, ,

Tamasya (yang Tidak) Singkat ke Studio Musik: Makassar 1980 – 2000

Intro; Skena Musik (Ditulis) Sekenanya

Skena musik di Kota Makassar pada era 1980-an tak banyak berbeda dengan dengan kota lain di luar Pulau Jawa, punya semangat dan cita-cita besar namun sulit berkembang. Ada beberapa yang saya tengarai sebagai sebab: [1] dikerdilkan oleh sentralisasi;  [2] sebelum perangkat musik digital sebaik sekarang, musisi-musisi daerah kesulitan berkarya sebab kurangnya fasilitas, seperti instrumen musik yang masih terbilang mahal;  [3] tempat pertunjukan yang minim mengakibatkan musisi tak punya banyak panggung untuk berekspresi, [4] perusahaan rekaman (major label) yang hanya ada di Ibukota memperparah keadaan, dan [5] upaya self-publishing nyaris mustahil. 

Sampai akhir era 80-an belum banyak studio latihan di Makassar. Berdasarkan ingatan Arsan Jaya, yang akrab disapa Cacang, saat masih duduk di bangku SMP tahun 1986, selain rumahnya di Jumpandang Plan, ada dua studio tempat ia dan bandnya biasa berlatih yakni Cunnaa di Jalan Pelanduk dan S70 di Jalan Sudirman. Tercatat juga beberapa studio lain di antaranya QLC Studio di Jalan Kelinci (berdiri tahun 1991) dan Studio Cuckoo. Kurangnya fasilitas latihan sedikit banyak tentu berpengaruh pada perkembangan skena musik, padahal menurut Stephanie Pitts (2005:53), proses latihan, bagi sebagian orang, memberikan kepuasan yang sama bahkan kadang lebih dibanding penampilan di panggung. 

Musik tak semata berfungsi sebagai hiburan, tapi juga punya fungsi sosial. Sebagai salah satu media komunikasi dan ekspresi artistik, musik juga merekam sentimen komunal dan pengalaman kolektif yang punya kemampuan menyelaraskan ritme ribuan bahkan jutaan orang sekaligus. Salah satu fungsi seni termasuk musik adalah merekam ingatan-ingatan masyarakat, realitas sosial dan harapan-harapan publik tentang selera, gaya hidup dan nilai-nilai yang dianut, setidaknya seni dapat merefleksikan konteks budaya, sosial dan mungkin juga politik saat karya tersebut dicipta. Mengabaikan seni dan sejarahnya sama saja dengan mengabaikan warisan budaya sendiri, untuk itulah tulisan ini dibuat.

Verse I; Buka sampai Pagi

Studio N’dels mulai digagas pendiriannya sekitar tahun 1992 oleh Cacang dan dua orang bersaudara, Aby dan Accung. Salah satu alasannya karena Studio S70 dan Cuckoo berhenti beroperasi, sementara belum ada studio latihan lain yang cukup memadai dan terbuka dari pagi sampai larut malam. 

Setelah berbagai persiapan akhirnya N’dels resmi beroperasi kisaran tahun 1993 di Jalan Andalas. Studio ini mengandalkan mixer delapan channel merk Boss yang dibeli dengan pinjaman Rp 500.000 dari anak pemilik usaha transportasi Sinar Wahyu, yang pembayarannya dicicil oleh Cacang dari hasil main band. 

Berita terbukanya sebuah studio latihan baru menyebar cepat di antara anak-anak band Makassar. Bahkan Dinasti, salah satu band populer saat itu, datang hendak menyewa studio sebelum betul-betul siap beroperasi. 

Sejak dibuka untuk umum, N’dels selalu ramai. sebab saat itu belum banyak pilihan dan mungkin juga sebab studio itu dikelola oleh anak muda sesama musisi. Selain tempat latihan bermusik, N’dels juga dirancang sebagai tempat nongkrong dan bertukar informasi anak-anak muda terutama yang gemar bermusik. Di tempat itulah banyak anak band saling mengenal dan saling bantu, tak hanya berbagi cerita dan pengalaman tapi juga berbagi informasi, bahan bacaan dan referensi lainnya. Tak jarang pula saling pinjam instrumen musik dan aksesoris, bahkan bertukar anggota band. Sentimen komunal dan pengalaman kolektif bisa lahir dari bermusik;

Music, then, represents a remarkable meeting point of intimate and social realms. It provides a basis of self-identity (this is who I am, this is who I’m not) and collective identity (this is who we are, this is who we’re not), often in the same moment. All cultural products have this potential –films, television programs, even shoes and cars. Yet music’s seemingly special link to emotions and feelings makes it an especially powerful site for the bringing together of private and public experience. (Hesmondhalgh, 2013:2)

Antusiasme besar anak-anak band mendorong N’dels berkembang dari hanya sekadar tempat latihan, meski dengan alat sederhana Studio N’dels juga sempat menjadi tempat rekaman Apache dan Big Mania. Cacang hanya mengandalkan multi track bekas bermerek Tascam yang diperolehnya di Bandung seharga Rp 350.000 (harga sebungkus rokok saat itu menurut perkiraan Cacang masih Rp 2.500). Perekam pita magnetik multi track mulai digunakan tahun 1954, dengan teknologi awal hanya memiliki dua track lalu pelan-pelan bertambah menjadi 24, 32 bahkan 64 track (Peter Wicke, 1990: 5). Apache mendapat kehormatan menjadi band pertama yang menjajal multi track ‘baru tapi bekas’ itu. Meski punya empat track, tapi cuma tiga yang bisa digunakan sebab satu track rusak. 

Apache beranggotakan Lobow (vokalis), Erick & Opi (gitaris), Aan (keyboard), Ivan (bass), dan Firdie (drum) ini merekam satu lagu antara tahun 1993-1994. Bermodal satu lagu demo itu, menurut Opi—nama akrab Andi Taufiq, Apache sempat setahun merantau ke Jakarta menawarkan lagu tersebut ke beberapa perusahaan rekaman (label mayor). Meski sempat jadi band pembuka Voodoo Band, mimpi mereka kandas sebab orang yang mengurus mereka di sana meninggal karena kecelakaan. Opi dan Aan pulang ke Makassar; Erick, Ivan dan Firdie tetap bergerilya di kafé-kafé di Jakarta; sementara Lobow belakangan popular lewat lagu Kau Cantik Hari Ini hingga kini memilih bersolo karir.

Kelompok lain yang sempat merekam lagu-lagu ciptaan sendiri adalah Big Mania, beranggotakan Bian (vocal), Sunil (gitar), Utta & Rini (kibor), dua orang bersaudara Cacang (bass) dan alm. Ardi (drum) ini merekam album berjudul Masa Kecil. Album yang diproduksi 1990-an ini, selain beredar dari tangan ke tangan, juga dititip-jual di toko MMC (Makassar Mall Cassette), toko kaset milik Asri yang juga manajer Big Mania. 

Setelah lama wara-wiri di kafe-kafe dan musik-musik kampus di Makassar, formasi Big Mania berubah. Cacang memilih hengkang karena berniat lebih fokus mengurus studio agar bisa membantu lebih banyak band. Formasi lama Big Mania hanya menyisakan Sunil, sang gitaris, lalu posisi lain diisi Sondak (drum), Ulli (bass), Opi (gitar), Oki-Mimi-Nini (vokal), dan alm. Buyung (kibor). 

Dengan formasi ini, Big Mania berubah, yang tadinya hanya memainkan lagu-lagu rock menjadi band all around, istilah yang disematkan pada band yang membawakan lagu-lagu top 40 (lagu-lagu yang sedang populer di radio) apapun genre-nya. Perubahan ini terjadi karena Big Mania berusaha beradaptasi dengan kebutuhan pasar. Saat itu di Makassar mulai banyak cafe live music yang membutuhkan home band, sementara menjadi band indie belum punya prospek yang menjanjikan. Belakangan Big Mania formasi baru ini memilih Studio 52 sebagai tempat nongkrong dan latihan resmi mereka. 

