Bencana alam kerap tiba ketika manusia belum siap. Meski begitu, kesiapan rupanya bukan hanya soal membeli dan menyetok bahan makanan di rumah. Ada juga soal cara hidup dan berpikir. Itu yang setidaknya terlihat pada warga Nabire, Papua Tengah, ketika gempa berkekuatan 7 skala richter mengguncang pada tahun 2004. Secara tidak sadar, beberapa warga membentengi diri mereka dengan berkebun. Sementara yang tidak, banyak juga menikmati hasil kebun itu lantaran si pemilik merelakan bahan-bahannya pada satu loyang untuk dimakan bersama, selain menunggu bantuan makanan tiba.
Ini juga lahirkan satu fenomena baru dalam arsitektur warga, ketika mereka mesti memikirkan ulang cara membangung hunian agar aman dari guncanagan gempa: menjadi setengah tembok dan setengah kayu. Bangunan-bangunan ini pada mulanya hadir sebagai bantuan bencana pada warga yang rumahnya ambruk tak tersisa—sementara yang masih berdiri dua atau tiga tiang, urung akses bantuan itu—lalu jadi patokan bagi warga sekitar jika ingin bangun hunian baru.
Ada begitu banyak juga fenomena-fenomena pasca gempa yang jadi satu penanda pasca guncangan itu. Ini yang akan dihadirkan ke publik lewat pameran karya seni rupa Wallacea Biennale 2026 di Ruko Girimulyo (deretan ruko Apotek Ohana) pada 3 – 10 Oktober 2026. Kolektif Stereo, sebagai kolektif yang menginisiasi pameran ini, membayangkan terjadi pertukaran pengetahuan lintas generasi untuk merawat cara hidup dan berpikir ketika gempa ini terjadi.
“Penting bagi kami melihat pameran ini sebagai proses menghubungkan ulang anak muda dan kotanya. Ini kami sadari lantaran kota ini seperti sudah melupakan gempa bumi dari cara bangunan-bangunan baru didirikan: berlantai lebih dari dua dengan material semen dan beton. Saya percaya, sejarah kota melahirkan cara berpikir dan gestur khas dari setiap penghuninya. Ini penting lantaran ke depannya kota ini bakal tumbuh lebih banyak gedung setelah menjadi ibukota provinsi Papua Tengah,” jelas Fauzan Al Ayyuby, kurator Wallacea Biennale Nabire.
Lebih jauh, Fauzan menjelaskan tema ini spesifik diangkat karena menyangkut memori kolektif kota ini dan manusianya, sementara banyak hal terjadi dengan sangat cepat seperti ingin menimbun pengetahuan soal kota dan manusia itu sendiri dalam perspektif bencana alam.
Pameran ini berwujud proyek dan forum seni & kebudayaan dua tahunan kota-kota di lingkung wilayah Garis Wallacea sebagai siasat berjejaring dan metode bekerja bersama. Ini sekaligus kelanjutan program-program yang pernah dijalankan oleh tim 5 kota selama Makassar Biennale 2019 – 2024.
Tahun ini Wallacea Biennale diikuti oleh 7 seniman dari Papua: Belandina Yeimo (Nabire), Julio Christopher (Jayapura), Jhon Anes Ukago (Nabire), Febriany Ashari (Jayapura), Qalmi Nurqalbi (Jayapura), Franxiskus Xaverius Yogi (Nabire), dan Wiwith (Nabire).
Acara ini terbuka untuk umum dan gratis. Harapan penyelenggara, pameran ini jadi sebuah ruang bersama untuk berdialog soal bencana alam dan cara hidup bersamanya. Ini semacam juga jadi penghubung dengan meminjam pengetahuan warga kepada warga untuk mengetahui siasat-siasat mereka serta apa saja yang terjadi di masa itu.

Tinggalkan Balasan