Diagram Tanda Bahaya

Pada tahun 2018, Pemerintah Kota Parepare, lewat Sekretaris Daerah, Iwan Asaad, mewanti-wanti timbunan sampah di Parepare yang masuk kategori mengkhawatirkan. Dari 65 juta ton timbunan sampah per tahun di Indonesia, Parepare menyumbang 26 ribu ton per tahun.[1] Di salah satu tempat pembuangan akhir (TPA) di kota ini, TPA Kilometer 7 yang beroperasi sejak tahun 1995, tiga dari empat zonanya sudah penuh. Satu zona yang masih beroperasi saat ini pun terancam penuh.

Persoalan sampah inilah yang dipresentasikan oleh Himpunan Pemuda Mahasiswa Indonesia Parepare (HIPMI Pare) Komisariat Bandar Madani dalam bentuk diagram di Makassar Biennale 2019 Parepare yang berlangsung di Rumah Putih, Jalan Daeng Parani No. 1. HIPMI Parepare adalah lembaga organisasi daerah Kota Parepare yang bertujuan menghimpun pelajar dan mahasiswa yang berasal dari Parepare. Organisasi ini didirikan di Kota Makassar pada tanggal 12 Januari 1964. Di Parepare sendiri ada HIPMI Pare Komisariat Bandar Madani, yang berdiri pada tanggal 31 Oktober 2015. Komisariat Bandar Madani menghimpun mahasiswa dari beberapa kampus yang ada di Parepare. HIPMI Pare punya Bidang Penelitian dan Pengembangan yang dalam penelitian produksi sampah di Kota Parepare tahun 2017 – 2019, dikerjakan oleh Sulfadli (Ketua Umum HIPMI Parepare) sekaligus penanggung jawab penelitian ini bersama Feri, Ahsam, Fikri, dan Rustam. Mereka selama seminggu berada di Kilometer 7 untuk mencari data volume sampah, pengelolaan sampah, dan regulasi pemerintah terkait sampah.

Hasil penelitian itu menyebutkan, penduduk Parepare sebanyak 142.097 jiwa (BPS 2017), memproduksi sampah di TPA Kilometer 7 sebanyak 14.918.700 kg (Maret – Desember 2017), tahun 2018 mencapai 21.909.010 kg, dan dalam periode Januari – Juni 2019 sebanyak 11.518.610 kg. Menurut HIPMI Pare, produksi sampah ini akan terus meningkat tiap bulan dan tahun. Titik tekan dari penelitian ini adalah 80 persen dari produksi sampah itu adalah sampah plastik.

Sulfadli mengaku HIPMI Parepare mengangkat isu plastik karena setahun belakangan pengelolaan sampah plastik menjadi kampanye yang sedang trending. Sampah plastik seperti yang kita ketahui, baru bisa terurai puluhan bahkan ratusan tahun. Sulfadli menangkap produksi sampah plastik sebagai tanda bahaya. Tapi ia sadar, mengurangi konsumsi sampah platik tidak secepat kilat. Saking bahayanya, menurut Sulfadli, ia sampai pergi mengunjungi salah satu gerai untuk mencari tahu jumlah penggunaan kantong kresek per hari. Dari hasil temuannya, tercatat gerai itu menggunakan lima ratus sampai enam ratus kantong kresek per hari. Seolah tak ada habisnya, pengelolaan sampah plastik selalu mendapat tantangan baik dari diri kita sendiri, pemerintah daerah, dan pemerintah pusat.

Pada tataran pemerintah daerah, Dinas Lingkungan Hidup Kota Parepare dalam dokumen Rencana Kerja Dinas Lingkungan Hidup di Kota Parepare tahun 2018 dalam poin 2.3 Identifikasi Masalah, mengurai sembilan masalah yang mereka hadapi dalam pengelolaan lingkungan hidup: (1) Merosotnya daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup akibat laju pembangunan yang meningkat, hal ini berdampak pada kerusakan DAS Karajae; (2) Meningkatnya pencemaran lingkungan (air, udaradan tanah) yang diakibatkan oleh aktivitas manusia; (3) Kurangnya partisipasi masyarakat dalam pemanfaatan dan pengelolaan sampah sejak dari sumber – sumber sampah; (4) Kurangnya kuantitas dan kualitas Ruang Terbuka Hijau yang belum mencapai 30% dari total luas Wilayah Kota Parepare; (5) Lemahnya penegakan hukum bidang lingkungan, terhadap para pelaku pengrusakan lingkungan; (6) Lemahnya kapasitas kelembagaan dan rendahnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan-pengelolaan lingkungan hidup; (7) Fenomena perubahan iklim seperti meningkatnya suhu rata-rata permukaan bumi; (8) Kurangnya keterpaduan pengelolaan lingkungan hidup lintas sektor; (9) Terbatasnya infrastruktur dan sistem informasi lingkungan hidup.[2]

Sulfadli mengaku awalnya kesulitan mendapatkan data volume sampah yang ada di TPA Kilometer 7 Parepare. Mereka baru bisa memperoleh data volume sampah setelah TPA Kilometer 7 itu punya timbangan elektrik pada Maret 2017. Hal ini menunjukkan terbatasnya infrastruktur yang dimaksud oleh Dinas Lingkungan Hidup Parepare pada poin sembilan dari masalah yang dihadapi mereka terkait pengelolaan lingkungan hidup.

Di skala nasional dan internasional, mengutip riset J Jambeck, Amerika Serikat pakai plastik rata-rata 38 juta kilogram per hari dan berhasil dalam manajemen sampah plastik hingga angka ‘mismanaged plastic waste’ tak ada. Berbeda dengan Tiongkok dan Indonesia, meski penggunaan plastik di Tiongkok 32 juta kilogram/hari, namun sampah plastik yang tak bisa dikelola sampai 24 juta kg/hari. Begitu juga Indonesia, penggunaan 11 juta kg/hari, namun sampah tak terkelola baik mencapai 9 juta kg/hari.[3]

Sampah yang tiba di TPA tidak semuanya ditimbun. Menurut Sulfadli, ada beberapa sampah yang punya nilai jual seperti sampah plastik dipungut kembali oleh para pemulung. Kemungkinan ini berindikasi pada sirkulasi ekonomi yang bisa jadi solusi mengurai sampah plastik. Della Syahni, jurnalis Mongabay-Indonesia, melihat persoalan ini dengan mengajukan ekonomi sirkular: “Mengelola sampah yang telanjur ada, perlu ada ekonomi sirkular. Ekonomi sirkular membuat siklus antara produksi, konsumsi, dan daur ulang hingga tak ada sampah. Dengan ekonomi sirkular, akan mengurangi ekstraksi sumber daya alam, menambah lapangan kerja, meningkatkan ekonomi langsung dan tak langsung, mengurangi sampah ke TPA dan meningkatkan kualitas lingkungan.”[4]

Pengelolaan sampah plastik bisa dilakukan dengan cara mendaur ulang sampah itu jadi karya seni yang punya nilai ekonomi. Sampah plastik sebagai bahan mentah begitu melimpah. Tinggal mencari tahu apa kebutuhan orang yang bisa diproduksi dengan menggunakan sampah plastik. Tentu saja, daur ulang sampah ini membutuhkan ketelatenan dan upaya yang lebih keras agar karya yang dihasilkan justru tidak jadi sampah baru.

HIPMI Pare juga menawarkan cara seperti mengganti kantong plastik sekali pakai dengan totebag dan mengganti botol minuman dengan tumbler. Jika ingin berpayah-payah, Sulfadli mengajukan tawaran untuk bersama-sama melakukan sosialisasi akan bahaya yang akan datang jika sampah plastik terus meningkat dari waktu ke waktu. Salah satunya soal lahan. Menurut Sulfadli, akibat penumpukan sampah karena tidak terolah dengan baik, lahan dari hari ke hari akan semakin berkurang lantaran dijadikan TPA baru jika yang lain sudah tidak bisa lagi menampung produksi sampah. Hal ini menyebabkan penyempitan ruang yang berimplikasi pada semakin dekatnya virus dan bakteri permukiman warga.

Pengelolaan sampah tentu tidak tertaut pada TPA saja. Hal ini juga berlaku pada pola perilaku kita sendiri. Misalnya, ketika membuang sampah sembarangan, ada beberapa penyakit yang mengintai kita dengan persebarannya lewat hewan seperti lalat, kecoa, dan tikus. Sampah yang kita buang menjadi tumpukan kuman dan bakteri yang jika dihinggapi atau disentuh oleh hewan-hewan tadi yang juga menghinggapi dan menyentuh makanan kita, makanan kita akan terkontaminasi dengan bakteri dan kuman. Alhasil, penyakit seperti hepatitis A, disentri, salmonellosis, penyakit pes, dan demam berdarah. Selain itu, jika sampah menumpuk di sungai dan tercemar, penyebaran penyakit kolera dan amoebiasis tentu saja bukan hal yang tidak mungkin.

Penelitian yang dilakukan HIPMI Pare dimentori oleh Syahrani Said, salah satu tim kerja Makassar Biennale 2019 Parepare. Mereka mengaku baru pertama kali melakukan penelitian dan dengan bekal pengalaman Rani, sapaan akrab Syahrani Said. Mereka diarahkan untuk mencari data dengan panduan-panduan yang diberikan Rani. Selama dua bulan, HIPMI Pare berkonsultasi dengan Rani secara intens, dan akhirnya HIPMI Pare diajak berpameran di Makassar Biennale 2019 di Parepare. Selain Rani, ajakan itu juga datang dari Alfian Diro Damis dan Muhammad Musran yang juga tim kerja Makassar Biennale 2019 Parepare sekaligus senior Sulfadli, Feri, Ahsam, Fikri, dan Rustam di HIPMI Pare.

Awalnya data penelitian HIPMI Pare ingin diterjemahkan dalam bentuk patung. Tetapi karena beberapa kendala, karya mereka tetap dipamerkan dalam bentuk diagram data setelah HIPMI Pare berdiskusi dengan kurator Makassar Biennale, Anwar ‘Jimpe’ Rachman. Diagram itu dikerjakan selama tiga hari oleh Sam, salah satu anggota HIPMI Pare.

Diagram yang dipamerkan HIPMI Pare di Makassar Biennale 2019 Parepare menjadi satu cara sosialisasi pada masyarakat untuk melihat produksi sampah mereka sendiri. Dengan melihat diagram itu, ruang-ruang dialog untuk mengelola sampah terbuka lebar. Minimal, orang-orang yang datang merasakan kegelisahan seperti yang dirasakan oleh HIPMI Pare, yang menyebut produksi sampah plastik yang berlebihan sebagai tanda bahaya.

Tulisan ini terbit pertama kali di makassarbiennale.org

Fauzan Al Ayyuby, belajar dan bekerja di Tanahindie.

[1]Cullank Nawir, http://cyberpare.com/2019/02/28/timbunan-sampah-di-parepare-capai-26-000-ton-per-tahun/, diakses pada 21 Oktober 2019, pukul 7.54 Wita.

[2]Dinas Lingkungan Hidup Kota Parepare, https://pareparekota.go.id/wp-content/uploads/2017/07/renja-Dinas-lingkungan-Hidup-2018.pdf, diakses pada 18 Oktober 2019, pukul 17.23 Wita.

[3]Della Syahni, https://www.mongabay.co.id/2019/09/10/daur-ulang-sampah-plastik-di-indonesia-rendah/, diakses pada 18 Oktober 2019, pukul 17.10 Wita.

[4]Ibid

Bagikan:

Tinggalkan Balasan