Antusiasme anak band Makassar berlatih mengasah skill dalam studio sangat besar masa itu. Cacang tak mampu lagi mengingat ratusan nama band. Soalnya bukan cuma band jadi yang gentayangan di sana, tapi juga anak-anak SMP, SMA dan mahasiswa. N’dels jadi tempat nongkrong titik temu anak muda yang sama-sama menggemari musik. Kesuksesan studio ini berefek domino. Makin banyak band yang terbentuk mendorong makin banyak festival dan pertunjukkan musik, lalu bermunculan pula banyak studio-studio latihan lain yang pada akhirnya mendorong lebih banyak lagi band yang terbentuk.

Verse II; Kesempatan Datang Lebih Cepat Dibanding Kesiapan

Pon Novia Satria mengaku sudah menyukai musik sejak masih duduk di bangku SMP tahun 80-an. Saat SMA, dia sering nongkrong dengan sesama penggemar Iwan Fals di Jalan Andalas (kelak menjadi studio N’dels). Ia juga sangat suka menonton pertunjukan musik seperti musik kampus dan festival-festival band yang kala itu paling sering digelar di Balai Kemanunggalan ABRI dan Rakyat di Jalan Sudirman. Rentang masa itu, menurut Mas Pon, juga diwarnai pertunjukan musik di kafe atau bar yang menyajikan band lokal seperti Apache dan Big Mania yang rutin bermain di Kareba Cafe, Losari Beach. Lewat kegemarannya itulah Mas Pon berkenalan dengan Cacang, yang saat itu masih bermain bas di band Crudut.

Saat menyelesaikan studinya di Sastra Inggris, Universitas Hasanuddin, sekitar tahun 1997, Pon mengajak Mufaddal, teman kuliah seangkatannya, membuka usaha. Setelah berdiskusi panjang dengan Cacang, mereka bertiga sepakat mendirikan studio musik. Fahd sebagai pemilik modal, Cacang bertanggung-jawab urusan teknis dan segala tetek-bengeknya, sedang Pon harus merelakan rumahnya di lorong antara Jalan Cakalang dan Jalan Tinumbu disulap menjadi studio latihan musik. 

Meski terletak di lorong sempit namun cita-cita dan gagasan, yang mereka rancang sejak awal tahun 1997 itu, sangatlah besar. Tak seperti studio-studio musik sebelumnya, studio yang mereka beri nama Studio 52 itu tak dirancang menjadi studio latihan saja, namun lebih profesional dan lebih lengkap; mulai dari tempat latihan, kursus musik, studio rekaman, rental sound system, toko alat musik bekas dan baru, agensi dan band management, dll. Pon menyebutnya dengan istilah One Stop Entertainment

Menjelang akhir tahun 1997 rencana pembelian alat-alat musik harus mereka tunda, sebab krisis melanda Indonesia yang mendorong harga-harga barang impor mulai melambung. Mereka masih berharap nilai tukar Rupiah segera menguat. Sayangnya malah makin buruk. 

Awal tahun 1998, karena situasi ekonomi tak kunjung membaik, mereka putuskan tetap melanjutkan rencana. Anggaran yang tadinya cukup untuk membeli alat-alat ‘paten’, istilah masa itu untuk menyebut kelayakan perangkat untuk skala studio profesional, terpaksa harus diturunkan levelnya menjadi alat rakitan Surabaya yang lebih terjangkau. 

Meski sempat terganggu oleh krisis ekonomi, menurut Pon, mereka cukup beruntung karena kesempatan selalu datang lebih cepat dibanding kesiapan. Pada  akhir Maret tahun 1998, misalnya, Studio 52 diminta mendukung acara ulang tahun PERISAI (Perhimpunan Mahasiswa Sastra Inggris) Unhas. Sebagai alumni, Pon dan Fahd tak bisa menolak, walaupun saat itu belum semua peralatan yang telah mereka beli tiba di Makassar. Kesuksesan kegiatan yang berlangsung di Lapangan Basket Karebosi itu menebalkan keyakinan mereka untuk tidak menunda lagi pengoperasian Studio 52 meski situasi Indonesia masih belum menentu kala itu. Terbukti Studio 52 selalu ramai. 

“Banyak orang menyukai latihan di sana sebab peralatannya masih baru, ruang latihan luas dan nyaman untuk ukuran tahun segitu dan harga sewanya terjangkau kantong anak-anak sekolah, Rp 5.000/jam,” kenang Pon. Band yang sering latihan di sana antara lain Tazoos, Big Mania, de Bows, Kiri The PunK, Wakas, Roti Ta’ 100, dll.

