, , , ,

Menemani Tiga Anak Barukang

(Ini adalah catatan pendampingan kelas menggambar yang dipandu nama akrab Jasmine Isobel HB. Kelompok ini dirancang untuk mendorong anak-anak untuk bercakap-cakap dan berkarya. Buah tangan ketiganya lalu dipamerkan di Surat-surat Cinta di Jemuran, 18-20 Juni 2026, Gedung E1-E2-E3 Fort Rotterdam, Makassar.)

Sejak Februari hingga Mei 2026, saya melakukan riset tentang anak-anak di Makassar Utara, di Jalan Barukang III. Nama tempat riset saya adalah KWN Fatimah Azzahra.

Risetnya dengan membuat kelas menggambar untuk anak-anak di Fatimah Azzahra tiap hari Senin dan Kamis. Harinya juga kadang dipindahkan karena saya memiliki urusan lain, seperti les ataupun pekerjaan lainnya. Hasil gambar anak-anak sudah saya kumpulkan sejak Februari hingga Mei.

Saat tiba hari kelas menggambar, dan sudah pukul 2 (jam dimulainya kelas menggambar), Latore (9 tahun) atau Putri (11 tahun) sudah menunggu saya di Fatimah Azzahra. Kadang juga saya yang mendatangi rumah mereka kalau mereka tak kunjung muncul di Fatimah Azzahrah.

Seringnya tiap kelas menggambar, saya meminta setoran tugas menggambar yang mereka kerjakan di rumah, yang kemudian dikumpulkan pada kelas berikutnya. Setiap kelas menggambar, biasanya saya mengumpulkan tugas-tugas mereka 6-8 lembar halaman gambar.

Tema gambar yang saya berikan mengenai isu lingkungan dan perubahan iklim. Akan tetapi saya berusaha mempermudahkan bahasa saya ke anak-anak agar mereka bisa mengerti. Soalnya kata `perubahan iklim’ di lingkungan anak-anak di sana terlalu sulit untuk dipahami, apalagi bahasa formal itu sangat jarang didengarkan. Perlu banyak penjelasan dalam bahasa gampang ataupun bahasa singkatnya.

Ada tiga anak-anak yang mengikuti kelas menggambar yang saya buat. Pertama, Latore, anak laki-laki berusia 9 tahun yang sekarang sedang duduk di bangku kelas 3 SD. Dia mulai tertarik menggambar sejak kelas 1 SD, usia 7 tahun. Kedua, anak perempuan yang mulai menyukai menggambar sejak usia 3 tahun bernama Putri, berusia 11 tahun yang kini duduk di bangku kelas 4 SD. Dan ketiga, anak perempuan SMP berusia 12 tahun yang sekarang duduk di bangku 1 SMP bernama Adel. Dia mulai tertarik pada dunia menggambar saat kelas 5 SD, usia 10 tahun.

Mereka memiliki bakat gambar yang luar biasa sejak awal saya membuat kelas menggambar ini. Menurut saya, bakat mereka jika diasah terus menerus akan menjadi bagus dan memiliki potensi menjadi seniman gambar ataupun ilustrator. Walaupun itu sangat berlawanan jauh dari cita-cita mereka. 

Saat bertanya cita-cita mereka, saya sangat terkejut mendengar cita-cita mereka yang sangat berlawanan dengan bakat menggambar mereka, terkecuali Latore.

“Kak Bobel, mauka’ menjadi ustadz karena paham agama dan saya suka mengaji. Tapi malamnya mauka’ ngeskena, bikin gambar grafiti sambil pake baju dan celana yang banyak na pake kakak-kakak yang keren style-nya itu, sama kayak kita’, Kak Bobel,” kata Latore sembari menggambar tugas yang saya berikan beberapa pekan lalu saat kelas menggambar.

Tentu saja saya bertanya kembali ke Ratore. “Hah? Kenapa mau jadi ustadz terus malamnya ngeskena? Ngeskena apa maksudnya ini? Pakaian ji saja yang skena, atau pekerjaan juga?”

“Iya, Kak Bobel, siang jadi ustadz, malamnya baju ngeskena sama menggambar kayak grafiti-grafiti yang biasa kugambar,” ucap Latore menatapku sambil memegang pensilnya sambil menyandarkan pensil tersebut di pipi dan dagunya, seolah berpikir apa yang akan dia lakukan saat dewasa nanti.

Di situ saya berpikir kalau cita-citanya unik juga. Pagi hingga sore menjadi pemuka agama/ustadz, saat malam dia membuat gambar grafiti yang dia sukai dan berpakaian streetwear (style yang Ratore sebut ‘skena’).

Saya kemudian bertanya ke Putri mengapa cita-citanya sangat berlawanan dengan hobi menggambarnya. “Karena saya suka nonton film dan lihat dokter bedah mengiris dan menjahit pasiennya. Keren ki menurut saya karena bisa buat orang menjadi sehat kembali sesudah dioperasi,” jawab Putri dengan malu-malu.

“Ohhh, ternyata begitu ya alasannya kenapa mau jadi dokter. Padahal lebih keren dan cocok kalau Putri mau jadi ilustrator seperti Kakak Bobel. Soalnya Putri hobinya menggambar bukan bedah orang,” ujar saya. 

“Saya mau bedah orang. Kelihatan seru soalnya dan bisa sembuh orang pas sudah dibedah, Kak,” celoteh Putri, sambil menggambar lalu menatap saya.

“Oh seperti superhero ya menurut Putri kalau pasiennya Dokter sudah dibedah?” tanya saya balik. 

Ia langsung mengangguk, tersenyum malu-malu.

Lalu yang terakhir, saya bertanya ke Adel, “Cita-citamu apa, Adel?”

“Mauka’ jadi guru agama, Kak Bobel,” jawab Adel, yang tengkurap mencari referensi gambar di handphone-nya.

“Kenapa mau jadi guru agama, Adel, kalau boleh tahu?” tanya saya balik. 

Kertas, pensil dan tempat pensil tergeletak di hadapannya. (Adel belum memiliki artstyle-nya sendiri, jadi dia terkadang mencari referensi jika sudah buntu.)

“Karena menurutku bagus. Paham agama terus diajarkan ke murid-murid,” jawab Adel, sambil menggambar tugas yang saya berikan.

Saya langsung berpikir, pola pikir anak-anak ini sangat sederhana ya. Hal-hal sederhana ini, yang kita orang dewasa anggap biasa saja, mereka anggap sangat keren dan menjadikannya sebagai cita-citanya di masa depan. 

Pengalaman menemani anak-anak ini menggambar selama tiga bulan menurut saya sangat menyenangkan. Saya kemudian memiliki pengalaman mengajar dan membuat kelas menggambar. Proses ini sangat mudah bagi saya untuk mendekati dan akrab dengan anak-anak. Soalnya tiap kelas menggambar, saya langsung memberikan contoh kepada mereka, gambar seperti apa yang akan mereka gambar. Contohnya seperti ini.

“Hari ini tema gambar kelas hari ini adalah rumah kalian kalau musim hujan dengan musim kemarau ya.”

“Bagaimana maksudnya itu, Kak?” tanya mereka bertiga.

“Contohnya bagaimana keadaan rumah kalian kalau musim hujan dan kemarau. Contohnya, Latore, kalau musim hujan, apa yang terjadi di rumahmu?” tanya saya pada Ratore.

“Banjir dan lembab,” jawab Latore.

“Betul. Kalau musim kemarau bagaimana?” tanya saya lagi melihat ke Putri dan Adel.

“Panas dan kering. Tanaman menjadi kering dan aliran air di keran rumah jadi kecil,” jawab Adel dan Putri, sambil berhenti sejenak menggambar saat menjawab pertanyaan saya.

“Nah, betul semua. Itu tema gambar kelas hari ini, dijadikan komik ya dalam enam kolom,” kata saya, sambil membagikan dua lembar HVS per orang.

Jika saya menjelaskan seperti di atas tadi, mereka paham dan langsung mereka kerjakan. Akan tetapi mereka bertiga beda-beda kecepatan menggambarnya. Putri biasanya hanya butuh waktu 20-30 menit saja. Dia biasanya yang paling santai saat setor gambar ke saya jika sudah selesai. Malahan terkadang dia yang meminta tugas tambahan hingga terkadang saya sendiri bingung ingin memberikan tugas apalagi ke Putri.

Kalau Latore dia biasanya memakan waktu menyelesaikan tugas menggambarnya sekitar 40-50 menit. Terkadang dia menyelipkan beberapa gambar grafiti yang kecil atau gambar laba-laba kecil.

Sedangkan Adel biasanya perlu waktu sejam lebih jika saya berikan tugas. Karena dia masih belum menemukan art style yang menurutnya cocok. Jadi kadang dia butuh melihat referensi gambar. Adel juga bilang pada saya kalau dia terkadang masih merasa kesulitan menggambar objek tertentu. Tapi saya bilang kepadanya tak apa-apa karena semua pasti ada prosesnya dan proses tiap orang beda-beda.

Jasmine Isobel Hanan Badriyah, bersekolah dan menjadi pustakawan di Kampung Buku, Makassar.

(Katalog pameran dapat dibaca dan diunduh di sini: “E-Katalog Surat-surat Cinta di Jemuran”)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *