Dari Hutan hingga ke Dapur; Rupa-rupa Pengobatan Warga di Bentang Wallacea

Apakah kamu punya pengalaman langsung menyembuhkan diri dengan pengobatan tradisional? Atau, kapan terakhir kali menengok ramuan herbal dan menjadikannya obat di kala sakit melanda? Dominasi sistem kesehatan modern membuat kita bergantung pada rumah sakit, dokter, dan obat-obatan kimia sebagai pilihan utama dan mungkin satu-satunya jalan dalam mencari kesembuhan penyakit. Wajar saja manusia panik ketika virus Covid-19 tiba-tiba menyerang. Dunia kesehatan goyah, para ahli medis kelimpungan akibat tidak siap menghadapi pandemi ini. Di tengah situasi yang tak menentu dan penuh ketidakpastian, banyak orang kembali menggali memori masa silam tentang pengetahuan pengobatan yang sempat terlupakan.

Siasat warga dalam merespons krisis ini memicu Makassar Biennale (MB) dan Tanahindie untuk menjelajahi kekayaan pengobatan tradisional yang terbentang di sepanjang wilayah segitiga Wallacea. Melibatkan 16 peneliti muda dari 6 lokasi berbeda (Makassar, Pangkep, Parepare, Bulukumba, Labuan Bajo, dan Nabire) selama September – November 2020, MB & Tanahindie mengadakan lokakarya penulisan daring dan luring untuk curah ide, informasi baru, dan temuan-temuan di lapangan. Hasilnya adalah kompilasi riset dalam satu buku berjudul Ramuan di Segitiga Wallacea: Siasat Pengobatan Warga Selat Makassar, Laut Flores, hingga Teluk Cendrawasih (Yayasan Makassar Biennale, 2020).

Upaya-upaya penyebaran gagasan dalam buku ini diupayakan lewat berbagai medium, salah satunya dengan menggelar Diskusi Buku. Rabu, 7 April 2021, Kota Makassar perdana menggelar forum diskusi buku Ramuan di Segitiga Wallacea bekerjasama dengan Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Hasanuddin (Unhas). Agenda ini menghadirkan para penulis di Makassar–Aziziah Diah Aprilia, Ipa Chadijah, Regina Meiciza Sweetly, dan Wilda Yanti Salam, Anwar Jimpe Rachman selaku editor buku dan direktur Makassar Biennale, juga dua akademisi Unhas, Tasrifin Tahara dan Agussalim Burhanuddin.

Tasrifin Tahara, seorang antropolog yang jadi narasumber diskusi buku “Ramuan di Segitiga Wallace: Siasat Warga Selat Makassar, Laut Flores, hingga Teluk Cendrawasih”.

Tasrifin Tahara, seorang antropolog, membuka diskusi dengan mengomentari buku ini sebagai “karya etnografi dengan paradigma antropologis tanpa perspektif teoretikal”. Saat seorang peserta bertanya lebih jauh jauh terkait metode penelitian, Aziziah Diah Aprilia, salah seorang penulis buku, menjawab jika metodenya berbeda dari setiap peneliti. Acuannya hanyalah apa-apa yang paling dekat dari kehidupan penulis atau yang pernah dialami langsung. Seperti Syahrani Said dalam risetnya berjudul “Sepasang Tangan untuk ‘Kehidupan Kedua’”, menuliskan tentang kisah ibunya sendiri yang memiliki kemampuan mengobati bayi melalui pijatan selama lebih dari 20 tahun. Juga Ipa Chadijah, memilih untuk menelusuri ilmu pengobatan tradisional khas Tionghoa di toko obat Setia Budi yang berada di kawasan Pecinan, tempat tinggalnya. Jika sedang sakit, Keluarga Ipa biasanya berobat ke Bunda Iin, sang pemilik Setia Budi.

Keseluruhan isi tulisan dalam buku sesungguhnya telah menggambarkan metodologi penelitian etnografis meski tidak ada penjabaran secara eksplisit terkait teori ataupun pendekatan yang digunakan. Setidaknya demikian pendapat dari Tasrifin Tahara.

Memang sejak lama, Tanahindie telah menerapkan prinsip anti-scholar. “Membaca itu jadi larangan pertama saat ikut workshop di Kampung Buku (perpustakaan yang diasuh Tanahindie),” tegas Anwar Jimpe Rachman, penanggung jawab Tanahindie sekaligus editor buku Ramuan di Segitiga Wallacea. Menurutnya, membaca teori-teori di buku sebelum ke lapangan dan bertemu warga akan menjadikan peneliti menyimpan asumsi awal di kepalanya. Asumsi ini yang menghambat proses penelitian karena telanjur memiliki konsep baku sehingga sulit menerima kenyataan atau informasi baru di lapangan. Menulis dahulu, membaca kemudian.

Selain tulisan, bentuk riset yang mereka hasilkan juga dipublikasikan lewat medium foto dan video. Peneliti menuntut dirinya sendiri untuk multitasking; mewawancara, merekam video, dan mengambil dokumentasi foto secara mandiri. Sayangnya, video tentang penelitian dari Regina Meiciza Sweetly berjudul “Mencari Tina’ di Toraja” dicabut oleh pihak Youtube karena dianggap sebagai “misinformasi medis terkait Covid-19” Padahal, video tersebut menceritakan tentang perjalanan Regina menemukan daun tina’, tanaman yang ampuh mengobati luka dalam maupun luka luar.

Selama berkeliling di desa-desa Toraja, Regina mengatakan bahwa “kode etik” nomor satu dalam penelitian adalah empati. Peneliti menjadi bagian dari warga dengan cara mengobrol bersama orang tua, menyesuaikan diri, dan berbaur langsung dengan orang-orang di sekitar. “Apa yang mereka masak, itu juga yang saya makan,” tuturnya. Sama halnya dengan Wilda Yanti Salam selama menuliskan “Bedak Belukar, Pengobatan dari Dapur”. Wilda berkunjung ke rumah Ibu Nurmala Belukar, sang peracik bedak, dan menyaksikan langsung tahapan pembuatan bedak dari dapur. “Karena waktu itu Ibu lagi masak, jadi saya juga ikut bantu masak sambil cerita-cerita di dapur,”

Di satu sisi, etnografi memang membantu manusia memahami nilai-nilai yang berlaku di suatu komunitas tertentu secara konstekstual. Di sisi lain, kerja-kerja etnografis tidak bisa berdiri sendiri. Salah satu peserta diskusi menawarkan untuk berkolaborasi dengan keilmuan sastra lisan Makassar untuk mengindentifikasi bacabaca atau mantra yang warga gunakan dalam proses pengobatan. Karena itu, penting kiranya untuk melanjutkan dan membangun wacana dari berbagai lintas disiplin ilmu. Apalagi dalam buku ini, peluang transfer pengetahuan lebih luas karena merangkum beragam bentuk pengobatan di Indonesia Timur.

Agussalim Burhanuddin, dosen Hubungan Internasional Unhas.

“Kita melihat dari tulisan teman-teman, mengeksplorasi bahan-bahan pengobatan tradisional yang bersumber dari tumbuh-tumbuhan herbal,” papar Agussalim Burhanuddin, dosen Hubungan Internasional Unhas. Karakteristik alam di Asia Tenggara dengan hutan hujan dan kekayaan bahari menjadi faktor pendukung beragamnya tanaman herbal di Indonesia. Terbukti dari latar lokasi penelitian yang dilakukan di Makassar, Pangkep, Parepare, Bulukumba, Labuan Bajo, dan Nabire, peneliti menemukan aneka ragam penyembuhan dari olahan bahan organik. Warga mengolah berbagai jenis tumbuhan dari alam menjadi obat-obatan mujarab. Fauzan Al-Ayyuby menguraikan tentang kebiasaan warga Nabire menggunakan daun nabarure atau daun waru untuk mengeluarkan darah kotor di dalam tubuh. Nabarure yang berkhasiat untuk mengobati berbagai jenis penyakit, tumbuh liar di sepanjang pesisir pantai di Nabire. Ada pula warga yang menjadikan halaman rumah sebagai “apotek hidup”. Rafsanjani mengisahkan seorang peramu herbal di Makassar bernama Erwin Sofyan yang memelihara berbagai tanaman obat; sereh, cocor bebek, jahe, binahong, dan banyak lainnya, di pekarangannya sendiri.

Agussalim Burhanuddin juga menguraikan sistem pengobatan tradisional di kawasan Asia Tenggara. Praktik pengobatan tradisional menekankan pada belief,  berbeda dengan kesehatan modern yang berpijak dari evidence atau bukti ilmiah. Dalam dunia kesehatan tradisional, kesembuhan pasien sangat bergantung dari tingkat kepercayaannya terhadap sang penyembuh dan proses pengobatan yang mereka jalani. Kata Orang Bugis, de’ mulle sau ku de’ mu mateppe’ yang berarti, “kamu tidak akan sembuh jika kamu tidak percaya”.

Hingga saat ini, warga masih sangat meminati metode pengobatan tradisional. Alasannya beragam, salah satunya karena lebih aman dan murah. Hal ini juga berkaitan dengan prinsip hidup yang mengedepankan sistem organik dan menghindari bahan-bahan kimiawi. Lembaga Kesehatan Dunia (WHO) dan pemerintah nasional telah mengakui metode pengobatan tradisional sebagai bagian dari dunia kesehatan. Pemerintah pun melegitimasi berjalannya praktik pengobatan tradisional, seperti yang Anjar S. Masiga jabarkan dalam tulisannya berjudul “Tepu, Penolong Pertama Ibu Hamil di Kahayya”, Dinas Kesehatan Bulukumba memiliki program Kesehatan Tradisional untuk mendukung praktik pengobatan tradisional dengan memanfaatkan tanaman yang dilakukan oleh warga lokal, salah satunya Tepu.

Rupa-rupa siasat warga dalam menyembuhkan diri,kesemuanya mengolah sumber yang telah alam sediakan untuk manusia. Dari hutan, pekarangan, hingga masuk ke dapur, komunitas lokal memberdayakan diri dan lingkungan lewat pengetahuan yang telah diwariskan sejak dulu kala. Tulisan-tulisan dalam buku ini menunjukkan betapa beragamnya laku pengobatan tradisional warga Indonesia Timur, meski masih kerap diabaikan oleh “pusat”.

Sampul buku dengan ilustrasi dua lelaki Papua yang sedang menggosok punggung memakai daun waru, mencoba menggambarkan narasi perlawanan ini. Anwar Jimpe Rachman menuturkan di akhir sesi diskusi, “Papua itu, kan, mataharinya paling cepat terbit. Mereka paling cepat bangun dan bekerja dibanding yang lain. Tapi kenapa untuk segala hal dalam kehidupan bernegara, mereka selalu terbelakang?”

Raraa Rahmawati, tim Makassar Biennale 2021

Bagikan:

Tinggalkan Balasan