Penyewaan sound system juga adalah kesempatan yang datang lebih cepat dibanding kesiapan. Baru setahun beroperasi, Studio 52 terpaksa berimprovisasi melayani rental sound system. Pada pertengahan tahun 1999, Agus, adik Pon, dipilih teman-temannya menjadi ketua seksi perlengkapan acara perpisahan SMA 1 Makassar. Permintaan yang sebenarnya belum sanggup dilayani Studio 52. Alatnya hanya cukup untuk studio latihan, belum memadai untuk pertunjukan musik besar. Agus tak mau tahu. Studio 52 harus bisa menyiapkan sound system, sebab Agus enggan pakai alat lain. 

Pon dan Cacang kemudian terpaksa berpikir keras merancang sebuah sistem yang memadai berdasarkan jaringan. Setelah berkeliling Makassar menyurvei. Akhirnya kebutuhan peralatan tersebut bisa dipenuhi dengan menggabung-sambung alat-alat studio dan milik pribadi yang ada di Makassar, mulai Studio 52, N’dels, Orkes Melayu Show Mega, dan beberapa instrumen dan efek milik pribadi musisi yang sering nongkrong di N’dels atau Studio 52. 

“Dulu kalo loading alat kita keluar Studio 52 hanya bawa box kabel sama gitar satu biji. Kalau zaman perjuangan itu bisa mi disebut ‘gerilya’,” kenang Cacang sambil tertawa. 

Penyewaan sound system sebenarnya belum ingin digarap serius saat itu. Namun acara perpisahan SMA 1 itu ternyata disaksikan oleh banyak siswa dari SMA lain yang ingin tahu bagaimana acara yang berlangsung di Balai Manunggal itu diselenggarakan. Tak lama kemudian permintaan penyewaan sound system makin banyak masuk ke Studio 52, dari anak-anak band yang sering latihan di N’dels dan 52, tapi terutama dari anak-anak SMA yang tak mau kalah mentereng dari SMA 1. 

Seiring permintaan yang kian besar, pelan juga jaringan Studio 52 makin luas. Belakangan beberapa studio ikut bergabung dalam koalisi di antaranya; RnB (Jalan Pongtiku), Impressive (Jalan Nikel), Bfive (Jalan Cendrawasih), dan alat-alat dari studio pribadi milik Echang Monster, dan alm. Gunung Sumanto. 

Kongsi beberapa studio ini terbukti ampuh mempopulerkan studio-studio latihan musik yang ada di Makassar waktu itu, sekaligus membesarkan daya (dalam hitungan watt RMS) penyewaan sound system. Seringnya alat Studio 52 disewa di berbagai pertunjukkan musik juga makin mendekatkan Studio 52 dan sekutunya pada anak band Makassar. 

Pada akhir era 90-an, meski di Makassar tak ada perusahan rekaman dan distribusi besar, kreativitas dan daya imajinasi anak muda tak bisa dibendung, Mereka ingin berekspresi merekam karya-karyanya. Berdasarkan ingatan Cacang, yang sempat merekam karya-karyanya di Studio 52 adalah Sahulika (solo), Hotdog, Sexpunk, Exphobia, Blues fresh, Tifosi, dll. Waktu itu, Studio 52 sudah memiliki alat rekam bermerek Tascam yang lebih baik dibanding yang digunakan Cacang kala rekaman di N’dels.

Tifosi dibentuk sekitar tahun 1999. Waktu itu, Ahmad Idrus Mohe atau Moed (eks basis & vokalis Tazoos) yang baru pulang dari Bandung, merekam lagu karyanya berbekal software digital recording Cakewalk di rumahnya di Bukit Baruga, lalu diperdengarkan pada mendiang Ardi (eks drummer Big Mania) yang kala itu masih merekam dengan teknologi analog. Tertarik dengan hasil rekam teknologi baru itu mereka berdua akhirnya sepakat membentuk band mengajak dua orang rekannya, Opi (juga eks Big Mania, gitar) dan Carlo (kibor) lalu mulai merekam lagu-lagu karya mereka di tiga tempat: studio pribadi Moed (Bukit Baruga), studio pribadi alm. Ardi & Cacang (Antang), dan take drum di Studio 52. Dari sepuluh lagu yang mereka rekam tiga lagu di antaranya dikirim sebagai demo ke berbagai perusahaan rekaman mayor dan radio FM di Makassar. Salah satu lagu mereka berjudul “Kau” rupanya lolos kurasi album Indie Ten 3yang dirilis oleh Sony Indonesia pada tahun 2003. Proyek album kompilasi yang pada edisi sebelumnya sukses melambungkan nama-nama seperti Wong, Caffeine, Cokelat dan Padi. 

Tifosi lalu berangkat ke Jakarta untuk menandatangani kontrak dan merekam ulang lagu tersebut di studio milik Sony Indonesia. Sepulang dari Jakarta rupanya demo yang mereka kirim ke radio diputar dan menjadi hits di radio Madama dan Sonata, radio yang banyak didengarkan anak muda kala itu. Mereka sama sekali tak menyangka single yang populer malah “Romansa” bukan “Kau” yang dipilih Sony. Setelah kontrak selama setahun bersama Sony telah habis durasinya, Tifosi memutuskan merilis sendiri album bertajuk Jalani Kisah Kita berisi sepuluh lagu, di antaranya Kerinduan, Jalani kisah kita, Kawan, Memori, dan Romansa. Album yang menurut pengakuan Moed terjual hingga ribuan kopi, salah satunya berkat kerja sama dengan salah satu brand rokok besar yang mensponsori perilisan album dan tur mereka keliling Sulawesi Selatan. 

Pada awal tahun 2000-an, tak hanya Tifosi yang sukses menggaet perhatian publik Kota Makassar. Masih ada nama-nama seperti Bfive, Ribas, Art2Tonic, Loe Joe, dll. Industri musik yang kala itu mulai bermigrasi dari teknologi analog ke digital rupanya memudahkan (dan memurahkan) musikus Makassar merekam, memproduksi dan mendistribusikan karya mereka sendiri. 

Verse IV; Kisah Menggapai 1001 Cita

Loe Joe sebenarnya sudah terbentuk sejak tahun 1993 sebagai band sekolah SMA Negeri 8 Makassar. Menurut Oscar, gitaris sekaligus pendiri band, waktu itu Loe Joe sering latihan di Studio N’dels. 

“Tarif latihan tempo hari masih, saya masih dapat, harga lima ribu rupiah per jam,” kenangnya. 

Pada awal tahun 1998, lewat seorang teman, Oscar dikenalkan pada Cadda. Saat itu Cadda yang baru pulang dari Yogyakarta sedang mencari alat musik karena hendak mendirikan penyewaan studio latihan. Sambil menunggu bangunan studio selesai, seperangkat alat musik yang mereka beli itu dipakai Loe Joe berlatih di teras rumah atau sesekali di ruang tamu bila pemilik rumah di Jalan Landak (sekarang Jalan Andi Djemma) itu sedang pulang kampung. 

Sejak itu setelah sempat vakum setahun, Loe Joe mulai aktif lagi dengan formasi Oscar dan Wawan (gitar), Adi (drum), Ipung (bass), dan Erwin (vokal). Formasi ini rajin mengikuti festival band. 

Seingat Oscar, alat yang sering dipakai waktu itu adalah Studio 52 dan Cunnaa. Awal tahun 2000-an, Maman bergabung menggantikan Ipung. Masa itu festival musik sedang ramai di Makassar. Persaingan antar band sangat ketat. Beberapa band dari berbagai genre yang rajin ikut festival seperti Mr. X, Fosil, Reptil, Wakas, Caplok dll. 

Pada tahun 2001, dengan mengandalkan lagu ciptaan sendiri, ‘Menggapai Cita’, Loe Joe ikut festival musik rock yang diselenggarakan oleh Log Zhelebour, promotor sekaligus pemilik label Logiss Record yang melambungkan banyak band di kancah musik rock nasional seperti God Bless, El Pamas, Power Metal, Power Slaves, Andromeda, Edane, Boomerang, sampai Jamrud. 

Pada saat persiapan, Loe Joe yang waktu itu beranggotakan Ikhsan (vokal), Oscar (gitar), Maman (bass), dan Edi (drum), kerap dikunjungi oleh musisi-musisi senior di antaranya Arlan (Arfa’s) dan alm. Rudi (Anggewa), mereka memberi banyak masukan padahal keduanya juga akan ikut bersaing bersaing di festival yang sama.

Penyisihan regional berlangsung di gedung Terminal One (eks bioskop Arini, Jalan Rusa). Makassar jadi kota dengan jumlah peserta terbanyak kala itu. Oscar memperkirakan sekitar 70-an band dari berbagai daerah Sulawesi selatan dan sekitarnya ikut mengadu skill dan nasib. 

Babak selanjutnya yang dihelat di Stadion Mattoanging tersisa sepuluh band di antaranya Loe Joe, MECK Prosound, Arfa’s, Chicox (kemudian berganti nama jadi Wakas) Reptil, Exphobia, Indonesia Baru (Pinrang) dan Kaledo Sop (Palu). Arfa’s band keluar sebagai juara pertama dan Loe Joe sebagai runner up. 

Tiga bulan kemudian kedua band itu diadu lagi dengan wakil regional lain di Stadion Tambaksari, Surabaya. Makassar mencetak sejarah waktu itu. Dua wakilnya berhasil menembus sepuluh besar, prestasi yang belum pernah dicapai oleh band-band Makassar di delapan edisi sebelumnya. Loe Joe bahkan berhasil keluar sebagai juara dua sekaligus menyabet gelar pembetot bas terbaik. Kesuksesan itu membawa rezeki bagi mereka. Loe Joe kebanjiran job. Tak hanya di Pulau Sulawesi, mereka melanglang buana ke Kalimantan bahkan ke Pulau Ambon, yang waktu itu baru saja mengakhiri konflik berdarah.

Pada tahun 2004 Loe Joe kembali ambil bagian di Festival Rock Log Zhelebour, berbekal lagu Kisah 1001 Malam, yang terinspirasi dari Perang Teluk yang berkecamuk sejak setahun sebelumnya. Loe Joe, dengan Ambie sebagai vokalis baru, kali ini ditemani Indonesia Baru, sekali lagi berhasil mewakili Makassar dan bahkan menyabet juara tiga.

Saat ini Studio Loe Joe masih beroperasi sebagai studio latihan dan rekaman. Oscar pelan-pelan mengurangi aktivitas ngebandnya dan lebih memilih membantu musikus muda Makassar merekam dan mengekspresikan karya-karya mereka. 

Outro; (Jangan Hanya) Sampai di Sini Saja

Persoalan yang dihadapi tiap generasi hampir pasti berbeda, dan tiap generasi punya jalan keluarnya sendiri-sendiri. Perkembangan teknologi di berbagai bidang termasuk industri musik dan media massa tentu juga punya masalahnya sendiri, namun bila piawai memanfaatkannya, kemudahan-kemudahan itu bisa jadi peluang mencipta skena yang lebih kreatif dan inklusif. Usia skena musik populer Makassar mungkin masih terbilang muda, namun kebeliaan bisa juga berarti semangat yang masih bernyala-nyala. 

Ayolah semua…

Ayunkan langkahmu…

Jangan kau terdiam

Terpaku terlena

Teruslah melangkah

Hilangkan ragumu…

Waktu trus berlalu…

Jangan buang waktu mu…

Yakinlah waktu kan berganti

Bersama arungi hidup baru

Hilangkan rasa putus asa…

Ku pasti kau akan menggapainya

(Menggapai Cita)

Ade Cakra Irawan

Referensi

Pitts, Stephanie. 2005. Valuing Musical Participation. Aldershot: Ashgate Publishing Limited.

Hesmondhalgh, David. 2013. Why music matters. Chichester, West Sussex: Wiley-Blackwell.

Wicke, Peter. 1990. Rock Music. Culture, Aesthetics and Sociology. New York: Cambridge University Press.

Wawancara

Pon Novia Satria, Januari 2023

Arsan Jaya, Januari 2023

Oscar, Februari 2023

Ahmad Idrus Mohe atau Moed, Februari 2023

Andi Taufiq atau Opi, Februari 2023

Ilham Aditya Pratama atau Cunni, Februari 2023

Bagikan:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *