Optimisme Seni Rupa di Makassar

Pameran karya Celebes ArtLink menyodorkan tema sentral “Makassar Sebagai Medan Seni Rupa dan Masa Depan Seni Rupa Indonesia Timur” dalam sesi Art Talk dengan menampilkan puluhan lukisan para seniman dari Kalimantan, Sulawesi, Bali, hingga Papua.

Art Talk menjadi salah satu visi Celebes ArtLink dengan menyelipkan diskusi dalam merespons ruang hotel bukan hanya sebagai ruang untuk berdiskusi, tetapi juga tentang bagaimana karya para seniman berkomunikasi dengan ruangnya dalam membangun atmosfir baru.

Diskusi yang dihadiri puluhan peserta yang kebanyakan mahasiswa ini, berlangsung atas kerja sama Harper Perintis Makassar – Gurat Institute – Fakultas Seni dan Desain Universitas Negeri Makassar di Hotel Harper Perintis, Sabtu 24 November 2018. Dengan menghadirkan Kepala Galeri Nasional Indonesia Drs. Pustanto, kurator dan akademisi Wayan Seriyoga Parta, dan Anwar ‘Jimpe’ Rachman Direktur Makassar Biennale sebagai pembicara.

Posisi Makassar yang strategis sebagai hub Indonesia bagian tengah-timur; bagi jalur transportasi laut dan udara sekaligus sebagai pusat pertumbuhan ekonomi kawasan, hotel-hotel terus bertumbuh memenuhi kebutuhan ekonomi dan tempat transit menjadi salah satu alasan Celebes ArtLink diselenggarakan di kota ini.

Celebes ArtLink merupakan sebuah proyek apresiasi kawasan sebagai upaya untuk membagun model destinasi dalam pengembangan pariwisata berbasis budaya di wilayah Indonesia Tengah-Timur melalui seni rupa dengan model mini festival, demikian kata Wayan Seriyoga Parta, inisiator kegiatan ini.

Selain itu, kata Wayan Seriyoga, Celebes ArtLink dapat dilihat sebagai pendulum masa depan Makassar sebagai medan seni rupa Indonesia Timur. Dengan kata lain, “kami hanya mencoba menempatkan atau merespons hotel, bagaimana ruang hotel dikomunikasikan dengan karya yang kedepannya dapat melahirkan sebuah market. Ada aktivitas jual beli di dalamnya,” cetusnya.

“Harper sendiri sebagai sponsor utama kegiatan ini merupakan sebuah perusahaan swasta yang memiliki jaringan luas, tidak hanya sesama perusahaan swasta lainnya, tetapi juga sangat berkaitan dengan pemerintah daerah sehingga dapat dilihat sebagai peluang yang luar biasa untuk bisa didorong dan dikembangkan dalam pemajuan kebudayaan,” sambung Wayan Seriyoga yang juga sebagai dosen di Universitas Negeri Gorontalo.

Seturut dengan hal tersebut, Pustanto, Kepala Galeri Nasional Indonesia, dalam kesempatannya mengatakan bahwa ide dari Celebes ArtLink ini sejalan dengan semangat Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan, di mana dengan lahirnya Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan kita punya setidaknya empat hal dalam mewujudkannya yaitu: perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan.

Pustanto kemudian menceritakan model serupa yang dilakukan di Jakarta sebagai mediator dalam mewujudkan proses-proses kebudayaan. Beliau mengungkapkan, selain kewajiban Galeri Nasional dalam menyediakan tempat terjadinya apresiasi, bertemunya kreator dengan apresiator, juga memiliki beragam koleksi yang dapat dijadikan sebagai bahan riset dari beragam sisi atau disiplin ilmu.

“Mediator dalam hal ini termasuk panitia, kurator, dan akademisi. Sedangkan apresiator yaitu masyarakat umum terutama mahasiswa yang datang dengan mengapresiasi karya para seniman (kreator). Misalnya mempertanyakan soal konsep, tema, dan banyak hal yang dapat digali dari setiap karya, meskipun multitafsir pasti akan terjadi,” jelas Pustanto.

Di sisi lain, Pustanto menegaskan bahwa tugas kita mesti saling merangkul dalam mengerjakan suatu kegiatan bersama. Banyaknya rincian dalam pembagian-pembagian profesi di era sekarang harus kita terima dan wujudkan bersama untuk membangun Indonesia yang makmur, sejahtera, lahir dan batin.

Peran Manajemen

Peran manajemen menjadi hal penting dan sangat krusial dalam berbagai aktivitas, termasuk aktivitas kebudayaan, khususnya seni rupa, pola manajemen sehari-hari mesti kita perhatikan. Sebagai contoh, kata Pustanto, banyak pelukis-pelukis yang dengan asyik melukis di dalam ruangan dengan media cat minyak, yang akhirnya merusak paru-parunya. Makanya, kesadaran-kesadaran semacam itu perlu dibangun dengan manajemen.

“Kita telah kehilangan manajemen dari hal-hal kecil, kita kehilangan suri teladan, hal semacam ini harusnya diajarkan mulai dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi,” lanjutnya.

Di kesempatan lain, Yoga menanggapi persoalan tentang manajemen dengan melihat Kota Makassar sebagai kota besar dengan pertumbuhan yang begitu pesat sehingga memerlukan manajemen sebagai hal yang esensial. “Sebenarnya bukan hanya Makassar yang mengalami persoalan manajemen, tetapi di berbagai tempat seperti Gorontalo dan Bali,” ungkapnya.

