Bulan Sepotong Semangka di Atas Benteng Baru

TIGA ATAU empat kali perkelahian kecil terjadi malam itu di Rockfort, Kompleks Ruko New Zamrud No. C1, Jalan Andi Pangerang Pettarani, Makassar. Semuanya bermula oleh dua orang yang bergoyang sampai berbenturan, kala musik masih menggedor-gedor gendang telinga. Kalau sudah begitu, lingkaran kerumunan buyar sebentar, beberapa orang melerai, tapi sesaat kemudian lebih banyak yang bertepuk tangan. Mereka memberi salut, tanda perdamaian di antara yang berselisih barusan.

“Mereka hanya butuh dipeluk,” kata Sendy, salah seorang pengelola Rockfort. Nada bicaranya menekankan kata ‘dipeluk’. “Kalau sudah pelukan, … selesai!” sambung Sendy dan tertawa. 

Sendy benar. Perkelahian-perkelahian itu berlangsung satu-dua menit saja. Sendy selalu turun tangan kalau ada ribut-ribut kecil seperti itu. Sendy, dengan badannya yang cenderung kecil dan mata sayu kecapaian, malam itu harus berkeliling mengecek kalau-kalau ada yang perlu ‘ditangani’. Obrolan saya dan Indhar, vokalis Frontxside, yang sedang menceritakan rencana tur darat bandnya di seluruh jazirah Sulawesi dalam waktu dekat (meski masih mempertimbangkan banyak hal), harus terpotong. Indhar yang juga ikut bertanggung jawab di tempat itu, tak ayal harus lari menuju lokasi pergumulan. Hal yang lain dilakukan Yuri, basis Frontxside, untuk mencegahnya. Ia meraih pelantang (mic) kala jeda lagu, menyerukan kata ‘sundala’ di tiap ujung kalimat seruan untuk hentikan perkelahian. Dalam pengamatan saya dari jarak yang intim (yang pertama kali) malam itu, mereka lebih gampang diberi tahu untuk berhenti. “Pihak keamanan sering salah kaprah (terhadap mereka),” kata Sendy lagi.

Keributan-keributan kecil itu terjadi setiap konser skala kecil (gig), seperti “Distorsi Tanggal Merah #4” yang berlangsung pada malam 23 Juni 2019. Kelihatannya karena umat berbaju hitam ini tak sengaja saling bentur karena gaya yang macam-macam. Ada yang berputar-putar dan melayangkan tendangan atau bogem ke angin—mengingatkan saya pada gerakan dari film-film kungfu, menggeleng atau mengangguk repetitif (headbang), atau sesekali ada yang menolakkan tangan di lantai, kaki lurus menendang langit, dan berjumpalitan seperti gerakan senam. 

Perkelahian-perkelahian tadi juga diselingi pertolongan yang tanggap nan cepat. Seorang di antara pemuda-pemuda ‘tanggung’ yang bergoyang tadi tiba-tiba rubuh. Ia rubuh tergeletak di lantai ubin beton. Mereka yang terdekat segera menyibak kerumunan, menggotong atau menarik, lantas menepikan kawan mereka dan memberi air atau sapu tangan yang basah. Pemuda-pemuda itu terbujur karena beberapa sebab: kena tendangan (tanpa sengaja) karena gaya-gaya ‘kungfu’ dan ‘senam’ yang saya ceritakan tadi, tonjokan dalam perkelahian yang singkat, atau akibat dehidrasi.

Banyak di antara mereka yang datang ke Rockfort malam itu adalah anak muda berjaket (umumnya) hitam yang penuh emblem, beraksesoris gelang dan kalung spike, telinga ditindik, celana robek (ditambal emblem), dan bersepatu but. Mereka datang, antara lain, dari sekitaran Jalan Cendrawasih atau Sungguminasa dengan berjalan kaki berombongan dan segera berlanjut dengan goyangan yang menguras tenaga. Tapi kemudian, dengan membiarkan istirahat lima menit dan diberi minum, yang rubuh tadi sudah bangun lagi.

Para anak muda beristirahat sejenak usai bergoyang dengan macam gaya (Foto: Anwar Jimpe Rachman)

Gerakan-gerakan seperti itu tampak memang butuh ruang yang lapang. Namun mereka kini di kandang sendiri. Di benteng (fort) sendiri. Kawanan yang bergerak di bawah-tanah (underground) ini punya tempat sendiri sejak 2018 lalu, meski harus mereka tebus dengan harga yang cukup mahal. Pengelola Rockfort menyewa ruko dua lantai 6×8 meter yang menghadap ke Jalan Pettarani itu enam puluh juta per tahun. Menurut Indhar, harga itu adalah harga yang ‘wajar’ untuk kawasan Panakkukang yang terkenal mahal karena pusat pertumbuhan ekonomi Makassar. Ya, di Jalan Pettarani malam itu alat berat sedang bekerja siang dan malam untuk, katanya, pembangunan jalan tol.

Yang jelas, mereka tidak lagi harus ‘menumpang’ di tempat orang yang jelas membatasi gerak mereka, sebagaimana yang saya saksikan sendiri beberapa tahun sebelumnya. Tiga atau empat tahun silam, sesi mentas The Hotdogs, yang berpartisipasi dalam satu kampanye menolak reklamasi kawasan Pantai Losari, harus berhenti saat itu juga lantaran rusaknya beberapa kursi warung makan yang jadi tempat menggelar kampanye itu. Mereka yang mengkhidmati lagu Fami Redwan dkk waktu itu bergoyang dan melompat—memakai kursi plastik warung itu sebagai tolakan lompatan. Namun bukan kursi dan meja yang patah waktu itu. Dua perihal lain yang ikut remuk kala itu adalah upaya kampanye reklamasi (yang mungkin saja memicu antipati dari pihak lain) dan para pemuda itu bakal mengorbit kian jauh dari rumah mereka. 

Mereka adalah remaja yang dongkol dan tak tahu jalan pulang. Represinya keadaan rumah memicu mereka melesat ke luar pagar dan tumbuh di jalan. Klasiknya pepatah ‘tak kenal maka tak sayang’ terbukti lagi. Kebanyakan mereka, pemuda-pemuda tanggung yang jadi khalayak musik underground ini, menurut Fami Redwan, vokalis The Hotdogs, adalah ‘anak-anak yang pergi dari rumah’.  

Gelaran “Distorsi Tanggal Merah #4” Senin malam itu adalah konser kecil yang berisi godam yang bertalu-talu dari lagu-lagu yang dimainkan Homer, Heads Up!, Front to Fight, Discern Middle, Kamar Gelap, dan Frontxside—semuanya adalah kawanan musik dari sekitaran Kota Makassar. Acaranya dibuka dan digemparkan oleh Frontxside sebelum jam delapan. Masih ‘tepat waktu’-lah kalau merujuk pada jam karet manusia Indonesia yang kerap molor satu atau dua jam!

Penampilan pembuka Frontxside di Distorsi Tanggal Merah #4. (Foto: Anwar Jimpe Rachman)

Pada hari-hari biasa, Rockfort aktif mulai siang sampai tengah malam. Beberapa upaya kaum yang identik dengan baju hitam ini muncul di situ, sebagaimana layaknya kalangan muda lainnya, macam kedai kopi, kedai burger, meja biliar mini, sejumlah buku yang terpajang di rak, langit-langitnya ditempeli poster-poster musikus dunia, dan lantai dua yang menjadi studio musik. Lapakan lain juga muncul bila ada acara seperti ini.

Langit-langit Rockfort yang ditempeli poster-poster musikus dunia. (Foto: Anwar Jimpe Rachman)

Pengelola Rockfort jelas harus bersiasat dan menggarapnya dengan mengajak sekaligus membuktikan seberapa solid mereka. Gelaran malam itu bisa jadi contoh. Meski acara diumumkan gratis, Rockfort tetap menyediakan tempat menjual ‘tiket’ berbentuk stiker seharga Rp10,000. Dana seperti ini kemudian ditabung dan menjadi tambahan bila kelak tiba waktunya membayar sewa lagi. Malam itu, dari tiga ratusan orang yang hadir, enam puluhan di antaranya ‘membeli’ tiket.

Sebelum kerumunan tiga-empat ratusan orang itu selesai, sebelum bulan sabit potongan semangka muncul di ufuk timur sekisar pukul 23:00, “Distorsi Tanggal Merah #4” berlangsung di lorong yang mengantarai deretan kompleks Ruko Zamrud. Hanya Rockfort yang menggeliat Minggu malam itu, karena ruko lain selalu aktif Senin sampai Jumat cuma berfungsi sebagai kantor. Sabtu malam atau Minggu malam menjadi pilihan saat gelaran seperti ini agar tak mengganggu para tetangga. 

“Lihat itu,” kata Sendy menunjuk barisan pemuda di depan alat band yang sedang digeber personil Frontxside, “mereka itu berinisiatif sendiri jadi barikade,” lanjutnya pada saya, ketika kami di studio lantai dua Rockfort melihat kerumunan. Para pemuda ‘pagar’ itu mendesak dan mencegah para pemuda yang bergoyang tak terkendali itu agar tak sampai menyentuh dan mengenai alat-alat musik.

Upaya sekecil apapun punya risiko, termasuk kerusakan alat. Sendy menunjukkan pada saya beberapa instrumen rusak di studio itu. Bodi bas tergores, leher gitar yang patah, atau senar drum yang robek. Namun Sendy yakin, begitulah proses yang harus ia dilalui bersama kawannya. Itu juga rentetan risiko yang harus diambilnya bersama bersama kawan-kawannya demi kian mematangkan kancah musik bawah-tanah ini. Kian waktu pun mereka kian sadar. 

(Keyakinan Sendy sepertinya cepat terjawab. Dua minggu setelahnya, ketika gelaran “Sunday Chaos!” pada 7 Juli 2019, nyaris gesekan-gesekan itu sangat kecil—kalau tidak mau disebut tidak ada, meski goyangan mereka sama berbahayanya.)

Begitu “Distorsi Tanggal Merah #4” selesai, beberapa anak muda berpakaian punk dengan kantong sampah hitam di tangan, sibuk memunguti sampah-sampah yang bersebaran di bekas areal penonton konser. 

Apa yang berlangsung di Rockfort, meski mungkin saja tidak serupa, sejatinya adalah sama dengan yang biasa Anda alami di tempat konser underground lainnya di Makassar atau kota lain. Jeremy Wallach membandingkan aksi semacam ini dengan apa yang disaksikannya di kancah bawah tanah di negara asalnya, Amerika Serikat. Gerakan moshing orang Indonesia, kata Wallach, acapkali memiliki gerakan kolektif, mundur dan mengalir sebagai kesatuan. Berbeda dengan Barat yang memandangnya sebagai wujud individualisme yang merusak. Dengan begitu, tambahnya, di Indonesia gerakan ini dikomunalkan dalam konteks negeri ini, dan muncul untuk menandakan sentimen kolektif yang intens ketimbang kekhawatiran individu.[1]

Perihal ini pun sama ketika mereka dengan cepat segera berdamai sebagaimana yang saya ceritakan di bagian awal. Mereka seperti mafhum bahwa apa yang terjadi di dalam arena depan panggung adalah sesuatu yang lumrah dan tak perlu dibawa ke luar dari lingkaran—apalagi sampai berujung bentrok antar kelompok. Dugaan saya (yang mungkin didorong trauma pengalaman sehabis nonton konser pada era 1990-an) bakal ada bentrokan usai konser, sama sekali tidak terjadi. Mereka sadar bahwa mereka sedang berada di ‘rumah’ sendiri. Mereka berkubu di benteng sendiri.Kalau sudah melihat solidaritas mereka seperti ini, ujaran Sandy “Bangsat! Keren, kan?!” tentang inisiatif membuat barikade itu, jelas tak terbantahkan. Mungkin, bagi saya, pemuda-pemuda tanggung yang lari dari rumah itu sedang menikmati hangatnya satu rumah baru. Saya pulang dengan menatap bulan sepotong semangka di langit timur, seraya membayangkan warna merah dan hijaunya yang begitu ranum.


Anwar Jimpe Rachman, penulis-peneliti-kurator, bekerja untuk Tanahindie dan Penerbit Ininnawa.


[1] Jeremy Wallach, Musik Indonesia 1997-2001: Kebisingan & Keberagaman Aliran Lagu, Jakarta: Komunitas Bambu, Maret 2017, hal. 237.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan