Makassar Art Initiative Movement: “Art of Process”

Makassar Art Initiative Movement (MAIM), merupakan gerakan kesadaran seni rupa di Makassar yang bercita-cita menyebarkan “virus” semangat berkesenian yang total, kreatif, maksimal, dan menampilkan ide-ide segar yang inovatif memiliki nilai kebaruan. Gerakan ini memiliki harapan besar Makassar dapat menjadi medan tumbuh kembangnya dunia seni rupa yang dinamis dan dialektik.

Penekanan kata “initiative” menandakan gerakan ini lahir dari kesadaran yang tumbuh dari dalam diri perupa, yang siap untuk bergerak dinamis menumbuhkan gagasan dan gerakan seni rupa secara mandiri. Gerakan ini dilandasi dengan kekuatan spirit “art from the soul“, sebagai titik api dari kreativitas meretas segala stagnasi lahir dan batin.

MAIM sangat menekankan pada rekonsiliasi antar personalitas secara terbuka dengan semangat dialektika, mencoba secara bersama mulai menantang diri keluar dari zona nyaman masing-masing, dengan spirit transformasi untuk mencoba gagasan-gagasan baru dan inovatif.

MAIM membawa spirit baru dalam memaknai hambatan dan tantangan proses kreativitas yang terkadang dirasakan bak tembok besar, oleh individu perupa dengan aspek internal dan eksternal yang begitu kompleks. Gerakan yang menyadari bahwa permasalahan bukanlah hambatan, tetapi merupakan sumber atau sumur ide yang bila disentuh dengan ‘spirit seni’ bisa melahirkan karya yang inspiratif, edukatif, healing terapi dan bahkan nilai ekonomi kreatif (entrepreneurship). Semua itu akan menjadi indah jika dibangun dengan kesadaran kebersamaan dan silaturahim antar perupa sebagai kekuatan sosial seni rupa. MAIM membangun keyakinan yang kuat akan totalitas penyerahan diri melalui seni dan melebur dalam kekuasaan dan keagungan Sang Khalik, untuk sebuah tujuan yang mulia. Kontinuitas menjadi mutlak karena semua bergantung pada proses, karena proses tidak akan menghianati hasil. Dengan kesadaran, untuk spirit tranformatif sesuai dengan gerak laku zaman, namun tidak larut ditelan dinamika ruang dan waktu, inisiatif adalah kata kuncinya. 

Pengantar Kuratorial “The Art of Process”

Pameran tidak saja sebatas memajang dan memamerkan karya seni rupa ke hadapan publik, sebuah pameran memiliki tujuan yang dikonsepkan dan dirancang dengan baik. Karena itu sebuah pameran tidak hanya sekedar memajang atau memindahkan karya yang telah selesai dari ruang privat (studio) seniman kehadapan publik. Ada landasan konseptual bahkan ada strategi-strategi tertentu di dalam presentasi sebuah event pameran. Dengan kata lain ada aspek “politis” di dalam representasi karya pada ruang pameran (politic of representation). 

Pengertian politik dalam hal ini tentunya tidak merujuk pada politik praktis, tetapi strategi dalam mendapatkan apresiasi publik. Strategi tersebut tercermin dalam konsep representasi yang dihadirkan oleh seniman dalam karyanya, dan juga dalam aspek presentasi di ruang pamer. Dalam konteks ini karya seni (rupa) sudah menjadi medium bagi seniman untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya. Banyak contoh kasus yang menunjukkan fenomena itu. Salah satunya yang fenomenal di dunia seni rupa adalah ketika Marcel Duchamp memamerkan urionir (tempat kecing) pada sebuah pameran. Karya seni (rupa) dalam konteks tersebut, sudah tidak lagi hanya menghadirkan keindahan tetapi seni sebagai medium refleksi, medium katarsis, bahkan medium bagi kritisisme[1].

Sebuah benda atau konstelasi rupa dimaknai atau dikategori sebagai karya seni (rupa) disebabkan ada sebuah konvensi terhadapnya, konvensi itu mensyaratkan aspek dan kondisi yang memiliki keterkaitan siginfikan. Bahwa benda atau fenomena itu dikondisikan dalam sebuah ruang pameran, ruang itu dapat berupa gedung (bangunan) dan juga ruang terbuka. Selanjutnya ada otoritas yang mentasbihkannya sebagai karya seni (rupa), otoritas yang pertama ada ditangan seniman, selanjutnya oleh segenap entitas pelaku dalam medan sosial (seni) itu sendiri. Pembahasan perihal seputaran otoritas dalam karya seni (rupa) ini memang selalu akan memunculkan perdebatan, sepertinya akan selalu menjadi problematika pada tubuh seni rupa sendiri. Telah dimulai sejak berabad-abad lalu, ketika Sokrates mulai membahasa perihal keindahan yang kemudian melahirkan filsafat seni (estetika).

Karya seni tidak cukup dilihat sebagai benda jadi yang hadir dengan kualitas estetik dan artistiknya semata, sebuah karya seni lahir dari pergulatan yang panjang sedari proses ide hingga proses perwujudan dari sang perupa. Proses itu sejatinya begitu komplek dan menarik jika dimaknai sebagai bagian dari perjalanan yang menghantarkan kelahiran sebuah karya. Tetapi, umumnya para perupa beranggapan bahwa proses itu adalah bagian dari “rahasia dapur” yang tabu untuk disampaian apalagi dibagikan kepada audiens. Sehingga dibutuhkan sebuah keberanian untuk menjadikan sebuah proses sebagai bagian dari konsep pameran apalagi kemudian dipresentasikan ke ruang pameran.

Konsep inilah yang coba dipresentasikan oleh para perupa Makassar yang tergabung dalam wadah Makassar Initiative Art Movement (MAIM). Mereka tengah bersiap mendeklarasikan dirinya sebagai sebuah gerakan (movement) perupa yang akan menampilkan wajah baru seni rupa kontemporer Makassar. Tidak salah juga kalau kemudian gerakan ini dapat diproyeksikan sebagai sebuah gerakan yang cukup mutahir bagi kebangkitan seni rupa Indonesia bagian Timur. 

Wacana ke-Timur-an ini cukup penting kembali diungkap, karena menimbang ke-Indonesia-an dalam seni rupa selama ini hanya berpusaran pada perkembangan yang terjadi di daerah Jawa dan Bali saja. Hampir tidak pernah tersentuh pembahasan tentang perkembangan yang terjadi di luar itu. Persoalan ini menyelimuti seni rupa Indonesia yang daerah begitu luas terdiri dari beribu-ribu pulau yang membentang luas dari Timur sampai ke Barat dari Utara ke Selatan. Sangat disayangkan karena lingkup wilayah yang sangat luas itu, namun perkembangan seni rupa modern-kotemporer Indonesia hanya terfragmentasi pada beberapa daerah yang kemudian menjelma menjadi pusat-pusat dinamika. Kalaupun ada pembacaan tentang seni rupa daerah, cenderung hanya mengisi pembahasan tentang khasanah kesenian tradisi, atau bahkan seni yang dikategorikan sebagai seni primitif. Semenjak awal abad ke 20, pembahasan seni modern Indonesia nyaris hanya membicarakan dinamika yang terjadi di Jawa dan Bali. Selama puluhan tahun wacana perkembangan seni rupa Indonesia sungguh tidak merata. Padahal potensi daerah sangat kaya dan beragam[2].

Sudah saatnya perupa daerah Timur seperti Makassar mulai secara intensif merancang sebuah gerakan seni rupa dengan dibarengi pengelolaan event yang direncanakan dengan target jangka menengah dan jangka panjang. Seperti gerakan di dalam MAIM memang sedang mengarahkan diri mereka ke tujuan tersebut. Hal ini dapat dilihat program-program dalam MAIM, dimulai dengan pameran perdana “art of process” sebagai langkah awal Pre Event yang dilaksanakan tanggal 18 Februari 2019 di Galeri Seni Rupa “Colli Pakue” FSR UNM. Mereka akan menghadirkan pameran yang tidak biasa, yaitu seni sebagai proses (the art of process). Menghadirkan presentasi yang tidak biasa dengan membuat display menghadirkan studio masing-masing di dalam ruang pameran, sebagai presentasi pameran itu sendiri. 

