Menangkap Cahaya-Cahaya Sungai Mandar

“Ada dunia yang penuh pengalaman, yang melebihi dunia orang yang agresif, yang melebihi sejarah, dan yang melebihi ilmu pengetahuan. Keadaan kualitas alam dan ungkapan seni yang hebat sama-sama sulit untuk diterjemahkan. Kita hanya mengerti sebatas kedalaman jiwa dan pemikiran kita.” 

Ansel Adams


Fotografi secara umum diartikan sebagai proses menulis atau melukis cahaya. Secara lebih luas, fotografi adalah pintu utama dari pikiran dan perasaan yang dibentang fotografer lewat karya visual. Pikiran itu berupa gagasan dan perasaan melibatkan hal-hal yang lebih personal menyangkut apa yang menyentuh hati fotografer. Kedua hal ini kemudian jadi mata lahir, mata batin, dan mata lensa yang menuntun fotografer untuk menentukan perspektifnya.

Yusuf Wahil, fotografer kelahiran Mamuju 31 Desember 1987, menangkap cahaya-cahaya berwujud perempuan passauq wai (passauq: penimba, wai: air) di Sungai Mandar. Setiap pagi, dari pukul empat dini hari, para perempuan pasauq wai itu berangkat menuntun puluhan jeriken untuk diisi air dari Sungai Mandar. Itu sebelum mereka mengurus kebutuhan domestik seperti membuat sarapan untuk anak dan suami, membersihkan rumah, atau menyetrika baju, cahaya pagi rupanya lebih cepat bangun di Mandar, Sulawesi Barat dari tempat-tempat lainnya di muka bumi.

Dalam proses penciptaan karyanya, Yusuf tertarik dengan cahaya-cahaya passauq wai sebab mereka perempuan. Dalam budaya patriarki yang meletakkan perempuan dalam posisi inferior, passauq wai adalah pekerjaan yang membutuhkan begitu banyak tenaga, yang oleh sebagian besar masyarakat kita menyakini itu sebagai pekerjaan laki-laki. Stigma ‘lemah’ yang kadung melekat pada diri perempuan inilah yang kemudian “dihancurkan” oleh Yusuf lewat karyanya yang menampilkan para perempuan passauq wai sebagai sosok yang begitu kuat menempuh arus kuat, baik arus sungai maupun stigma-stigma tadi.

Bisa dibayangkan, setiap hari mereka menempuh jarak empat sampai lima kilo dari rumah menuju Sungai Mandar kemudian berenang ke tempat mereka membuat lubang-lubang kecil menyerupai sumur untuk menampung air dan menyalinnya ke dalam jeriken. Menurut Yusuf, air Sungai Mandar memang sangat jernih dan sehat.

Sumur-sumur kecil di tepi Sungai Mandar serta kejernihannya pernah ditulis oleh penyair asal Mandar, Suaib S. Syamsul, dalam puisinya berjudul “Apa Kabar, Nurul?”

“…Bagaimana kabarmu, Nurul?/ Kemarau kali ini/ Apakah kamu masih sering membuat sumur kecil di tepi sungai?/ Sambil menyanyikan lagu/ “Polaio potaq, Poleo randang”/ Atau sedang mengaduk segelas kopi untuk ayahmu yang baru saja pulang setelah menggarap sawah kepunyaan orang?/ Atau sedang membantu ibumu mengikat sayuran untuk dijual di pasar dini hari esok?/ Bagaimana kabarmu, Nurul?/ Masihkah kamu percaya sebagaimana kupercaya/ hanya air sumur di tepi sungai/ jernih sebagai penjernih/ tawar sebagai penawar…”[1]

Di zaman dulu, Yusuf mendengar bahwa air Sungai Mandar yang jernih digunakan sebagai penawar (obat). Lewat puisi Suaib, air dari Sungai Mandar pun digambarkan dengan cara yang kurang lebih sama: “Jernih sebagai penjernih, tawar sebagai penawar.”

Kejernihan air di Sungai Mandar pernah dirasakan oleh Yusuf, bahkan meminumnya langsung dari sungai itu, yang dalam kepercayaan masyarakat Mandar, membuat Yusuf telah menjadi orang Mandar lantaran meminum air dari aliran Sungai Mandar. Sebab jernih, warga di daerah Tinambung, menurut Yusuf, lebih suka mengonsumsi air sau (sungai) ketimbang air galon. Bahkan ia pernah mengikuti satu perempuan passauq wai menuju ke satu warung bakso, dan ia terkejut melihat jeriken-jeriken itu langsung dimasukkan ke dalam cerek yang berjejer di meja.

Ada satu istilah dalam kebudayaan masyarakat Mandar bernama “Sibali Parri”, istilah yang merujuk pada tugas dan fungsi laki-laki dan perempuan. Pembagian kerja ini menyimbolkan bagaimana kesesuaian gender berfungsi dalam kebudayaan masyarakat Mandar. Ini ditangkap oleh Yusuf dengan melihat bagaimana perempuan-perempuan passauq wai sibuk mengangkut air dari Sungai Mandar, sementara suaminya pergi melaut atau bertani. Perempuan-perempuan passauq wai kemudian mengindikasikan bagaimana sungai begitu akrab dengan perempuan di Mandar.

Keakraban bukan hanya terjadi antara sungai dan perempuan passauq wai di Mandar. Hal ini juga terjadi antara Yusuf dan perempuan-perempan passauq wai yang ia temui di Tinambung, Mandar. Salah satunya adalah Mama Hasria. Ketika di Makassar, Yusuf menyempatkan diri untuk meneleponnya dan menanyakan kabarnya. Ia merasa, kedekatan dengan perempuan passauq wai seperti Mama Hasria bukan saja kedekatan karena ia membutuhkan mereka, tetapi karena keakraban itu hadir karena keduanya dekat secara emosional, agar tak ada jarak antara dirinya dan gagasan yang dibawanya.

Ketika menelepon Mama Hasria, Yusuf mendengar desau angin dan keributan yang awalnya ia tak tahu darimana asalnya. Ketika menanyakan hal itu pada Mama Hasria, rupanya Mama Hasria sedang berada di atas kendaraan roda tiga bermerek “Viar” yang biasa dipakai untuk mengangkut galon, yang di tangan Mama Hasria, berubah jadi kendaraan untuk mengangkut jeriken-jeriken berisi air daru Sungai Mandar untuk disuplai di sekitaran Tinambung. Awalnya mereka memakai gerobak, lalu setelah punya cukup uang setelah menjual air dengan harga 500 rupiah per jeriken, membeli Viar untuk mengangkut jeriken merupakan kemajuan bagi usahanya.

Yusuf menceritakan bagaimana awalnya bertemu dengan perempuan-perempuan passauq wai, hingga proses mengambil gambar yang susah payah ia dapatkan karena di beberapa kasus semisal ia ingin lebih dekat dengan mereka, Yusuf harus turun ke sungai meski ia tidak tahu berenang. Dengan keterbatasan itu, Yusuf sebagai orang yang amat menyukai tantangan, tak mengurungkan niatnya. Apalagi setelah bertanya-tanya soal sejarah dan kondisi sungai terutama menyangkut buaya dan hal-hal lainnya.

Setelah merasa aman, Yusuf bahkan turun ke Sungai Mandar meski kakinya masih menyentuh tanah dengan air sebatas lehernya. Menurut Yusuf, tindakan yang ia lakukan penting karena foto yang bagus adalah foto yang begitu dekat dengan subjek yang ia tangkap. Meskipun ketika turun ke sungai, perempuan-perempuan passauq wai menegurnya karena takut akan terjadi apa-apa padanya. Tetapi Yusuf tetap nekad melanjutkan aksinya.

Sepanjang perjalanan perempuan-perempuan passauq wai di Sungai Mandar, Yusuf bergerak cepat melawan arus dan waktu. Ketika kondisi sungai dangkal, perempuan-perempuan passauq wai itu menarik jerikennya. Ketika kondisi sungai dalam, perempuan-perempuan passauq wai itu berenang di antara tumpukan jerikennya. Kondisi kedua yang menurut Yusuf sulit karena keterbatasan gerak akibat tidak bisa berenang. Tak kehabisan akal, Yusuf juga mengambil inisiatif untuk menumpang di rakit. Bahkan ia sempat menyewa perahu dengan harga seratus ribu untuk mengikuti perempuan-perempuan passauq wai itu.

Bukan hanya memotret, Yusuf juga ingin merasakan apa yang dirasakan oleh perempuan-perempuan passauq wai itu. Fotografi kemudian menjelma jadi “cara” untuk merasakan apa yang orang lain rasakan. Atau jika sudah dalam bentuk karya, mengajak orang mengimajinasikan apa yang orang lain rasakan.

Bekal pengalaman fotografi Yusuf Wahil dimulai semasa ia menjadi mahasiswa. Awalnya ia justru ingin belajar menulis. Keinginan itu ia harapkan akan berkembang ketika masuk ke LPPM Profesi UNM. Ketika berkecimpung di LPPM UNM, ia diajari oleh senior-seniornya menggunakan kamera. Setahun berselang, setelah melewati tahap pra magang di LPPM UNM, Yusuf resmi magang di sana.

Ketika magang, ia tertarik dengan isu-isu di kampus, terutama menyangkut perang yang memang sudah bukan rahasia umum di sana. Ia tertantang untuk mengambil gambar dari kerusuhan dan bentrokan yang terjadi di kampusnya. Ia merasakan sesuatu yang istimewa ketika memegang kamera dan jadi fotografer untuk LPPM UNM. Akses yang mudah ke jurusan-jurusan yang bentrok, membuat keinginannya menjadi fotografer semakin mencuat. Bahkan untuk tiga jurusan seperti Seni, Bahasa, dan Teknik yang selalu berperang, ia bisa masuk ke tiga jurusan ini untuk mengambil gambar dengan mudah. Sejak itu, ia memutuskan menjadi fotografer.

Yusuf sempat bergelut di dunia jurnalistik pada salah satu koran harian di Kota Makassar, lalu keluar karena merasa ingin belajar dan melampaui dirinya ketika menjadi jurnalis. Bertepatan dengan adanya workshop foto dokumenter di Bali, dengan pertimbangan izin yang menurut Yusuf tidak mungkin diberikan oleh koran harian itu, ia kemudian memutuskan untuk berhenti, walaupun konsekuensi menjadi freelance adalah pendapatan yang tidak tetap, tetapi di sisi lain, ia merasa mendapatkan kemerdekaan.

Dengan bekal portofolio fotografinya, Yusuf berangkat mengikuti workshop yang diisi oleh mentor-mentor profesional. Di workshop itu, ia bertemu dengan editor dari majalah DestinAsian Indonesia, Christian Rahadiyansyah, yang kebetulan sedang memantau fotografer untuk diajak kerja sama. Setelah pulang dari workshop, Yusuf dihubungi oleh Christian. Ia ditanyai kesediaan waktu untuk penugasan di daerah Maluku Utara dengan tema “Rahasia Bahagia Maluku Utara”. Yusuf kemudian tertarik dan diberi kontak penulis yang akan berkolaborasi dengannya. Ketika menelepon penulis, ternyata penulis itu orang Makassar, Eko Rusdianto yang juga ia kenali. Ia semakin bersemangat untuk pergi menangkap rahasia bahagia di Maluku Utara. Sejak itu, Yusuf terus menambah portofolionya dengan proyek-proyek dan gagasan yang ia hasilkan.

Sebelum ke Maluku Utara, Yusuf sebenarnya sudah bekerja sama dengan Agence France Presse (AFP). Selain itu, foto-fotonya pernah di-publish The TelegraphThe GuardianThe New York TimesNational Geographich IndonesiaNational GeographicDestinAsian IndonesiaUSA TODAYTribune.comaaj.tvYahoo Newsphys.orgGEO MagazinThe Jakarta PostThe Manila TimesThe Daily StarAljazeeraThe Wall Street JournalChanel News Asia, dan Daily Trust.

Pengalaman Yusuf dengan ragam portofolionya sebagai fotografer, Direktur Makassar Biennale, Anwar Jimpe Rachman mengajaknya untuk terlibat dalam pameran itu. Tema “Maritim” yang diabadikan oleh Makassar Biennale sebagai tema abadi, cocok dengan karya Yusuf yang juga merekam isu-isu lingkungan, salah satunya perempuan-perempuan passauq wai yang ia ikuti perkembangannya sejak 2017 sampai sekarang.

Karyanya berjudul “Passauq Wai: Perempuan Tangguh dari Tinambung” dipamerkan bersama empat seniman lainnya dengan medium yang berbeda-beda, yang oleh Yusuf disebut sebagai kekayaan perspektif untuk melihat gagasan dari sudut pandang yang lain. Ia menyebut Makassar Biennale sebagai wadah yang penting, sebab menampilkan karya-karya seniman dengan cara yang berbeda-beda, juga menjadi ruang dialog untuk memperkaya sudut pandang dalam melihat isu dan gagasan secara lebih luas.[]

Tulisan ini terbit pertama kali di https://makassarbiennale.org/menangkap-cahaya-cahaya-sungai-mandar/

Fauzan Al Ayyuby, belajar dan bekerja di Tanahindie.

[1] Yard Edisi 7, September 2018, https://issuu.com/tanahindie/docs/yard_edisi_september_2018, diakses pada 11 September 2019, pukul 3.34 WITA.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan