Maritim

  • Kelas Sekapur Sirih bersama Tim Bulukumba

    Kelas yang dirancang berseri ini merupakan salah satu agenda dalam “Menghambur Menyigi Sekapur Sirih”, program menuju Makassar Biennale 2021 – Maritim: Sekapur Sirih. Kelas ini bersifat internal, diperuntukkan bagi peserta penulisan dan penelitian di Makassar, Bulukumba, Parepare, Pangkep, Labuan Bajo, dan Nabire. Episode art.e.fact podcast kali ini menyajikan diskusi Kelas Sekapur Sirih sesi ketujuh bersama…

    Read more

  • Kelas Sekapur Sirih bersama Tasrifin Tahara

    Kelas yang dirancang berseri ini merupakan salah satu agenda dalam “Menghambur Menyigi Sekapur Sirih”, program menuju Makassar Biennale 2021 – Maritim: Sekapur Sirih. Kelas ini bersifat internal, diperuntukkan bagi para peserta penulisan dan penelitian di Makassar, Bulukumba, Parepare, Pangkep, Labuan Bajo, dan Nabire. Pada episode kali ini, ArtefactID menyajikan rekaman Kelas Sekapur Sirih sesi kedua…

    Read more

  • Writing and Research Workshop Sekapur Sirih in Five Cities

    After the implementation of Makassar Biennale (MB) 2019 was successfully held in four cities and two provinces, this time, MB 2021 will expand its reach in five cities and three provinces, namely Makassar, Parepare, Bulukumba (South Sulawesi), Labuan Bajo (East Nusa Tenggara), and Nabire (Papua). The five cities will be part of the Makassar Biennale…

    Read more

  • Pelatihan Penulisan dan Penelitian Sekapur Sirih di Lima Kota

    Setelah pelaksanaan Makassar Biennale (MB) 2019 berhasil diselenggarakan di empat kota dan dua provinsi, kali ini MB 2021 akan melebarkan jangkauannya di lima kota dan tiga provinsi, yaitu Makassar, Parepare, Bulukumba (Sulawesi Selatan), Labuan Bajo (Nusa Tenggara Timur), dan Nabire (Papua). Kelima kota itu akan menjadi bagian program pra-event Makassar Biennale 2021 sebagai titik penelitian…

    Read more

  • Bunyi Tana Tiga Masa

    Pada mulanya dua batu diadu seperti bunyi hendak memantik api. Bunyi batu itu diadu dengan tempo makin cepat. Setelah itu, terdengar benturan bambu dalam tempo serupa. Lalu bebunyian lain turut menyertai benturan batu dan bambu itu. Mulai dari gesekan serupa kaki menyeka daun-daun kering, suara air mengalir, hingga teriakan “eii” dari seseorang yang sedari tadi…

    Read more

  • Menyisir Masyarakat Pesisir

    “…Kekasih hari ini aku ingin bercerita. Tentang nelayan yang menjual perahunya, mengubah lajur hidupnya. Sebab terampas laut dan gelombangnya…” Sombanusa, “Kepada Kekasih” Seratus enam puluh juta (60 persen) penduduk Indonesia mendiami wilayah pesisir. Fakta ini, diterjemahkan Presiden Indonesia, Jokowi, dalam visinya yang disampaikan pada tahun 2014 di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-9 East Asia Summit…

    Read more

  • FindArt Space dan Mitos Buaya di Sungai

    “Visual tidak penting. Yang lebih penting adalah bahagia” Ahmad Anzul Konsepsi tentang apresiasi seni seringkali menjebak kita melihat segala sesuatu hanya sebatas visual saja. Lantaran terpaku pada daya pesona visual, kita lupa masuk ke dalam karya yang oleh Ahmad Anzul disebut sebagai pintu untuk melihat hal-hal yang lebih luas dibicarakan untuk menjangkau kemungkinan-kemungkinan yang lain.…

    Read more

  • Program Teman Biennale

    Pada perhelatan tahun ini, Makassar Biennale 2019 menginisiasi sebuah program bernama “Teman Biennale”, program yang dikhususkan bagi pelajar dari kalangan siswa SMA/SMK sederajat yang tertarik dengan seni rupa untuk belajar dan bekerja bersama seniman yang terlibat di Makassar Biennale 2019. Melalui program ini, Teman Biennale akan terlibat langsung menemani dan membantu seniman selama proses pengerjaan…

    Read more

  • Corak Reklamasi di Makassar Biennale

    Pada tahun 2011, Faisal Syarif sedang membuat karya, ketika menjelang fajar tiba, ia telah selesai membuatnya. Tetapi ia merasa bahwa ada yang kurang dari karyanya. Tiba-tiba matahari terbit, cahayanya menerpa karyanya dan persis seperti apa yang ada di dalam pikirannya. Cahaya dari matahari pagi yang terbit menjadi penyempurna: alam memberikan sentuhan pada karyanya. Sebuah kompleksitas…

    Read more

  • Masompe ke Makassar Biennalle

    “Kebanyakan dari pasompe’ (perantau) mengalami nasib yang kurang beruntung, karena hak-hak mereka dirampas,” kata Muhammad Suyudi, perupa Makassar. Ia menceritakan, misalnya si A pergi merantau, kemudian punya warisan dari orang tuanya dalam bentuk sawah. Sawah ini dikelola oleh anaknya yang lain. Ketika bapak si A ini meninggal, ia tidak mendapat hak apapun dari sawah itu. Ini dialami…

    Read more