‘Pakkuru Sumange’ dalam Dawai Sinrilik: Sebuah Respons Seni atas Kondisi Kita Hari Ini

Malam hari, seusai diskusi lomba foto “Sunset Kayak di Pantai” yang berlangsung di Studio Artmosphere pada tanggal 2 September 2021, pengunjung terlihat bercengkrama satu sama lain. Ada yang berkunjung bersama rekan-rekannya, ada pula yang datang bersama keluarga. Para pengunjung silih berganti menikmati karya yang telah terpasang di ruang Studio Artmosphere. Karya yang telah dipamerkan di lokasi ini berupa kurasi foto-foto “Sunset Kayak di Pantai”; “Sowan Project”, sebuah video reaksi mikroskopik bahan jamu-jamuan tradisional oleh Syaiful Garibaldi dan Muhammad Akbar; serta video dokumentasi perjalanan Arif Daeng Rate mengalami Sinrilik di kampung-kampung yang ada di Pangkajene Kepulauan, Gowa, sampai Jeneponto. 

Arif Daeng Rate masuk ke arena pertunjukan dengan pakaian serba hitam diikuti dua Pakkalimbu (orang yang menutup badannya dengan sarung ⎼ red.) yang juga turut terlibat dalam pertunjukan. Penonton lainnya duduk berlesehan menyaksikan Arif Daeng Rate sedang Apparuru (upacara persiapan ⎼ red.). Dua lampu yang diletakkan di sebelah kiri dan kanan penampil menjadi penerangan malam itu. Suara rebab yang digesek oleh Arif Daeng Rate sambil mengunyah sirih menguasai panggung pertunjukan.

Ia kemudian bersila di atas panggung kecil. Di sampingnya ia telah ditemani Fadly “Alli” yang juga memainkan alat musik serupa. Kemudian dua kawannya yang lain duduk tepat di hadapan mereka dengan dekapan sarung dan lilin yang dinyalakan. Suasana pertunjukan di kampung yang mereka temukan dalam perjalanan yang telah dilakukan sebelumnya, dihadirkan dalam pementasan kali ini.

Gesekan-gesekan rebab serta senandung Arif Daeng Rate dalam Bahasa Makassar yang hangat dan dalam, mulai mendayu-dayu ke telinga penonton yang seolah tersihir dengan pertunjukan. Beberapa pasang mata penonton bahkan terlihat berkaca-kaca. Salah satu diantaranya, Ibu Muspira, yang sengaja datang untuk melihat lagi pertunjukan ini setelah sekian puluh tahun.

Pertunjukan Sinrilik ini mengusung pesan Pakkuru Sumange (pembangkit semangat ⎼ red) yang berupaya merefleksikan kembali apa yang bisa manusia upayakan pada hari ini. Di tengah pandemi Covid-19 yang belum usai, semangat menjadi salah satu kunci yang membuat orang bertahan di tengah gempuran wabah yang memukul telak seluruh sektor.  Selain itu, pertunjukan ini hendak mengingatkan kembali hakikat manusia sebagai makhluk yang sering lupa, khususnya orang-orang yang telah berdiam lama di kota dan tercerabut dari berbagai kebaikan-kebaikan adab dan perilaku sehari-hari, baik itu perilaku untuk saling memanusiakan atau pentingnya untuk terus menerus menjaga kestabilan dunia yang sungguh rapuh ini.[]

Fadhil Adiyat, tim Makassar Biennale 2021

Bagikan:

Tinggalkan Balasan