Setelah menjalaniproses persiapan yang cukup intens, mulai dari penyamaan persepsi hingga diskusi saling berjibaku perihal ide dan gagasan masing-masing eksponen, dalam program self curating. Sebagai kurator yang didaulat mendapingi proses para perupa,dalam pandangan saya pameran ini menghadirkan penafsiran yang cukup kompleks mengenai proses. Jika diibaratkan sebagai sebuah sistem narasi proses itu menyangkut awal, tengah dan akhir. Rangkaian inilah yang dihadirkan di dalam ruang pameran, ada display studio dari beberapa perupa dengan presentasinya masing-masing, dengan sebuah seting studio bersama yang menjadi markas mereka dalam berjibaku bersama dan seringkali tidak perduli dengan waktu. Ada beberapa karya instalasi dan karya yang bersifat partisipatoris, dan juga ada karya yang sangat konvensional yaitu lukisan, yang hanya menghadirkan ujung akhir dari serangkaian gagasan dan proses panjang dan kompleks yang dijalani. 

Presentasi pameran ini mencoba memaknai proses sebagai sebuah rangkaian  yang kompleks dan sangat penting dari sebuah kesuksesan, pun sebuah penundaan yang sering kita sebut sebagai ‘gagal’. Pameran ini ingin menunjukkan bahwa hasil akhir adalah konsekuensi dari proses yang dijalani, dan sebetulnya tidak tabu untuk diungkapkan. Karena proses itu sendiri sangat kaya akan nilai dan makna, proses adalah sebuah transpormasi dari gagasan menuju hasil. Di dalam proses ‘kita’ dapat mendapatkan berbagai pelajaran, tidak hanya pengalaman bekarya, tetapi juga menyangkut pengalaman hidup. Proses adalah problem solving, upaya terus menerus untuk menghadapi setiap permasalahan, singkat kata proses memberikan banyak hal. Bahkan transformasi personal ke arah kreativitas yang tanpa batas, tanpa sekat dan tanpa belenggu. Melampaui batas-batas zona kenyamanan masing-masing, yang tentunya bukanlah hal yang mudah untuk dijalani.

Mungkin presentasi pameran seperti ini tidak biasa bagi publik Makassar, tapi itulah spirit dari gerakan MAIM memang bertujuan untuk membuka pemahaman ‘baru’ audien dalam memahami karya seni rupa. Bahwa karya seni rupa bukan hanya sebuah artefak jadi yang hadir dengan frekuensi di dalam ruang pameran yang tertata seoalah tidak ada cela. Tetapi sebuah pameran dapat juga sebuah proses dimana audien diajak untuk melihat ke dalam ruang privat proses berkarya seorang perupa. Mereka dapat berinteraksi bukan hanya soal makna dari karya, tetapi juga perihal alat, media, teknik dan perihal yang lebih mendalam dari pengalaman perupa di dalam berkarya. Tentu pameran ini jauh dari sempurna, tetapi paling tidak para perupa yang tergabung di dalam MAIM telah mencoba untuk memulainya, ini masih proses awal dan terus akan berposes seiring dengan waktu. 

I Wayan Seriyoga Parta (Kurator) 


[1]Pernyataan ini dikutip dan diredaksikan kembali dari esai penulis berjudul Niti Bumi: Realitas, Intepretasi dan “Politik” Representasi pada pengantar pameran Kelompok Niti Rupa “Niti Bumi” di Bentara Budaya Bali tahun 2015

[2] Pernyataan ini dikutip dan diredaksikan kembali dari esai penulis pada pengantar pameran Keliling koleksi Galeri Nasional dan perupa Gorontalo “Modulango Lipu” Museum Popaeyato Gorontalo, tahun 2017

Bagikan:

Tinggalkan Balasan