Kota Diperam dalam Lontang: Potret Makassar di Sudut-Sudut Sepi

Pemilihan Wali Kota dan Wakil Wali Kota (Pilwali) Makassar telah usai. Ketegangan dan hiruk pikuk pun turut usai. Patut disyukuri, tidak ada silang sengketa sebagaimana di daerah lainnya. Mereka yang tadinya beda pilihan, kembali duduk bersama, sambil bercerita pengalaman masing-masing. Warga yang terbelah, kembali pada aktivitasnya masing-masing. Dalam konteks ini, Makassar sangat membanggakan.

Namun demikian, konstelasi Pilwali tidak berakhir pada terpilihnya wali kota dan wakil wali kota. Jauh lebih penting, ke mana Makassar pasca Pilwali? Membaca visi misi tidaklah cukup, masih ada suara-suara marginal yang tidak didengar bahkan nyaris tidak diperbincangkan dalam diskusi-diskusi publik. Mereka yang hidupnya tidak bergantung belas kasihan pemerintah. Tapi eksistensi penghidupannya sangat bergantung pada kebijakan publik pemerintah nantinya.

Beberapa di antara kelompok marginal ini, dipotret dalam buku Kota Diperam dalam Lontang / City Soaked in Drinking Stall. Buku yang disusun dari kumpulan tulisan 8 (delapan) penulis muda yang mengikuti pelatihan penulisan program “Anak Muda dan Kota” yang dipromotori dan diterbitkan oleh Komunitas Tanahindie.

Peserta Program Pelatihan Penulisan dan Penelitian “Anak Muda dan Kota”.

Kisah-kisah yang dihadirkan penulis muda ini tentang “Perjuangan Keluarga” di Kota Makassar. Kisah tentang mereka yang tidak menyerah pada takdir, memilih bertarung dalam perebutan ruang dan aksesibilitas. Kisah manusia yang bertahan dengan mengandalkan keteguhan dan kecerdasan lokal.

Masing-masing tulisan berdiri sendiri dengan objek riset berbeda. Jika tulisan-tulisan ini dirangkai, akan ditemukan keterhubungan yang menggambarkan lanskap “Makassar dengan Manusianya” yang “mungkin” tidak pernah terdengar dan dipercakapkan publik maupun terbaca dalam dokumen kebijakan publik.

Sebagai pembaca, masih banyak hal yang menjadi catatan penting. Ada beberapa suplemen tambahan yang dihadirkan penulis untuk menguatkan maksud dan memperjelas objek tulisan, justru mengganggu keindahan tulisan. Saat membaca buku ini, data-data yang ditampilkan dalam tabel terkesan mengganggu, padahal cerita tokohnya sudah mengalir. Kemungkinan pelatihannya memang mewajibkan data disajikan dalam tulisan.

Dengan segala kekurangannya, buku ini tetap menarik. Kehadirannya mengisi kekosongan literasi tentang potret Makassar dalam realitas yang sesungguhnya. Berikut kisah-kisah heroik yang direkam dengan apik para penulis muda berbakat ini:

Sebagai pembuka, “Kisah dari Rimbunan Nipah di Pampang” karya Wilda Yanti Salam, mengantar pembaca mengarungi Sungai Pampang dan Tallo yang membelah Makassar. Kisah tentang Asri dan kehidupan keluarganya yang bergantung pada eksistensi pohon nipah.

Asri sosok pekerja keras, melakukan apa saja untuk menopang ekonomi keluarga. Berbagai pekerjaan telah dilakoni, kesemuanya berakhir dengan kegagalan. Asri memutuskan untuk mengikuti tradisi keluarga istrinya, bekerja sebagai pange’ba atau penderes/penyadap nipah.

Pagi hari, Asri dengan perahu bermesin dan berbekal 3 (tiga) bungkus rokok menyusuri Sungai Pampang menuju rimbunan pohon nipah yang menutupi rawa-rawa Pampang dan Tallo. Sering kali perahu Asri terhalang sampah-sampah kota yang hanyut sepanjang sungai.

Nipah yang berbuah menjadi fokus kerjanya, dari tangkai buah nipah keluar air nira yang menjadi bahan utama pembuatan tuak pahit (ballo‘) melalui metode fermentasi. Kemudian ballo’-ballo‘ dikemas dalam botol air mineral dan dijual di lontangnya sendiri.

Sebelum menulis esainya, Wilda percaya stigma bahwa lontang tempat bermasalah secara sosial. Wilda menapaki jalan berawa dan berbaur dengan peminum ballo‘ untuk membuktikan kebenaran stigma ini. Wilda menemukan kenyataan berbeda, kehidupan lontang sangat normal, tidak ada perbedaan dengan kehidupan sosial lainnya. Seperti halnya warung kopi, lontang sarana bertemu dan merelaksasi diri melepas penat dan bergembira.

Dari cerita Asri, terungkap dulunya kawasan Pampang dan Tallo sepenuhnya ditutupi nipah. Perubahan terjadi sejak tahun 1980-an, ketika pendatang dari Kabupaten Pangkep menyewa beberapa lahan untuk dijadikan lahan empang/tambak. Karna hasilnya jauh lebih baik, penduduk lokal pun ikut mengalihfungsikan lahannya.

Makassar tumbuh pesat, kawasan rawa-rawa yang dulunya hening, beralih fungsi menjadi kawasan tersibuk di kota. Fasilitas modern seperti Universitas, Rumah sakit, Hotel, Gedung Perkantoran, dan Perumahan, berdiri kokoh mengganti pohon-pohon nipah.

Kehadiran fasililtas modern menumbuhkan ekonomi kawasan, semacam “multiplier effect” ada kebutuhan penunjang seperti kos-kosan, warung makan, fotokopian, dan lainnya. Kesemua penunjang itu membutuhkan lahan, dengan iming-iming harga, sebagian penduduk lokal melepas tanahnya (rawa nipah). Implikasinya rawa-rawa yang luas tinggal kenangan. Kota merampas kehidupan ekosistem rawa untuk menopang kehidupan lainnya.

Titik ini menjadi satu-satunya kekhawatiran Asri, hidupnya dan ratusan orang lainnya bergantung pada ekosistem nipah. Dia masih bisa berkompromi dengan sampah kota yang menggangu dan mengotori sungai, tapi kehilangan satu pohon nipah adalah kematian baginya.

Melihat pertumbuhan Makassar, ketakutan Asri lambat laun akan menjadi kenyataan, di atas rawa-rawa nipah terakhir—telah dibangun perumahan elite.

Kita tinggalkan kisah Asri, potret lain Wajah Makassar dalam artikel “Para Penggembur Lahan-Lahan Titipan” ditulis oleh Achmad Teguh Saputro. Achmad mengisahkan kehidupan Daeng Sitti, pendatang dari Malakaji, Gowa. Makassar seperti magnet, Daeng Sitti datang dengan impian merubah ekonomi keluarga. Kota ternyata tidak ramah bagi mereka yang memiliki kompetensi terbatas. Untuk bertahan, Daeng Sitti bekerja sebagai tukang pijit panggilan, pengetahuan yang didapatkan dari kampung halamannya.

Dikisahkan, Daeng Sitti melihat lahan kosong di Perumahan CV. Dewi. Atas kebaikan pemiliknya, Dg Sitti diberi izin menggarap lahan kosong tersebut. Menurut Daeng Sitti, awalnya lahan dijadikan tempat pembuangan sampah warga. Begitu kotornya saat membersihkan lahan ini, Daeng Sitti menemukan pecahan kaca 9 (sembilan) karung.

Lahan titipan dialihfungsikan menjadi sawah dan digarap dengan metode konvensional. Sawah diairi tanpa pengairan teknis, sawah mengandalkan pengairan alami dari luapan banjir Sungai Pampang yang mengalir di samping Perumahan CV. Dewi.

Daeng Sitti pada titik ini, terlihat cerdas. Dengan teknologi sederhana berupa tanggul petakan sawah yang ditinggikan, air terjabak di dalamnya saat terjadi luapan sungai. Banjir juga menciptakan sirkulasi tanah, lahan yang telah ditanami akan mengalami kekurangan nutrisi. Luapan banjir menyapu tanah yang lama, digantikan dengan lumpur baru kaya nutrisi yang dibutuhkan tanaman.

Dengan kecerdasan lokal ini, Daeng Sitti tidak perlu menggunakan pupuk kimia untuk menyuburkan tanaman. Pengetahuan ini juga diterapkan petani di pesisir Danau Tempe dan Sidenreng.

Saat menggarap lahannya, Daeng Sitti tidak menggunakan pestisida. Dengan pengetahuan lokal (mitologi) hama walang sangit dapat dibasmi.

“Percaya ato tidak..diambil saja satu, baru dicabut sayapnya, terus didatte ki sedikit pantatnya, baru ditaro’ mi kembali. Satu ditangkap begitu, hilang mi yang lain. Jangan dibunuh, satu saja dibunuh, datangngi seribu temannya,” kata Dg Sitti.

Pengetahuan lokal Dg Sitti menjadi kekuatan utama bertahan di kota. Hasil garapannya lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga selama setahun, bahkan surplus beras dijual untuk menutupi kebutuhan lainnya.

Di Kota Makassar, penggarap lahan titipan bukan hanya Daeng Sitti, mungkin ada rutusan bahkan ribuan. Para penggarap lahan titipan ini, secara tak langsung membantu Kota Makassar memenuhi ketersedian pangan. Juga berkontribusi memenuhi kebutuhan Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan menjaga kota dari kekumuhan. Lahan kosong yang tidak dikelola adalah bak sampah raksasa bagi penduduk kota yang tak ramah.

Daeng Sitti juga punya kekhawatiran, lahan garapannya sewaktu-waktu akan diambil alih pemiliknya. Hidupnya ada di lahan ini, rumah sawahnya bukan sekadar rumah sawah, di situ dia tinggal bersama keluarganya. Mereka menggantungkan nasibnya pada kebaikan pemilik lahan.

Artikel selanjutnya dari goresan tangan Rahmawati bertitel “Mereka Yang Tumbuh dan Bermain di Kota”. Kisahnya tentang seorang bocah bernama Agung yang bercita-cita menjadi pemain bola profesional, tinggal di Lorong 8 Bontomanai, Kelurahan Mangasa, Makassar.

Dengan perkembangan teknologi, ada anggapan permainan anak-anak sudah bertransformasi dari permainan fisik ke permainan teknologi. Anak-anak dikatakan lebih menyukai permainan di gawai seperti Mobile Legend dan semacamnya. Rahmawati membuktikan sebaliknya, kisah Agung dan kawan-kawannya potret nyata bahwa anak-anak masih membutuhkan permainan fisik.

Kota tumbuh dan makin tidak “Ramah Anak”. Pembangunan kota nyaris tidak memperhatikan kebutuhan anak-anak, khususnya fasilitas bermain berstatus fasilitas publik. Bagi Agung dan kawan-kawannya, hal itu bukan halangan untuk tetap menyalurkan hobinya bermain bola.

Agung dan kawan-kawannya memanfaatkan tiap jengkal tanah kosong, pelataran masjid, dan lorong menjadi lapangan sepak bola tiap sore hari. Bagai Waterboom Park, sepetak rawa dimanfaatkan Agung mencari ikan cupang dan bermain air.

Inti tulisan Rahmawati bahwa zaman boleh berubah, kemajuan teknologi dan aksesibilitas yang langka, anak-anak tetaplah anak-anak. Mereka akan terus bermain dengan segala keterbatasannya.

Kisah selanjutnya ditulis Fakhiha Anugrah Prastica berjudul “Bocah Yang Menulis Tanpa Spasi”, tentang Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) bernama Zaki berusia 10 Tahun, tinggal di Butta Caddi, dekat galangan kapal.

Zaki anak dari keluarga prasejahtera, ayah Zaki bernama Burhan bekerja sebagai Sopir dan ibunya Suriana ikut menopang ekonomi keluarga dengan berdagang makanan anak-anak di teras rumah dan kadang di Pasar Pannampu.

Zaki dikucilkan teman sebayanya, karakternya yang hiperaktif dan pengganggu, membuat teman-temannya menganggap Zaki anak yang aneh dan harus dijauhi. Paling mengkhawatirkan, Zaki sering mengalami luka, mungkin berkelahi dengan teman bermainnya.

Kondisi ini mengkhawatirkan, orang tua Zaki mencari tahu penyakit yang diderita anaknya. Zaki didiagnosis mengidap penyakit Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) sebuah kondisi di mana seorang anak sangat hiperaktif di luar kondisi normal, sedangkan Psikolog melihat Zaki sebagai anak autisme.

Meski sudah menerima dengan lapang dada kondisi Zaki, orang tuanya tetap melakukan berbagai upaya untuk menyembuhkan Zaki. Keluarga ini pernah kehilangan anak perempuan (kakak Zaki), yang digambarkan anak yang cantik, putih seperti perawakan anak Etnis Tionghoa. Mereka tidak mau lagi kehilangan anak kedua kalinya, tidak boleh kata menyerah untuk Zaki.

Diusianya yang belum mampu mengeja huruf dengan baik, Zaki mampu menyalin dengan baik. Gambar Pancasila dan simbolnya yang disalin sangat serupa dengan aslinya, meski tulisan sila-sila Pancasila tanpa spasi. Zaki adalah bukti setiap anak memiliki bakatnya sendiri.

Sementara itu Rusli menulis tentang “Pemulung Tiga Generasi”, kisahnya tentang Asni Daeng Bollo dan keluarganya yang berprofesi sebagai pemulung. Daeng Bollo lahir dari orang tua pemulung dan hari ini anak-anaknya ikut juga memulung.

Daeng Bollo memilih memulung karna pengetahuannya hanya memulung. Dia pernah bekerja di lokasi proyek sebagai juru masak. Di proyek itulah Dg Ballo bertemu suaminya yang saat itu bekerja sebagai mandor.

Proyek-proyek infrastruktur tidak lagi menggunakan jasa suaminya, Daeng Bollo terpaksa harus bekerja menopang ekonomi keluarganya. Tanpa memiliki pengetahuan lainnya, Daeng Bollo dipaksa keadaan mengikuti profesi ibunya—memulung. Dari memulung, Daeng Bollo dapat mengepulkan asap dapur keluarganya.

Daeng Bollo tinggal di rumah-rumah bedeng di atas tanah kosong yang status kepemilikannya masih disengketakan. Dengan segala keterbatasannya, anak-anak Daeng Bollo tetap disekolahkan, meski kata gurunya sering kali bolos dengan alasan sakit. Dugaannya Daeng Bollo sering menyertakan anak-anaknya memulung.

Daeng Bollo dan teman seprofesinya secara tak langsung membantu Makassar mengurangi sampah yang makin menggunung di TPA (Tempat Pembuangan Akhir) Antang.

Berikutnya Hajra Yansa menulis tentang “Urbanisasi Orang-Orang Massenrempulu”, kisahnya tentang orang-orang Enrekang yang tinggal di Kota Makassar.

Awalnya migrasi orang Enrekang ke Makassar dimulai saat terjadi Peristiwa DI/TII tahun ’50 sampai 60-an. Demi keselamatan dan keamanan, sebagian orang Enrekang memilih Makassar sebagai tempat pelarian. Saat itu Makassar dianggap paling aman dari gangguan kombatan DI/TII.

Migrasi kedua terjadi saat hasil pertanian menguntungkan secara ekonomi. Harga komoditi pertanian yang bagus memungkinkan orang tua mampu menyekolahkan anaknya sampai perguruan tinggi. Setelah menyelesaikan pendidikannya, sebagian besar memilih bekerja dengan beragam profesi di Makassar.

Meski tidak berprofesi petani seperti orang tuanya di Enrekang, kebiasaan bertani masih dilakukan dengan memanfaatkan pekarangan rumah. Di rumah-rumah diaspora Enrekang, sangat mudah menemukan rimbunan tanaman sayur-sayuran dan buah-buahan.

Kebiasaan diaspora Enrekang ini, secara tak langsung membantu menjaga ketersediaan pangan di Kota Makassar

Selanjutnya Aziziah Diah Aprilyah memotret transportasi umum legendaris Kota Makassar yakni Pete-Pete dalam karya fotografi berjudul “Ruang Spasi”.

Karyanya terinpirasi dari kerinduan masa lalu Aziziah, mengandalkan trasportasi pete-pete. Menurut Aziziah, dia disiplin mengatur jadwal saat menggunakan pete-pete. Hal yang sangat berbeda dirasakan saat mengendarai sepeda motor, dia sangat meremehkan waktu.

Ada perbedaan suasana dengan menggunakan pete-pete dengan kendaraan pribadi. Di pete-pete, dia bisa mendengarkan musik, membaca, dan berbagai aktivitas yang bisa dilakukan sambil duduk. Hal ini tidak ditemukan di kendaraan pribadi. Baginya, transportasi publik jauh lebih baik dibanding transportasi pribadi.

Terakhir Andi Thezar Resandy menghadirkan karya seni dengan titel “Main Klakson”, sebuah karya instalasi suara Klason Kendaraan. Klakson sangat identik dengan polusi suara, menciptakan kebisingan. Thezar melahirkan seni instalasi klakson yang terdengar ramah dan layak dinikmati sebagai karya seni.

Demikian karya delapan penulis muda yang dirangkai dengan apik dalam buku “Kota Diperam Dalam Lontang / City Soaked in Drinking Stall”. Penulis muda ini sukses merekam kisah manusia dengan segala keterbatasannya, manusia dengan keteguhan hati dan kecerdasan lokal sebagai modal untuk tetap eksis di kota yang dikatakan Smart City.

Tulisan para penulis muda ini narasi singkat sebagai pengingat bahwa masih ada kelompok masyarakat yang rentan dan membutuhkan perhatian. Pada tataran kebijakan, tanpa konsep pembangunan berkelanjutan, Makassar yang gemilang akan memangsa anak-anaknya sendiri.

Untuk itu, tulisan dan karya seni anak-anak muda ini harus terus diperbincangkan dalam diskusi-diskusi publik.

Masri Tajuddin Ros, bekerja di Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan