Serba Serbi Penampilan di Pembukaan Makassar Biennale 2019 – Parepare

Di depan sebuah rumah tua bercat putih, sekitar pukul 19.30 malam, belasan anak-anak dan puluhan orang dewasa mulai berkumpul di Jalan Daeng Parani, Kota Parepare. Mereka datang dan berkumpul menanti malam pembukaan Makassar Biennale 2019 – Parepare, yang berlangsung pada 1 Oktober 2019. Sejumlah orang menggunakan trotoar sebagai tempat duduk. Bagi pengunjung yang tak kebagian trotoar, mereka berdiri, bersila, atau jongkok di atas jalan beraspal. 

Di tengah jalan, di sebelah kiri panggung berdiri sebuah ornamen “swastika” berbentuk kotak berukuran 2 x 2 meter terbuat dari bambu. Di masyarakat Bugis, ornamen itu dikenal dengan istilah singkerru simulajaji sebagai simbol persatuan bangsa-bangsa dan kerajaan di Sulawesi Selatan.

Soraya Ayu Ananda, yang didaulat sebagai pembawa acara malam itu berdiri di bawah spanduk berbentuk segitiga—setinggi 3 meter. Segitiga itu tersusun dari empat tingkat, di mana tiga susunannya berbentuk trapesium. Sisi trapesium paling bawah terbentang kain hitam polos. Satu tingkat di atasnya tergambar sampan dibubuhi tulisan lontara’ Bugis: Lao sappa deceng Lesu mappadeceng [pergi mencari kebaikan pulang menebar kebajikan]. Kalimat tersebut adalah tajuk dalam acara pembukaan Makassar Biennale 2019 di Parepare.

Parepare adalah salah satu dari empat titik tempat berlangsungnya perhelatan Makassar Biennale 2019. Makassar Biennale adalah sarana aktivasi belajar dan kolaborasi berskala internasional melalui seni rupa sebagai lokomotif gerakannya, yang dilaksanakan setiap dua tahun sekali.

Perhelatan tahun ini dibuka mulai tanggal 1 September hingga 31 Oktober. Berbeda dengan perhelatan pada tahun 2015 dan 2017, Makassar Biennale kali ini dilaksanakan di empat daerah di dua provinsi, yakni Makassar, Bulukumba, Parepare (Sulawesi Selatan), dan Polewali Mandar (Sulawesi Barat) dengan mengusung tema Maritim: Migrasi, Sungai, dan Kuliner. Hal ini bertujuan untuk melebarkan jaringan dan membagi kesempatan belajar berbagai kalangan. 

Kota Parepare dipilih berdasarkan pertimbangan karakter wilayahnya. Ia adalah kota pelabuhan utama kedua setelah Makassar di Sulawesi Selatan. Parepare memiliki empat pelabuhan, yakni pelabuhan Cappa Ujung, Lontangnge, Cempae, dan pelabuhan Nusantara. Keempat pelabuhan inilah yang menjadi akses penunjang perdagangan dan migrasi dari dan menuju Sulawesi bagian selatan. 

Setelah membaca prolog tentang Makassar Biennale 2019 di awal acara, Soraya mengundang Nur Qalbi, anak berusia 11 tahun, yang menyajikan dongeng berjudul “Sumur Jodoh” karya Andi Oddang to Sessungriu. Siswa kelas 6 sekolah dasar ini pernah menjuarai lomba storytelling tingkat kota dan provinsi. Selain Qalbi, bocah lainnya yang mengisi acara pembukaan MB 2019 di Parepare adalah Muhammad Baqir Husaein. Ia adalah siswa kelas 2 SD Negeri 30 Parepare. 

Cokkanya itu anak,” terdengar komentar salah seorang pengunjung saat Baqir membacakan narasi  berjudul “Sompe”. Ketepatan pelafalan dan intonasi naskah yang ia baca membuat pengunjung bertepuk tangan. Ia sepertinya tahu, kalimat-kalimat utama yang butuh penekanan dalam pembacaannya. 

Namun, peristiwa elok dari Baqir adalah saat ia selesai membacakan narasi. Turun dari panggung, tatapan pengunjung masih terarah kepadanya. “Kasih hadiah tawwa,” celetuk Tri Astoto Kodarie, salah seorang penyair yang turut hadir pada malam pembukaan itu. Menghadapi suasana yang agak ganjil itu, Baqir lekas memeluk ayahnya yang bersila di atas bahu jalan. 

Tak berselang lama, suasana berganti setelah Soraya mengundang penampil berikutnya, monolog oleh Fadjriani Ramadhan berjudul: Lao sappa deceng Lesu Mappadeceng. Fadjriani mula-mula memerankan tokoh Siti. Siti dikisahkan sebagai pasompe (perantau). Suaminya diceritakan meninggal dalam peristiwa tenggelamnya kapal yang ditumpanginya. Karena itu, Siti meninggalkan kampung halamannya untuk mencari penghidupan ekonomi yang lebih baik.

Tidak jelas sesungguhnya apa yang tertangkap dari monolog Fadjriani kali ini. Rangkaian adegan agaknya tidak dijahit secara baik dan utuh. Dalam salah satu peragaan adegan bahkan terlihat improvisasi yang ‘kasar’. Itu saat Fadjriani mencoba mengeksplorasi panggung pertunjukan. Kendati demikian, tepuk riuh penonton tetap bergemuruh untuknya.

Butir-butir air di wajah dan keringat di punggung tampak di beberapa pengunjung. Meski panggung pertunjukan di area terbuka, angin malam itu hanya sesekali terlihat menggerakkan daun-daun pepohonan.

Sekitar pukul 22.18 malam itu, tiba giliran Muslimin Mursalim, akrab disapa Mimin. Seniman kuliner yang turut menampilkan performance arts di Makassar Biennale 2019 dengan tajuk Madange’. Muslimin lahir di Palopo, 2 Januari 1994. Pendiri Rumah Seni Makanan Palopo dan saat ini sedang menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Hukum AMSIR Parepare. 

Performance arts Muslimin Mursalim di dalam Swastika: Singkerru Simulajaji (Foto: tim dokumentasi MB 2019)

Dari seluruh rangkaian acara pembukaan Makassar Biennale (MB) 2019 di Parepare, performance arts oleh Mimin inilah yang agaknya ditunggu-tunggu oleh sejumlah pengunjung. Tak banyak orang yang menilai kuliner sebagai karya seni. Namun, bagi Mimin, dia berani berbeda. 

“Di Indonesia seni kuliner sangat jarang,” ungkap Anwar Jimpe Rachman, kurator Makassar Biennale 2019 sekaligus Direktur Yayasan Makassar Biennale, dalam sambutannya pada pembukaan malam itu. 

Mimin melangkah diikuti dua orang perempuan di belakangnya menuju singkerru simulajaji. Mereka menenteng bahan dan alat yang hendak digunakan di atas nyiru. Ada sagu, ketan hitam, ketan putih, gula merah, garam, dapo [alat cetakan], dan ayakan sagu. 

Di dalam singkerru simulajaji itu. Mimin dan dua orang perempuan yang mengikutinya kemudian bersila. Mimin mengenakan baju kaus putih dengan bawahan sarung. Sedangkan kedua perempuan yang mengikutinya, salah seorang mengenakan baju adat Bugis dan perempuan satunya berpakaian hitam-hitam dengan pengikat kepala. 

Lalu, seseorang lagi masuk sembari memainkan suling. Empat perempuan yang juga berpakaian adat Bugis menyusulnya. Para perempuan itu berpencar ke empat sisi di luar kotak singkerru simulajaji itu. Mereka berjinjit mengelilingi kotak swastika. Tangan mereka naik turun seolah sedang melambai. Sedang perempuan yang mengenakan pengikat kepala membaca mantra berbahasa Bugis-Luwu. Suasana sekitar terasa khidmat. Ritual pembacaan mantra itu bertujuan untuk memohon berkah dari Tuhan sebelum aktivitas memasak dilakukan. 

Tak berselang lama, Mimin memulai aksinya. Ia membuat bara api. Lalu, mencampur sagu, ketan, gula merah, dan garam. Ia menapis bahan-bahan itu, menempatkannya pada alat cetak, dan memasaknya di atas bara api. Kudapan itu akhirnya selesai. 

Dange adalah salah satu kudapan berbahan dasar sagu yang bentuknya serupa kue baroncong. Di Sulawesi Selatan, setidaknya ada dua jenis dange yang sering dijumpai orang kebanyakan. Pertama, dange yang dijajakan di Pangkep. Dange Pangkep berwarna agak hitam. Kedua, dange Luwu, yang  umumnya berwarna putih. Namun, lain halnya dengan yang dibuat oleh Mimin. Warnanya padu antara dange Pangkep dan dange Luwu. Bentuknya pun sedikit lebih pipih ketimbang dange Pangkep.

Muslimin Mursalim dan Muh. Ibrah (Foto: tim dokumentasi MB 2019)

Setelah Mimin selesai membuat dangenya, Soraya mengundang salah seorang pengunjung untuk mencicipi dange khas buatan Mimin. Namanya Muh. Ibrah, Ia memasukkan potongan dange yang disuguhkan. Sembari mengunyah, matanya memejam. Ia mengangguk dan kepada pengunjung ia mengangkat jempol tangan kanannya. “Beda. Sangat beda,” katanya. 

Mimin mengaku bahwa resep membuat dange ini diwariskan oleh neneknya. Dikalangan keluarga Mimin, membuat dange dan segala ritual seperti ini hanya dilakukan pasca panen sawah. “Dange ini tidak boleh dijual,” kata Mimin.

Malam itu, selepas performance arts Mimin, kegiatan ditutup oleh penampilan Ojal Art dengan membawakan musikalisasi puisi: “Doa Para Pelaut yang Tabah” karya Sapardi Djoko Damono. Sekitar pukul 22.58 malam itu acara pembukaan MB 2019 di Parepare berakhir. Pengunjung kemudian memasuki rumah putih berarsitektur kolonial itu. Di dalamnya, disajikan karya seni rupa berupa foto pelabuhan dari masa ke masa, diorama Migrasi Masyarakat Enrekang ke Parepare karya Shiwa, serta alat dan bahan Madange’ yang digunakan oleh Mimin.

Bagi tim kerja MB 2019 di Parepare, perhelatan ini adalah upaya transformasi cara kerja teman-teman yang bergiat di komunitas, terutama dalam hal berkolaborasi. Setiap event yang dilaksanakan oleh komunitas sampai saat ini, keterlibatan masyarakat dapat dikatakan minim. Karena itu, MB sebagai ruang aktivasi belajar bersama, diharapkan dapat memunculkan kesadaran kolektif segala lapisan masyarakat.

Pelaksanaan MB 2019 di Parepare berlangsung hingga tanggal 6 Oktober 2019. Kemudian dilanjutkan di Kabupaten Pinrang hingga tanggal 13 Oktober 2019. Selama kurun waktu tersebut, ada sejumlah rangkaian kegiatan yang berlangsung di Parepare, di antaranya Pendirian Tugu Sampan di salah satu perkampungan nelayan di Parepare oleh seniman residensi asal Semarang (Hysteria), Dialog, Bedah Buku, Lokakarya Pembuatan Kolase, dan Workshop.

Ilham Mustamin, editor Penerbit Sampan.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan