Siang yang lengang di depan pintu gerbang Benteng Rotterdam pada Sabtu, 20/6. Aroma laut berembus pelan dari barat. Saya melongok jam di hape, sisa 15 menit lagi tepat jam 12 siang. Setelah memarkir sepeda motor, saya menyeberang jalan untuk mengaso bakso. Seorang melambaikan tangan, ketika mendekat ia menawarkan jasa pengantaran ke Pulau Lae-Lae. Rupanya ia seorang pappalimbang (pengemudi perahu penyeberangan), tentu saya menampik karena tujuan bukan ke sana. Siang itu saya hendak mengisi perut setelah menempuh perjalanan satu jam lebih dari Pangkep.
Sembari menikmati semangkuk bakso, saya mengirim pesan ke teman masa SMP yang ingin berjumpa, temu kangen setelah 26 tahun menyampirkan seragam putih biru. Ia menawar ketemuan di sore hari saja karena cuaca sungguh terik, saya sampaikan jika saya harus kembali ke Pangkep menjelang Magrib.
Seringkali memang janji berjumpa atau merencanakan sesuatu kerap menghindari jam-jam terik. Terlebih di sebuah kota besar seperti Makassar. Saya bisa menduga, selain terik, teman itu juga sebenarnya mengeluhkan kemacetan.
Usai melunasi semangkuk bakso, saya kembali menyeberang jalan menuju pintu gerbang Benteng Rotterdam, kaca mata yang saya gunakan sudah dilengkap lapisan photocromic, tetapi tetap saja kedua mata ini perlu dipicingkan, respons refleks atas cuaca yang terik. Cuaca panas yang sudah dirasakan global ini, bahkan, melahirkan aturan baru di gelaran Piala Dunia 2026 dengan adanya Hydration Break sebagai bentuk mitigasi mencegah dehidrasi para pemain yang berlaga.
Setelah melewati gerbang, saya berjalan lurus menuju Gedung P yang berada di bagian tengah. Bayangan gedung menjadi peneduh, di situlah saya duduk menyulut kretek. Di depan saya terpajang meriam peninggalan zaman VOC. Agak lama saya duduk di situ menyeka keringat. Tak lama kemudian pelukis Zainal Beta datang duduk bersandar, merapatkan punggungnya di roda meriam, menikmati sapuan angin. Saya menyapanya dan iseng bertanya tentang lokasi Gedung E.

Saya, Zaenal Beta, dan seorang teman yang ingin berjumpa siang itu, sepertinya merasakan hal yang sama terkait terik. Meski kami bertiga tidak bercakap lebih jauh tentang cuaca, hawa panas yang menggerahkan itu menunjukkan jika satu manusia dan manusia yang lain tengah menghadapi siklus perubahan cuaca. Itulah persoalan yang mungkin jarang dibicarakan dan kadung dianggap sebagai fenomena alam yang biasa (bagian dari takdir).
Nah, hal itulah yang coba ditawarkan di Gedung E, sebuah pameran seni bertajuk Surat-surat Cinta di Jemuran yang berlangsung selama tiga hari, dimulai pada 18 – 20 Juni 2026.
Dalam katalog pameran tertulis:
Pameran Surat-surat Cinta di Jemuran ini merupakan upaya menjembatani tentang isi hati, laku & kisah, serta seruan warga di tiga wilayah, yakni Kupang, Lombok, dan Makassar tentang tantangan-tantangan hidup yang dihadapi sejak lama terkait perubahan iklim.[1]
Sependek yang saya tahu, ini kali pertama diseminasi hasil penelitian sebuah lembaga yang terpaut pada universitas menyampaikan temuannya ke publik melalui pameran seni. MoFCREC (Model of Climate Resilience throught Community Engangement), sebentuk projek riset kolobaratif yang fokus pada model ketahanan iklim bagi kelompok rentan seperti masyarakat lokal, petani, dan nelayan di Indonesia Timur yang mencakup Lombok (NTB), Kupang (NTT), dan Makassar (Sulawesi Selatan). Penelitian dilakukan direntang waktu 2023-2025.
MoFCREC sendiri melibatkan kolaborasi peneliti dari Monash University, Universitas Hasanuddin, dan lembaga penelitian seperti KONEKSI, juga LBH APIK Sulsel, BMKG, serta Yayasan Tunas Aksara. Sedangkan instalasai karya pameran digarap oleh Tanahindie.