Penjelasan yang sama menyangkut manajemen juga dikatakan Anwar ‘Jimpe’ Rachman, Direktur Makassar Biennale. Ia mengatakan bahwa manajemen menjadi hal yang sangat penting. Sesuatu yang kerap kali ia tegaskan dalam berbagai aktivitas, terutama dalam lingkungan komunitas serta hubungannya dengan aktivitas-aktivitas artistik para seniman. Lebih jauh, manajeman dalam menyajikan dan merawat sebuah karya, bukan hanya sekadar karya (fisik).

“Hal yang penting terjadi dalam satu pameran adalah pra, pameran, dan pasca. Pra berarti pertemuan dan konsolidasi sedangkan pasca berarti obrolan yang berkembang setelah pameran,” sambungnya.

Menurut Anwar ‘Jimpe’ Rachman, tantangan besar yang dihadapi di Makassar adalah soal kolaborasi atau saling merangkul seperti yang dikatakan Pak Pustanto sebelumnya. Jadi, lebih ke bagaimana mengakumulasi modal-modal yang sebelumnya sudah tersedia.

“Kalau kolaborasi atau saling merangkul sudah dibiasakan di Makassar maka akan terlihat menarik karena secara teknis teman-teman seniman di Makassar maupun mahasiswa sudah beres. Saya angkat topi,” imbuhnya.

Dengan kata kunci ‘saling merangkul’, Faisal Syarif, seniman asal Makassar kemudian angkat suara. Ia menanggapi bahwa kami sudah saling merangkul. Diskusi intens bersama teman-teman seniman sering kali dilakukan. Gagasan dari teman-teman itu yang menarik adalah kita tidak perlu lagi melihat keluar, justru kita mulai membangun di rumah kita sendiri.

“Sekarang waktunya untuk membulatkan tekad bersama-sama untuk membangun seni rupa di Makassar dan saya semakin yakin bahwa seni rupa di Makassar akan semakin berkembang, apalagi era sekarang sebagai era kebaruan menjadi sebuah momentum. Kita hanya perlu berkontemplasi kembali untuk melakukan pembacaan ulang dalam membangun Makassar sebagai medan seni rupa Indonesia Timur, jelas Faisal Syarif.

Menurut Yoga, saat ini setidaknya ada dua kanon besar dalam melihat masa depan Makassar sebagai medan seni rupa Indonesia Timur. “Makassar Biennale yang sudah extend dua kali dengan formatnya tersendiri sudah luar biasa, terlepas dari apapun yang terjadi dalam prosesnya. Gerakan seni rupa yang dengan cepat bergerak menjadikan saya semakin optimis sehingga saya cukup nekad menghadirkan Celebes ArtLink dengan gagasan yang lebih sederhana.”

Berkenan dengan Biennale, Anwar ‘Jimpe’ Rachman selaku Direktur Makassar Biennale menyampaikan informasi terkait rencana Makassar Biennale 2019. Ia menegaskan bahwa Makassar Biennale 2019 temanya tetap ‘Maritim’, hanya dengan sub judul yang berganti. Ada tiga hal yang akan dibahas: pertama, tentang Migrasi (perpindahan orang dalam dunia maritim), kedua, tentang Sungai sebagai salah satu wadah dalam dunia maritim, dan ketiga, tentang Kuliner.

“Tiga sub tema ini akan diobrolkan di Makassar Biennale tahun depan, yang rencananya akan berlangsung selama 3 bulan (Agustus-Oktober) di banyak tempat. Lokasinya untuk sementara yaitu Makassar, Pare-Pare, Sulawesi Barat, dan saat ini sedang menjajaki Kabupaten Bantaeng,” ungkap ‘Jimpe’, demikian sapaan akrabnya.

Dalam kesempatan sesi tanya jawab, salah satu peserta menanyakan tentang karya seni rupa yang baik itu seperti apa?

Pustanto kemudian menanggapi pertanyaan ini, dengan menjelaskan bahwa tidak ada secara khusus teori yang menyebutkan karya yang bagus dari segi bentuk, komposisi, dan sebagainya itu seperti ini, misalnya. Namun, ketika panca indera dan hati dapat menikmati sebuah karya berarti kreator atau senimannya telah berhasil. Jadi, kuncinya adalah membangun komunikasi. Karya dikomunikasikan dan dipublikasikan melalui tulisan, foto, video, dan bentuk lainnya.

Tanggapan serupa juga disampaikan ‘Jimpe’. Ia mengatakan bahwa karya yang baik adalah karya yang membuat orang terhubung. Dalam artian, apa yang dibicarakan dalam karya tersebut dan bagaimana orang terlibat di dalam karya itu.

‘Jimpe’ melanjutkan dengan menceritakan pengalamannya sebagai kurator di Jakarta Biennale 2015, dengan mengutip catatan kuratorialnya. “Ada masa ketika saya semester tiga atau empat dan tiba-tiba ke pameran kemudian bertanya kepada diri saya sendiri bahwa bagaimana orang yang seperti saya yang menyukai seni tetapi tidak tahu secara teknis, bisa terlibat di dalamnya. Saat itu tidak ada penjelasan sama sekali. Dua puluh tahun baru terjawab di Jakarta Biennale 2015.”

“Dalam skala kecil, Jakarta Biennale kemudian mengonfirmasi apa yang saya lakukan di Kampung Buku bersama teman-teman bahwa literasi tidak melulu tentang membaca dan menulis, literasi adalah juga tentang bentuk, tentang seni rupa, tentang jaringan, tentang apapun, dan sebagainya, jelasnya.”

Rafsanjani, Mahasiswa Antropologi Universitas Negeri Makassar dan sedang belajar meneliti di Tanahindie.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan