FindArt Space dan Mitos Buaya di Sungai

“Visual tidak penting. Yang lebih penting adalah bahagia”

Ahmad Anzul

Konsepsi tentang apresiasi seni seringkali menjebak kita melihat segala sesuatu hanya sebatas visual saja. Lantaran terpaku pada daya pesona visual, kita lupa masuk ke dalam karya yang oleh Ahmad Anzul disebut sebagai pintu untuk melihat hal-hal yang lebih luas dibicarakan untuk menjangkau kemungkinan-kemungkinan yang lain.

Ahmad Anzul tergabung dalam FindArt Space bersama Ahmad Fauzi dan Amrullah Syam. Ketiganya adalah seniman Makassar yang membuka studio di daerah Antang, Makassar, dan menjadi gerakan kesenian yang sifatnya edukatif. Tak jarang, mereka masuk ke dalam lingkaran pendidikan formal untuk menutupi kebocoran pada sistem kurikulum kita yang hanya menjadikan pelajaran seni dan budaya sebagai lubang yang biasanya hanya ditutupi oleh guru-guru yang waktu mengajarnya lagi kosong.

FindArt Space membuat gerakan yang diberi nama “Artist Goes to School” pada 2014 sampai sekarang. Mereka membawa beberapa seniman untuk mengajar di sekolah-sekolah dari mengajar melukis, hingga hal-hal lain menyangkut kesenian yang kadung tidak diisi oleh kurikulum pendidikan. Selain “Artist Goes to School”, mereka juga menginisiasi beberapa gerakan kesenian seperti “Binne Makassar” (2014), “Makassar Art Day” (2015), dan “Artwork in Rotterdam” (2017).

Selain edukasi, mereka juga turut menyemarakkan perkembangan kesenian di Sulawesi Selatan dengan menyuplai alat-alat kesenian yang diproduksi sendiri. Cukup dengan membeli alat dan bahan di studio FindArt Space, orang-orang sudah bisa ikut mempelajari hal-hal teknis soal melukis, atau belajar soal konsep-konsep kekaryaan. Selain itu, FindArt Space juga mengerjakan karya lintas media seperti kipas untuk pengantin atau karnaval, atau yang dapat kita temui pula patung Mahatma Gandhi, Nelson Mandela, dan Syekh Yusuf di Pantai Losari.

Perkembangan kesenian tentunya tidak lepas dari infrastruktur dan edukasi. Keduanya coba diisi oleh FindArt untuk menegaskan kemandirian dalam berksenian. Alih-alih mengeluhkan infrastruktur, FindArt Space menyediakan ruang bersama untuk belajar soal kesenian, dan tentunya sebagai gerakan seni yang edukatif–mereka masuk mengintervensi kurikulum pendidikan yang absen melihat kesenian dan budaya sebagai sesuatu yang penting.

Ketika masuk ke dalam ruang formal yang tidak cair, FindArt Space justru menggunakan metode-metode yang lebih cair dengan membebaskan setiap anak untuk mengimajinasikan apa yang ingin dituangkan dalam proses berkarya. Terlebih dahulu mereka dituntun untuk mengingat hal-hal di sekitar mereka, agar karya yang mereka buat lebih ekspresionis dan punya rasa.

“Anak-anak itu mesti diajari cara belajar,” kata Ahmad Fauzi, salah seorang seniman yang tergabung dalam kolektif seni FindArt Space. FindArt Space punya keinginan untuk menghidupkan kesenian sejak dini pada warga Kota Makassar. Keinginan-keinginan itulah yang menuntun mereka bergerak dan berinisiatif.

Inisiatif-inisiatif FindArt Space dilihat oleh Makassar Biennale yang kemudian mengajak mereka ikut berpartisipasi sebagai seniman. Sebelumnya, Ahmad Anzul sendiri terlibat sebagai seniman di Makassar Biennale 2017 dengan karya instalasinya bertema “Kampung Garam #107”. Dan di Makassar Biennale 2019, Ahmad Anzul terlibat secara tim di FindArt Space, dengan mengangkat tema Sungai, salah satu sub tema dari tema besar “Maritim” yang menjadi tema abadi Makassar Biennale sejak 2017.

Ketika isu sungai dilemparkan pada tim FindArt Space di rapat internal, seketika ingatan mereka tertuju pada mitos-mitos yang ada di sungai. Tetapi, kebanyakan dari mereka mengingat kembali mitos buaya di sungai. Taufik Ahmad, Sejarawan Universitas Negeri Makassar mencoba menjelaskan fenomena ini dalam tulisan Eko Rusdianto berjudul “Legenda Buaya di Kalangan Masyarakat Sulawesi Selatan”:

“…di masyarakat Bugis dan Makassar buaya menjadi bagian dari kehidupan manusia adalah lumrah. Di Bone, buaya dikenal dengan nama To ri Salo (terjemahannya secara umum adalah orang yang menghuni sungai). Di Luwu disebut ampu salu (yang menguasai sungai) dan bahkan dalam menyebutnya harus mengunakan kata nenek –merujuk pada buaya. ‘Saya kira ini cara pandang manusia dalam hubungannya dengan alam,’katanya[1]

Seperti apa yang dikatakan oleh Taufik Ahmad, Ahmad Anzul lebih tegas dengan merujuk contoh ketika orang melemparkan telur ke sungai, minimal orang itu memberi makan makhluk hidup lainnya. Ia bersepakat bahwa apa yang dilakukan oleh leluhur kita dan menjadi kebudayaan dan bertahan, itu semata-mata karena memang fungsional dalam kehidupan.

Narasi mitos yang dihadirkan FindArt Space lewat karya instalasinya berjudul “Memori Sungai sebagai Halaman Depan” tak menutup kemungkinan untuk dilihat dalam fragmen ‘nilai’ dan ’moral’, yang membentuk opini tentang syirik. FindArt Space yang sadar akan kemungkinan itu, kemudian menyamarkan beberapa simbol dalam karyanya semata-mata agar orang tidak terjebak pada nilai-nilai itu, tetapi melihat apa yang ada di baliknya.

Karya instalasi FindArt Space di Makassar Biennale 2019 mencoba merangsang kembali ingatan orang tentang sungai. Entah itu mitos atau yang sifatnya humor sekalipun, agar sungai di Kota Makassar, misalnya, yang selama ini dianggap sebagai kanal, diingat kembali. Dari persoalan ekologis, FindArt Space mencoba memecahkan masalah itu dengan menciptakan simbol sebagai rambu-rambu, bahwa kota mereka punya sungai dengan kejadian-kejadian yang sudah berupa kenangan di kepala setiap orang yang pernah mengalamainya.

FindArt Space memang membuat instalasi dengan cara menghadirkan simbol-simbol, agar sengkarut ingatan masa lalu orang tentang sungai dijahit kembali untuk menantang mitos-mitos modern seperti mengganti nama sungai menjadi kanal, yang kadung beralih fungsi semata hanya ditempati sebagai pembuangan limbah pabrik pun rumah tangga.

Dalam karyanya, FindArt Space menghadirkan bambu, songkolo’ (nasi ketan)—yang kata Ahmad Fauzi di zaman dulu hanya bisa dibuat oleh orang yang punya keturunan kembar buaya, juga simbol buaya yang dilukis cat air dengan latar nama-nama sungai beraksara lontara’ di sekelilingnya. Songkolo’ dibuat dengan empat warna yang mewakili sulapa appa yang salah satu warnanya diubah untuk tujuan menghindarkan orang untuk melihat karya dari fragmen nilai dan moral.

Untuk pencahayaan, FindArt Space dan Lin Chen Wei, kurator Makassar Biennale bersepakat memberi sentuhan warna merah sebagai simbol yang terekam dalam ingatan Ahmad Fauzi terkait sungai. Semasa ia kecil, ia masih ingat ketika para orang tua melarang anaknya keluar pada saat air sungai berwarna kemerahan. Pasalnya, warna merah di sungai adalah tanda kehadiran buaya yang dianggap penguasa di sungai itu.

Menurut FindArt Space, karya mereka juga tidak menutup kemungkinan untuk ditafsir dengan cara yang lain, mengingat tidak semua orang punya pengalaman bersentuhan dengan sungai. Tetapi, untuk mereka yang semasa hidupnya punya memori tentang sungai, karya instalasi FindArt Space mencoba menawarkan kembali mitos lama sebagai cara untuk menjaga sungai dari sampah, misalnya, atau seperti apa yang dicita-citakan oleh FindArt Space, warga kemudian membalik halaman rumahnya menghadap ke sungai.

Di sekitar sungai, rumah-rumah warga kebanyakan dan hampir semua membelakangi sungai. Menurutnya, ketika menjadikan sungai sebagai halaman belakang, mental ‘belakang’ sebagai tempat pembuangan hadir secara alami. Untuk itu mereka mencoba menghadirkan solusi atas permasalahan ini, tetapi mereka sadar, ini adalah hal yang lumayan berat karena berhadap-hadapan dengan mitos modern yang kadung diilhami oleh kebanyakan generasi milenial saat ini.

FindArt Space percaya seni mampu menjadi alat untuk mengubah sesuatu, asal mencapai empat syarat: punya daya pesona, daya jangkau, daya pukau, dan solusi. Keempat hal ini kemudian mampu menarik minat orang untuk menyibak tirai di balik visual yang ditampilkan seniman. Daya pesona menyangkut hal-hal teknis yang dihadirkan, semisal simbol atau material yang dipakai. Daya jangkau menyangkut gagasan apa yang dibawa dan dijangkau oleh karya seniman. Sementara itu, daya pukau menyangkut visual artistik yang ditampilkan, dan solusi menyangkut apa yang bisa dilakukan setelah melihat karya seniman.

Empat hal di atas coba dipraktikkan oleh FindArt Space pada pameran Makassar Biennale 2019 yang berlangsung selama lima belas hari: 1 – 15 September 2019 di Gedung Kesenian Societeit de Harmonie Makassar. FindArt Space berharap, pengunjung yang datang mampu menarik kembali memori mereka tentang sungai setelah terpukau oleh visual artistik dan terpesona oleh bahan dan material karya yang mereka tampilkan. Dan yang lebih penting, bagaimana karya yang dihadirkan oleh FindArt Space mampu diserap sebagai satu solusi yang dapat dipakai untuk melihat sungai, yang lebih sering hanya diperhatikan ketika bencana seperti banjir lebih dulu tiba. Ini menjadi persoalan kita bersama, mengingat sungai begitu seksi dan diperhatikan jika sudah ada bencana, misalnya, atau ketika sungai sudah di bawah ke ranah politik.

Makassar Biennale kemudian menjelma menjadi ruang belajar dan pintu untuk melihat persoalan yang ada di dekat kita, seperti FindArt Space berangkat dari isu ekologis untuk membuat karyanya. Ahmad Fauzi mengatakan, yang paling penting bukan berapa banyak pengunjung yang datang, tetapi kualitas dan atmosfer kesenian yang terbangun dengan, misalnya simposium atau artist talk.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan