Workshop Catatan Harian Bertemakan “Practice Mindfulness with Journaling” Bersama Annisa Anindya

Sama seperti empat hari sebelumnya, FLOOM Cafe menjadi salah satu tempat berlangsungnya pameran Makassar Biennale 2021. Bedanya, pada 5 September 2021, pameran bukan satu-satunya agenda yang ada. Bertempat di dalam ruangan tepat di samping lokasi pameran, workshop berjudul “Practice Mindfulness with Journaling” diadakan. Di tengah ruangan, terdapat 10 lembar contoh kertas jurnal yang telah disediakan. Workshop dibuka oleh Jasmine Isobel selaku moderator, dengan memperkenalkan fasilitator yang akan mendampingi selama workshop, Annisa Anindya.

Di awal workshop, Annisa memperkenalkan mindfulness dan journaling yang merupakan tema dari workshop ini. Mindfulness merupakan salah satu bentuk meditasi yang dapat melatih seseorang untuk fokus terhadap keadaan sekitar dan emosi yang dirasakan serta menerimanya dengan terbuka. Mindfulness sendiri dapat dilakukan dan diterapkan dalam kegiatan journaling ─ sebuah kegiatan yang membuat catatan ─ mulai dari catatan harian, catatan kecil penelitian, hingga catatan mengenai perasaan pribadi. Annisa menjelaskan ada beberapa alasan mengapa personal journaling dilakukan: (1) membangun dan mempererat koneksi dengan diri sendiri sehingga lebih mudah untuk mengenali diri; (2) time capsule sebagai pengingat momen-momen penting, (3) wadah kreatifitas; dan (4) membangun kepercayaan diri sebagai bentuk dari hasil mempererat koneksi dan membangun diri sendiri. Inilah juga yang menjadi alasan mengapa journaling bisa dipilih menjadi salah satu bentuk terapi. Journaling, yang melatih untuk memusatkan perhatian terhadap apa yang terjadi saat ini, dipercaya dapat menenangkan pikiran dan mengingat dengan baik.

Lalu, mengapa dengan mindfulness bisa dilakukan melalui journaling? Menurut Annisa, journaling dapat menjadi salah satu pilihan yang baik dalam menyalurkan emosi. “Ketika melakukan catatan personal atau journaling, kita sebenarnya sedang menyalurkan emosi yang ada di dalam tubuh ke dalam catatan itu sendiri. Ini memudahkan diri kita untuk memahami suatu keadaan hingga akhirnya kita dapat tiba pada pilihan yang terakhir, yaitu dengan menerimanya,” 

Ada dua jenis emosi yang dirasakan, yaitu emosi positif, seperti senang dan bahagia. Kemudian ada emosi negatif, seperti saat marah dan kecewa. Kedua emosi ini dapat disalurkan dan dikelola dengan baik melalui kegiatan journaling. Namun, tidak ada keharusan untuk membaca kembali emosi-emosi yang telah dituangkan dalam jurnal. Annisa kemudian memberi contoh dari dirinya sendiri, “Biasanya saya kasih tanda semacam sticky notes di ujung bukuku itu sebagai tanda kalau ini yang perlu saya baca kembali, ini yang tidak perlu saya baca kembali. Biasanya yang bisa saya baca kembali itu emosi yang isinya emosi bahagia dan yang tidak saya baca kembali itu yang berisi emosi negatif.” Annisa menyarankan agar kegiatan journaling dilakukan secara rutin, seperti setiap hari dan menjadi catatan harian, atau mingguan, atau ketika ada momen yang dapat ditulis, baik di pagi hari, maupun sebelum tidur. Di dalam jurnal, dapat diberikan detil-detil, seperti kapan, dimana, bagaimana, mengapa, hingga warna serta bau yang berkaitan dalam suatu momen yang ditulis. Tambahan-tambahan hiasan seperti foto, bunga-bunga atau daun, hingga pewarna dapat ditambahkan ke dalam jurnal agar jurnal tidak monoton dan hanya tulisan saja. Annisa menceritakan bahwa dulu Ia memiliki kebiasaan yaitu membuat jadwal menulis jurnal di café-café dan selalu memetik daun-daunan dari café tersebut untuk ditempel di jurnalnya.

Masing-masing peserta kemudian ditantang untuk membuat jurnal mereka setelah pemberian materi usai. Jurnal ini berisi tentang apa 5 hal kecil yang kamu syukuri hari ini. Para peserta terlihat antusias dan bersemangat dalam membuat jurnal mereka. Ketika waktu membuat jurnal habis, Annisa meminta beberapa peserta membacakan isi jurnal yang telah ditulis. Jawabannya bermacam-macam, seperti bersyukur bisa menemukan rok yang matching dengan atasan, bersyukur bisa mengikuti kelas journaling ini, hingga bersyukur bisa menyanyi bersama pasangan dengan lagu favorit pasangannya.

Diakhir kelas, salah seorang peserta, Hirah, bertanya jika Annisa pernah marah hingga kehilangan minat untuk menulis jurnal. Annisa menjawab bahwa ketika ia dalam kondisi marah seperti itu, menulis pun tidak minat. Ia memaksa dirinya untuk duduk, diam, dan menarik napas. Meskipun begitu, biasanya Annisa tetap menulis, entah di buku ataupun melalui fitur catatan di ponsel pribadinya. 

Kelas ditutup dengan harapan Annisa agar setiap peserta dapat melanjutkan kegiatan journaling setelah workshop ini dan foto bersama dengan para peserta.[]

Aisyah Aulia Tahir, tim Makassar Biennale 2021

Bagikan:

Tinggalkan Balasan