Pameran di Gedung E mengambil tiga ruang, ketika memulainya di ruang pertama, kita disugugkan instalasi catatan kuratorial, video dokumenter tentang petani yang mengalami gagal panen, di kiri kanan teve yang memutar dokumenter itu, ada respons artwork olahan Fauzan Al Ayyuby. Dua gambar seorang anak, Rafasya Rahmatulla juga mengambil satu sisi di ruang ini.
Kipas angin berukuran besar yang dimaksudkan sebagai penstabil udara agar pengunjung merasa nyaman, sepertinya hanya memutar sirkulasi hawa dalam ruangan. Embusan angin yang dikipaskan justru tidak menyejukkan. Suara bisingnya malah menganggu menyimak suara yang keluar dari video dukumenter. Ataukah, jangan-jangan pemasangan kipas itu bagian dari properti pameran yang hendak memberikan sensasi kepada pengunjung bila hawa panas sudah memasuki ruang tamu kita, meski kipas sudah terputar tetap saja tidak maksimal mendinginkan ruangan. Perubahan iklim sudah sejauh itu merasuki kehidupan kita.
Beralih ke ruang kedua melalui pintu di bagian tengah, instalasi tenun ikat dari Pulau Sumba, NTT memaku mata. Di ruang ini juga terdapat pajangan komik Omi, Ubi, dan Syukur! (Dr Welmince Djulete, Oni Djulete, dan Yoel Sulumasi), kolase foto Abdul Aqil Murtadho bertajuk Cerita dari Kupang Indonesia, juga video dokumenter yang mengisahkan Lombok.
Di ruang ketiga, kita akan berjumpa dengan kisah warga yang mendiami sisi utara Makassar, selain dokumenter, terdapat kolase foto dari Almubdy Siraj Ramadhan dan Ari Putra Anugerah tentang permukiman warga di bantaran sungai di Jalan Barukang. Di dekade 80-an, rupanya orang-orang dari Maros dan Pangkep yang memulai membangun permukiman di kawasan ini. Informasi ini mengingatkan saya pada cerita warga di Desa Kabba, desa saya di Pangkep, tentang bagaimana orang-orang meninggalkan kampung menuju Ujung Pandang, nama Makassar saat itu. Saya tidak tahu persis, apakah penghuni awal di Barukang itu ada juga dari desa saya. Terkait ini tentu perlu penelusuran lebih lanjut.
Cerita foto Almubdy dan Ari merentang dari politik lahan yang dialami warga dan menemukan ruang bermain anak semakin menyempit hingga sungai yang kotor pun menjadi wahana bermain, potret sosial anak sudah terjun ke dunia kerja di pelelangan ikan Paotere, perempuan lansia yang masih berkelahi dengan waktu untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, hingga kisah pilu perempuan disabilitas melahirkan anak yang entah siapa bapaknya.
Surat cinta di jemuran itu ada di ruang ketiga ini. Sampiran kain berisi curahan isi hati anak-anak di Barukang. Jika membaca saksama, muatan curahan Adhelia Nur Qalby, Rafasya Rahmatulla, dan Putri Helena Febriana Ubra. Muaranya sama, kembali ke rahim. Frasa seperti: saya ingin membahagiakan kedua orang tua/kerja untuk orang tua/bisa membuat orang tua bangga. Terbaca klise memang. Akan tetapi tidak berdusta. Bagi saya itu sangat radikal dalam pengertiannya kembali ke sumber.

Ketiga anak di permukiman pesisir Barukang berusia 9, 11, dan 12 tahun itu berani menuliskan curahan hatinya melalui lokakarya menggambar di Kelompok Wanita Nelayan Fatimah Azzahra. Jasmine Isobel Hanan Badriyah (Bobel) yang melakukan riset dunia anak di Barukang memasukinya lewat lokakarya menggambar.
Tema gambar yang saya berikan mengenai isu lingkungan dan perubahan iklim. Akan tetapi saya berusaha mempermudahkan bahasa saya ke anak-anak agar mereka bisa mengerti. Soalnya kata `perubahan iklim’ di lingkungan anak-anak di sana terlalu sulit untuk dipahami, apalagi bahasa formal itu sangat jarang didengarkan. Perlu banyak penjelasan dalam bahasa gampang ataupun bahasa singkatnya.[2]
Dalam dunia gerakan lingkungan dan folk dari berbagai wilayah di belahan dunia, istilah Ibu Bumi adalah tengara, titik pijak untuk melihat dan merefleksikan dari mana semua berasal. Kita akhirnya mafhum mengapa misalnya, foto Abdul Aqil Murtadho memberikan ruang lebih pada petani perempuan untuk bersuara melalui jepretan mata lensanya. Ibu Bumi telah memberi segalanya, tetapi ada tangan-tangan yang merusaknya.

Di komik strip juga demikian, bagaimana imajinasi anak perempuan bernama Omi mendorong keberdayaan hidup rumah tangga pertanian skala kecil di Kupang, NTT yang perlu menyiasati hasil jagung yang gagal, ide Omi tentang membuat kerupuk ubi untuk dijual memantik pengetahuan lokal Bapa Daniel menanam ubi lebih banyak karena ubi bisa tumbuh walau hujan sedikit.
Jika ditelusuri lebih lanjut, hal ini bisa mengantarkan kita pada kolonialisme pertanian yang mengubah pola tanam warga tempatan dengan komoditas pangan bernilai ekspor, meski pada praktiknya sirkulasi ekspor hanya menguntungkan oligarki dalam sistem rezim pangan.
Dalam buku Ura Timu, Etnografi Iklim Mikro Flores (Insist Press: 2022) warga tempatan sudah mengenal siklus pembacaan musim yang menopang keberlangsungan pertanian. Seiring waktu, program pemerintah mengenalkan metode baru dengan mewajibkan menanam bibit pangan tertentu.
Secara umum lanskap pertanian di NTT baru mengenal jagung di awal tahun 2000-an, tentu dari program pemerintah. Jauh sebelumnya, tumbuhan pangan lokal seperti ubi endemik yang disebut Ubi Nuabosi merupakan pangan lokal yang telah menjadi identitas lintas generasi.
Kisah dalam komik yang menampilkan keluarga petani di NTT, sedikit banyaknya hendak menyuarakan bagaimana ketahanan pangan dan ekonomi warga melalui pangan lokal adalah jawaban atas situasi perubahan iklim. Membaca lebih dekat latar keluarga petani kecil dalam komik mengingatkan saya pada argumen Karno B Batiran yang menuliskan penelitiannya tentang bagaimana pertanian skala kecil berbasis keluarga di Desa Tompobulu, Balocci, Pangkep di Sulawesi Selatan berpeluang sebagai siasat organik warga dalam memitigasi diri dari dampak perubahan iklim.[3]Bandingkan kemudian dengan kengototan pemerintah yang hendak membangun pertanian terpusat yang menyulap hutan dan lahan gambut sebagai basis produksi.

Jalan Percakapan
Pustaka yang menyajikan dampak perubahan iklim boleh dibilang sudah melimpah. Ada begitu banyak varian penyajian mulai dari paper, jurnal, buku, film, atau feature di media massa. Fenomena juga sudah dirasakan langsung, seperti hujan yang sebentar yang kemudian segera dinamai sebagai hujan lokal karena fenomena seperti itu baru dirasakan sekisar lima atau sepuluh tahun belakangan, khususnya di Sulawesi Selatan. Bisa saja hujan lebat turun di Jalan Barukang, sementara di Jalan Perintis tampak cerah.
Di emperan depan Gedung E, saya bercakap dengan Anwar Jimpe Rachman, kurator pameran. Saya utarakan apakah naskah penelitian oleh peneliti dari MoFCREC akan dibukukan. Ia menjawab tidak tahu seperti apa nanti. Saya menyimpan pertanyaan perihal seperti apa tim produksi di Tanahindie menerjemahkan hasil penelitian itu ke dalam pameran seni sebagai medium diseminasi karena ada teman Jimpe yang ikut nimbrung dalam obrolan.

Jauh hari, dari sekian banyak tumpukan obrolan dengan Jimpe tentang penelitian, ia memberi garis tebal kalau hasil penelitian akademis cenderung kaku, persis di situlah patoknya, draf perubahan cuaca yang lahir dari rahim penelitian akademis yang kemudian ditafsir ke medium seni.
Namun, melalui paper yang dibagikan kepada pengunjung, temuan di wilayah Lombok dan Kupang dihasilkan dari riset MoFCREC, sedangkan konteks Makassar, riset partisipatif dilakukan Tanahindie. Saya melihat properti pameran tidak menyajikan provokasi visual, tampaknya menjadi pilihan untuk menyajikan yang organik. Medan kerja Tanahindie yang saya akrabi tujuh tahun terakhir sejak berinteraksi lebih dalam melalui kerja kolaboratif yang sudah dilalui sejak 2019.
Penelitian ini menyoroti pentingnya pengetahuan lokal, jaringan sosial, sistem gotong royong, dan praktik-praktik adaptasi berbasis komunitas dalam memperkuat ketahanan masyarakat. Alih-alih hanya berfokus pada kerentangan, penelitian ini menekankan kapasitas kreativitas, dan peran aktif masyarakat yang hidup di garis depan krisis iklim.[4]
Saya memandang pameran seni ini memanglah menawarkan percakapan sebagaimana ditegaskan Jimpe dalam catatan kuratorialnya:
Fenomena ini bukan lagi ancaman masa depan; justru sudah lama terjadi dan dampaknya merebak ke warga di semua tempat. Untuk itulah ekshibisi ini menjadi salah satu jalan percakapan perihal dampak yang mereka hadapi dan siasat-siasat atas itu. Semua itu demi berderet harapan yang tetap mereka hidupkan.[5]
Selepas magrib saya meninggalkan Benteng Rotterdam, kembali melajukan sepeda motor menembus malam. Di sepanjang perjalanan terbayang banyak hal, teringat tetangga kompleks yang kerap memasang jemuran portabelnya di depan rumah hingga menjadikan pagar sebagai jemuran. Ia senang menjemur pakaiannya di sana karena rumah saya menghadap ke timur, limpahan matahari pagi sudah cukup mengeringkan hingga pukul 10 pagi.
Di suatu sore ketika bercakap, ia mengeluhkan panas yang menyengat. Ia tidak lagi menjemur pakaiannya hingga sore, “Kalau begini panas ka, bisa-bisa luntur warna pakaian ka,” ucapnya. Saya memahami maksud ucapannya, dalam tindakannya memperlakukan jemuran, tetangga itu sudah menerapkan mitigasi atas perubahan cuaca.
Saya juga ingat kedua anak saya yang tidak betah tidur di kamar karena panas, keduanya memilih menghampar kasur di ruang tamu. Keduanya akan lelap dengan putaran kipas yang membuat saya harus bangun di malam buta mematikan kipas atau memantulkannya ke tembok agar embusannya tidak langsung menampar tubuh mereka yang sedang lelap. Itu pun perlu hati-hati, jika keduanya sadar, mereka akan bangun, ngambek, lalu memperbaiki kembali arah putaran kipas.
Sekisar satu jam lebih kemudian, menjelang sampai di pintu gerbang kompleks perumahan, saya singgah di toko kelontong membeli rokok persiapan begadang menonton laga Piala Dunia. Lalu terlintas di benak, mungkin ke depan saya harus merenovasi jendela rumah, menggantinya dengan kusen lebih besar serupa jendela di gedung-gedung di Benteng Rotterdam agar cahaya lebih melimpah dan sirkulasi angin lebih bebas keluar masuk.
Ya, sisa bercakap dengan istri untuk mewujudkannya. Mungkin dengan percakapan mengenai rencana renovasi jendela rumah, istri bisa memahami bagaimana cara mengendalikan hawa panas di rumah mungil di sebuah kompleks tanpa pohon peneduh.
F Daus AR, mengasuh Rumah Saraung, Pangkep.
[1] Katalog Pameran Seni Surat-surat Cinta di Jemuran, Tanahindie, 2026.
[2] Ibid, hal. 37.
[3] Karno B Batiran, “Pertanian Skala Kecil Versus Dampak Perubahan Iklim: Kasus Desa Tompobulu, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan”, Jurnal Wacana 29/XV/2013, Yogyakarta: Insist Press, 2013, hal. 91-112.
[4] Paper Pameran: Membangun Model Ketahanan Iklim Melalui Pelibatan Masyarakat di Indonesia Timur (Riset MoFCREC).
[5] Op.cit., hal. v.

Tinggalkan Balasan