Catatan Berburu “Sanro” di Pangkep

Sekitar sepuluh menit saya menunggu Saenal di jalan poros Baru-Baru Tanga (BBT), ia segera meninggalkan Warkop Shiniki, tempat favoritnya, begitu saya menyampaikan lewat telepon kalau saya sudah di jalan masuk BBT. Penjelasan itu tentu sudah ia pahami karena sebelumnya, beberapa jam lalu, lewat pesan WhatsApp sudah menyepakati janji kalau pada Sabtu, 18 September bakal ke rumah bibinya. Begitu ia tiba, kami lalu menunggu kedatangan Afdal yang juga saya ajak bertemu.

Dua hari sebelumnya saya berada di Kampung Buku memenuhi ajakan Direktur Makassar Biennale (MB), Anwar Jimpe Rachman. Di pertemuan itu ia menawarkan terlibat dalam Pra Event Makassar Biennale 2021. Program ini merupakan agenda kedua saya ikuti setelah sebelumnya pada Program Karya Normal Baru, proposal yang saya ajukan terpilih.

Begitu mengiyakan terlibat, maka hari itu juga, masih dalam proses obrolan dengan kawan-kawan di Kampung Buku, saya mengirim pesan pendek ke sejumlah teman untuk terlibat dalam tim. Pembentukan tim kerja mutlak dilakukan sebagai prasyarat kerja kolektif dan partisipatif. Direktur MB menantang agar tim kerja saya kali ini lebih partisipatif ketimbang tim kerja ketika mengerjakan proyek Karya Normal Baru. Ia bercerita banyak tentang perlunya tim kerja untuk program jangka panjang.

Saenal, Afdal AB, dan Achmad Faisal (Ical). Tiga kawan yang kemudian saya ajak terlibat dengan pertimbangan ketiganya masih muda walau Afdal dan Ical telah menikah. Saenal sendiri, sejak tahun 2008 ketika ia masih mahasiswa di STAI DDI Pangkep, ia sudah banyak terlibat dalam kegiatan kampus. Dan, kunfayakun, maka jadilah tim penelitian untuk program Pra Event Makassar Biennale 2021: Menghambur Menyigi Sekapur Sirih. Pangkep merupakan kota keenam setelah sebelumya lima kota: Makassar, Parepare, Bulukumba, Labuan Bajo, dan Nabire.

Tak ingin tertinggal dengan tim peneliti kota lain yang telah berjalan dua pekan, segera saja memutuskan untuk memulai observasi awal ke pengobat tradisi (sanro). Tentu ada banyak pilihan sanro yang bisa menjadi sumber penelitian. Mulanya saya teringat pengobat di Kampung Sela. Sayang, saya lupa namanya, dikenal mampu menyembuhkan sakit gigi. Saya pernah membawa anak saya berobat ke sana pada 2017. Informasi itu saya dapat dari Ipo, sanak dari istri saya yang juga pernah berobat. Menurut pengalamannya, sanro itu mampu mengeluarkan ulat gigi dengan media pengobatan daun (saya juga lupa jenis daun yang digunakan).

Melalui grup WhatsApp yang telah dibentuk, saya meminta tim untuk memberikan usulan. Ical memberi informasi kalau di Kelurahan Pabbundukang ada sanro yang sering didatangi warga.Jadi, sebelum Sabtu tanggal 18 itu, ada dua pilihan sanro. Pemetaan kemudian dilakukan guna menemukan pintu pertama tentang bagaimana cara mendatangi kedua sanro tersebut. Pintu di sini berupa analogi bagaimana memasuki rumah sanro, perlu diingat kalau masa penelitian hanya sebulan dari durasi tiga bulan program, begitu yang saya pahami dari penjelasan Kak Jimpe, sapaan akrab Direktur MB. “Jadi, laporan perkembangan berupa foto, video, podcast, dan terpenting catatan penelitian. Kalau bisa akhir September catatan sudah rampung karena selanjutnya memasuki tahapan kurasi dan editing untuk dibukukan,” terangnya.

Ical menyampaikan kalau pengalaman ke sanro di Pabbundukang itu hanya mengantar keluarga, ia tidak memiliki jaringan yang lebih dekat ke sanro. Sedangkan sanro di Kampung Sela, melalui jaringan kawan di sana menyampaikan kalau tidak bisa menemani karena pekerjaan. Saya menggaris bawahi dua hal: jaringan dan legitimasi. Dua tantangan ini perlu diselesaikan di awal sebelum melakukan penelitian. Jaringan berfungsi sebagai pintu awal untuk melihat ruang kemungkinan memulai penelitian narasumber. Jika hal ini berjalan dengan baik, maka legitimasi dengan sendirinya terpenuhi.

Strategi semacam itu saya pikir ampuh untuk menyelesaikan penelitian yang waktunya pendek. Tentu tantangan semakin berat jika menjumpai narasumber hanya berbekal mengenalkan diri sebagai peneliti. Dalam imajinasi narasumber, kita (peneliti) adalah orang asing, sifat dasar manusia akan bekerja untuk melindungi diri dari segala kekhawatiran. Saya tidak mengatakan kalau metode tersebut buruk, tetapi butuh waktu lebih lama untuk menggali lebih dalam informasi dari narasumber.

Dari Kiri: Afdal, Saenal, Rosdiana (Daeng Caddi), dan Firdaus. Foto: Tim Dokumentasi “Menghambur Menyigi Sekapur Sirih” di Pangkep.

Hal lain berkaitan dengan komposisi tim, ini juga suatu pertaruhan tersendiri menyangkut sumber daya yang terlibat. Melalui program ini, saya menyusupkan misi lain berupa proses kaderisasi. Mendengar penelitian barangkali saja bukan hal baru. Saenal, Afdal, dan Ical semuanya menyelesaikan studi Strata Satu. Dari proses studi itu ketiganya melakukan penelitian menyelesaikan tugas akhir. Hanya saja, membaca kerja penelitian sebagai proses program di luar konsepsi di batok kepala masing-masing tentang apa dan bagaimana itu penelitian menurut definisi dari kampus. Nah, di situlah kita membangun proses belajar bersama lagi. Ada kerja kolektif dan partisipatif memahami apa yang sedang diteliti dan model penyajian laporan.

Berdasarkan pertimbangan di atas, akhirnya sanro yang dipilih adalah Rosdiana yang akrab disapa Daeng Caddi. Ingatan ini muncul ketika dulu seorang teman pernah bercerita kalau ia pernah membawa anaknya berobat ke bibi Saenal. Pilihan ini berdasarkan analisis yang telah diuraikan di atas: jaringan dan sumber daya dalam tim.

Akses menuju rumah dan mengakrabkan diri dengan Daeng Caddi tentu melalui Saenal. Bagi saya, Afdal dan Ical tentu terbantu, tetapi bagi Saenal sendiri yang, meski di petak ingatannya telah mengenal bibinya dan menyaksikan orang-orang datang berobat justru, kali ini, ia merasakan kecanggungan terlibat dalam proses mengulik informasi. Namun, hal itu berjalan sebentar saja, dalam prosesnya ia punya peran tersendiri menafsirkan proses penelitian.

Rumah Daeng Caddi yang berlokasi di Kecamatan Pangkajene, Pangkep. Foto: Tim Dokumentasi “Menghambur Menyigi Sekapur Sirih” di Pangkep.

Dari delapan kali kunjungan ke rumah Daeng Caddi, ada kalanya tidak selalu bersama. Pengambilan foto sebagai laporan ke manajemen Makassar Biennale yang diposting pada 26 September 2020 yang telah dibagikan sebanyak 60 kali itu (hingga catatan ini dituliskan) merupakan hasil jepretan Saenal. Saat pengambilan gambar ia bekerja sendiri.

Jadi, pada Jumat, 25 September 2020, Saenal mendapat kabar dari Daeng Caddi kalau ingin melihat langsung proses pengurutan, kami dipersilakan datang karena yang mau diurut hanya anak kecil. Mungkin tidak jadi masalah jika ingin mengambil gambar. Sebelumnya memang, kami sudah mengutarakan maksud ingin melihat langsung prosesnya, tetapi, tentu sulit mendapat izin jika yang mau diurut merupakan orang dewasa.

Daeng Caddi sedang mengurut pasien anak kecil di rumahnya. Foto: Tim Dokumentasi “Menghambur Menyigi Sekapur Sirih” di Pangkep.

Informasi itu tidak kami sia-siakan dan meminta Saenal untuk melakukan pengambilan gambar dan merekam. Saya, Afdal, dan Achmad Faisal tak bisa datang karena rutinitas kegiatan yang lain harus dilakukan.

Proses yang kami jalani dalam meneliti membagi tugas sesuai kebutuhan yang diperlukan. Misalnya, hari Jumat merupakan hari praktik yang ditetapkan Daeng Caddi, maka di hari itu tim hanya akan melihat situasi untuk mengambil gambar dan merekam. Hasil rekaman kemudian disaksikan bersama dan mencatat peluang yang perlu dipertajam dalam wawancara di hari yang lain yang disepakati.

Dalam perkembangannya kemudian ketika sudah melakukan proses wawancara dan pengumpulan data. Pada tim kerja saya sampaikan kalau laporan diselesaikan bersama termasuk penulisan naskah. Saya tahu kemampuan menulis Afdal sudah ada karena di tahun-tahun sebelumnya aktif menulis blog dan cerpen. Maksud saya di sini semuanya menjadi kerja sama bersama tanpa menonjolkan kerja individu.

Namun, kemudian, jarak itu terbangun dengan sendirinya. Afdal, Saenal, dan Ical sepertinya ingin menunjukkan peran lain. Saya pikir ini wajar saja. Dan, sesungguhnya membantu dalam kerja kolektif. Ada peran yang dijalankan ketika semua anggota tim tidak bisa melakukan pekerjaan secara bersama.

Di hari itu pula, Jumat 25 September, draf awal laporan penelitian saya kirimkan ke tim kurator dan mendapat balasan keesokan hari berisi catatan yang perlu dilakukan perbaikan dan penulusuran data lebih lanjut. Butuh waktu seminggu menyelesaikannya dengan mencari referensi dan tambahan wawancara dengan orang berbeda. Hal ini menyangkut jenis daun yang hanya didapatkan di wilayah pegunungan yang memiliki kesamaan khasiat dengan minyak kayu putih. Saran Kak Jimpe, mengusulkan melakukan penelusuran lebih lanjut dengan mewawancarai warga atau pengobat di wilayah pegunungan di Desa Tompobulu.

(Perjalanan ke Tompobulu ditempuh sekitar satu jam dari pusat Kota Pangkep, melewati jalanan menanjak dan berkelok. Saya pernah tinggal dua bulan di Tompobulu ketika KKLP tahun 2013. Meski ada nomor kontak sejumlah tokoh masyarakat, tetap saja sulit berkomunikasi lewat telepon akibat akses jaringan. Pilihannya memang harus berkunjung. Pilihan lain saya mengontak kawan dari wilayah pegunungan di desa yang berbeda. Misbah, warga Desa Bantimurung, Kecamatan Tondong Tallasa menjadi narasumber guna menanyakan hal ini, tetapi pengalamannya bersentuhan dengan sanro di desanya juga tidak memberikan informasi yang bisa dijadikan jawaban pembanding.)

Namun, setelah merekap informasi dari kawan yang berasal dari wilayah pegunungan, saya memutuskan mendatangi kembali Daeng Caddi dan menanyakan ulang mengenai jenis dedaunan tersebut. Hasilnya, Daeng Caddi menerangkan ulang dan, rupanya, saya keliru memaknai penjelasannya pada wawancara pertama.

Rekomendasi Rammang-Rammang

Sabtu-Minggu, 10-11 Oktober 2020. Sesuai jadwal yang telah disepakati, selama dua hari Tim Pangkep dan Manajemen Makkassar Biennale meluangkan waktu guna melakukan workshop di Rammang-Rammang, Maros.

Jadwal hampir saja ditunda karena kesehatan saya memburuk sehari sebelum tanggal 10. Namun, fase itu terlewati juga, sebelum azan zuhur saya bersama Saenal dan Afdal, kali ini Ical tidak bisa terlibat karena masih proses penyembuhan. Atas inisiatif Afdal, ia mengajak kawan lain, Ibnu Munzir ikut serta. Munzir bukan kawan asing dalam jaringan di Pangkep, sebelum terangkat PNS di Bau-Bau, ia bertungkus lumus di Pangkep mengupayakan kerja jaringan literasi hingga lahir Nongkrong Literasi, salah satu komunitas yang giat menggelar lapak baca di taman kota.

Workshop penelitian Tim Pangkep difasilitasi oleh Anwar Jimpe Rachman, Direktur Makassar Biennale di Rammang-Rammang, Maros. Foto: Tim Dokumentasi “Menghambur Menyigi Sekapur Sirih”.

Dalam workshop yang digelar santai, Tim Pangkep dan manajemen Makassar Biennale saling mengakrabkan diri melalui pertukaran informasi dasar dan terlibat permainan humor. Selanjutnya hasil perbincangan mengarah pada evaluasi proses yang telah dilewati Tim Pangkep dalam melakukan penelitian.

Dari situ kemudian, arah penelitian dari masukan Kak Jimpe membantu untuk memperkaya. Ia mengusulkan untuk melihat kemungkinan lain yang bisa disasar seperti, misalnya, bagaimana melihat kerja pengobatan yang digeluti Daeng Caddi dengan Angka Kematian Ibu dan Anak (AKIA).

Remokendasi itulah yang kemudian dikerjakan sepulang dari Rammang-Rammang selain menyelesaikan dokumenter profil pengobatan Daeng Caddi dan proses (refleksi) kerja tim selama melakukan penelitian.

Melihat Tim Bekerja

Bayangan teman yang akan saya ajak ketika masih dalam proses perbincangan di Kampung Buku tertuju pada Kuda, sapaan lekat Saenal. Kemudian muncul sosok Afdal, terakhir adalah Ical. Tahun 2019 lalu Ical pernah mengajak kerja kolaborasi menerbitkan buku. Dari proses itu saya melihat kemampuannya mengerjakan desain. Saya pikir klop jika di program ini ia bisa membantu kerja desain bila diperlukan.

Dalam proses berjalan, rupanya Ical sakit dan butuh waktu lumayan lama untuk menghentikan sementara kegiatan di luar rumah. Dengan kondisi demikian praktis hanya Kuda dan Afdal yang terlibat dalam proses wawancara. “Cepatnya itu selesai,” komentar Ical ketika kami bertiga menyambangi rumahnya untuk keperluan proses rekaman tim di pekan terakhir September 2019. Ia mengucapkan itu ketika saya sodorkan file laporan untuk dicetak.

Diskusi Tim Pangkep menyusun draf laporan penelitian. Foto: Tim Dokumentasi “Menghambur Menyigi Sekapur Sirih” di Pangkep.

Draf laporan itu tentulah masih laporan awal yang perlu pendalaman. Motif kunjungan lain tentulah menjenguk guna mengetahui perkembangan kesehatannya dan menyerahkan file foto dan rekaman untuk disimpan. Cara ini sebagai bentuk ikatan emosional agar ia tetap berperan dalam tim sembari istirahat memulihkan kesehatan.

Sebagaimana telah diungkapkan sebelumnya, proses wawancara atau kunjungan ke rumah Daeng Caddi tidak semuanya bersamaan. Kuda, misalnya, dengan kamera di tangannya mulai menetapkan agenda tersendiri, khususnya di hari Jumat guna merekam dan mengambil gambar proses Daeng Caddi melakukan pengobatan. Meski dari proses itu, belakangan disadari kalau ia sangat sedikit mengumpulkan gambar. Sifatnya yang pendiam diakuinya sebagai kendala tersendiri membuka dialog bila ingin melakukan wawancara, meski Daeng Caddi adalah bibinya sendiri.

Namun, ketika dibutuhkan data pembanding menyangkut angka kematian ibu dan anak, guna mendapatkan data dari Puskesmas Kelurahan, Kuda seorang diri mendatangi Puskesmas Bonto Perak[1] berbekal sepucuk surat resmi dari Rumah Saraung.

“Informasi dari bidan, harus ada surat kalau ingin mendapatkan data, Kak,” ucapnya melalui chat di WhastApp. Sebelumnya memang ia ke puskesmas tanpa surat dan hanya berbekal pengantar dari kakaknya yang berteman dengan bidan di sana. Ini pula tantangan di lapangan jika berkaitan dengan narasumber di instansi apalagi ingin memeroleh data. Menyiasati hal tersebut maka dibuatlah surat resmi dengan hal penelitian program kesehatan masyarakat. Selain mendapatkan data, Kuda juga melakukan wawancara dengan daftar pertanyaan di saku celananya, jadi ia sisa membacakan dan merekam suara.

Kunjungan wawancara Saenal bersama Bidan Puskesmas Bonto Perak, Kecamatan Pangkajene, Pangkep. Foto: Tim Dokumentasi “Menghambur Menyigi Sekapur Sirih” di Pangkep.

Terlibat dalam kerja komunitas dengan program penelitian memang hal baru baginya. Sejauh yang dijalani selama aktif di sejumlah organisasi. Program seperti ini benar-benar baru. Hal yang sama dirasakan oleh Afdal dan Ical. Inilah mengapa metode kerja selama menjalankan penelitian ini ada kebebasan melakukan kunjungan tersendiri bila dirasa perlu. Ruang ini ditangkap dengan baik oleh Afdal, yang padanya konsep penyajian laporan video ia selesaikan. Pada kesempatan mendiskusikan konsep video, utamanya ketika menggarap dokumenter Daeng Caddi (video ketiga), saya sampaikan bahwa kita menyelesaikan dua bentuk, yakni penelitian berupa naskah dan video. Konteks ucapan saya di sini merujuk pada kesempatan sebelumnya di awal memulai penelitian kalau semua laporan dikerjakan bersama tanpa menonjolkan kerja individual. Kuda dan Afdal saya bekali buku Kota Diperam dalam Lontang (Tanahindie Press, 2018) dengan harapan memahami konsepsi menulis itu bisa dilakukan dengan bercerita.

Hasilnya, metode ini perlu direvisi. Melihat fokus dan proses pembangunan peran yang ingin dimunculkan Kuda dan Afdal menunjukkan perlu kebebasan tersendiri. Pada konteks inilah bentuk laporan ada dua itu menemukan konsepnya. Dasar ini pernah dibahas dalam kelas daring semua tim enam kota, Jimpe menyampaikan kalau cara seorang fotografer, videografer, dan penulis melihat subjek penelitian untuk dibuatkan laporan tentu berbeda cara pandangnya. Wujud laporan video yang dikonsepsikan Afdal bersama Kuda tertuang di dokumenter Daeng Caddi (Tayang pertama kali di Fanpage Makassar Biennale pada 7 November 2019).

Konsepsi mengenai sanro itu sendiri sebagai subjek penelitian di mata masing-masing anggota di tim sudah tumbuh seiring usia. Praktik pengobatan sanro ada di sekitar lingkungan dan bahkan, ada di dalam rumah sendiri. Saya pikir dari konsepsi sudah selesai. Menjadi tantangan ketika menempatkan posisi sanro sebagai subjek penelitian dan bagian tak terpisahkan dalam gerak kebudayaan di masyrakat.

“Ini menarik sekali karena mengangkat sanro. Sesuatu yang ada di sekitar kita namun jarang diulas,” ucap Afdal.

Ungkapan ‘menarik’ dalam benak Afdal bisa ditafsirkan sebagai minimnya literatur yang dapat dijangkau generasi muda sebagai sumber pengetahuan perihal pengobatan.Saya sendiri menganggap keberadaan sanro bagian integral dalam tubuh masyarakat. Metode pengobatan yang mengandalkan sumber bahan dari alam sekitar merupakan teka-teki di depan mata tentang bagaimana awal mula mengetahui khasiat tumbuhan tertentu. Mengapa harus daun jenis itu dan bukan jenis ini untuk mengobati luka, umpamanya.

Kuda dan Ical yang hidup dalam keluarga suku Makassar tentulah melihat keberadaan sanro sebagaimana lazimnya. Pada satu kemungkinan, kita semua dalam tim ini punya pengabaian terhadap sanro sekaligus menaruh kebanggaan atas peran khusunya di dalam masyarakat. Hal ini bisa dilihat dari fenomena tentang sanro itu sendiri. Tumbuh kelindan wacana yang bersumber dari konsepsi pembaharauan tentang ‘pemurnian’ agama Islam yang menyingkirkan praktik pengobatan tradisi yang dianggap menyimpang.


F Daus AR, penulis lepas, mengelola penerbitan mandiri Rumah Saraung di Pangkep, Sulawesi Selatan. Bisa disapa di Instagram: @dausfir29

[1]Pemilihan Puskesmas Bonto Perak didasarkan pada lokasi penelitian.Daeng Caddi tinggal di Keluarahan Bonto Perak, Kecamatan Pangkajene, Pangkep.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan