumpulan manusia yang paling dekat dari situs-situs ini, adalah memamerkan kecerobohan, seperti memberi izin pabrik-pabrik semen yang akan mengirim debu-debu yang bisa mempercepat pudarnya gambar-gambar purba tersebut.

Ya, bangsa ini memang doyan mematahkan ingatan kita dan generasi-generasi mendatangnya.


Anwar Jimpe Rachman, penulis-peneliti-kurator untuk Tanahindie dan Penerbit Ininnawa.

[1] https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20191212164249-199-456420/lukisan-tertua-dunia-usia-44-ribu-tahun-ditemukan-di-makassar, diakses pada 20 Desember 2019, 14:28 Wita.

[2] https://theconversation.com/lukisan-gua-sulawesi-menunjukkan-awal-mula-seni-imajinatif-dan-kepercayaan-spiritual-manusia-128927, diakses pada 17 Desember 2019, 21:35 Wita.

[3] https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbkaltim/gua-saleh-kawasan-karst-sangkulirang-mangkalihat/,  diakses pada 19 Desember 2019, 20:37 Wita.

[4] https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20191212192024-199-456502/lukisan-gua-tertua-dunia-di-makassar-terancam-oleh-bakteri, diakses pada 19 November 2019, 22:47 Wita.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan