Tanroe Art Trip: Pameran Bersama Warga

Komunitas Jejak Jendela (JJ) yang digerakkan orang-orang muda menjadi salah satu dari enam seniman yang ikut pameran di Makassar Biennale (MB) 2019-Parepare. Komunitas JJ berdiri pada tahun 2017 yang berfokus pada isu sosial, pendidikan, dan literasi. Dalam berkegiatan di pelosok desa, Komunitas JJ biasanya berkolaborasi dengan komunitas lain.

Dusun Tanroe, Desa Bababinanga, Kecamatan Duampanua, Kabupaten Pinrang, dipilih sebagai lokasi pamerannya. Tanroe salah satu desa yang sering dikunjungi Komunitas JJ beberapa bulan terakhir sebelum melaksanakan pameran. Warga yang tinggal di Tanroe hampir semuanya dihuni orang-orang yang bermigrasi dari Kabupaten Pangkep. Mereka masih kerabat dekat yang saling mengajak untuk hidup menetap. Seperti yang disampaikan Hasna, warga Tanroe, “Keluarga semua jeki sebenarnya di sini. Sepupu semua ji baku panggil-panggil. Tidak ada ji orang lain menikah di sini.”[1] Hasna menambahkan kalau warga yang bermukim saat ini sudah generasi ketiga.

Menurut Agus penggiat Komunitas JJ yang pernah mendapat cerita dari warga, Dusun Tanroe sudah dua kali berpindah akibat air laut menenggelamkan kampung mereka. Posisi Tanroe diapit empang dan muara yang memisahkan Tanroe dari pantai. Saat ini menurut warga ketika kampung di luar banjir, Dusun Tanroe sudah aman dan tidak tenggelam lagi.

Pada bulan Februari tahun 2019 tujuh anggota Komunitas JJ masuk ke Tanroe. Saat itu bertepatan dengan musim hujan—kegiatan pertamanya mengajar anak-anak di sekolah. Fathul, guru satu-satunya kelas jauh SD Negeri 31 Duampanua, menceritakan saat acara malam pembukaan pameran. Sebelumnya dia sudah memperingatkan Komunitas JJ agar tidak masuk  ke Tanroe, tetapi Riska Awalia (pimpinan proyekdan kawan-kawannya tetap berkeras hati menembus pematang empang yang jaraknya sekitar tiga kilometer untuk sampai—Bisa dibayangkan sulitnya pematang empang dilalui setelah terkena air hujan. Bukan cuma akses jalan ke Tanroe yang sulit, tetapi juga listrik waktu itu belum ada. Listrik mulai menjangkau Tanroe di bulan Agustus 2019.

Pada ajang MB 2019, Komunitas JJ mengangkat tema Menanam Seni Menuai Rupa. Pemilihan tema ini karena pertimbangan lokasi dan kondisi Tanroe. “Menanam Seni” sebagai kerja-kerja kesenian yang juga metode pendekatan kepada masyarakat agar bisa menjelaskan dusunnya sendiri. Dan “Menuai Rupa” diharapkan agar dusun Tanroe sebagai dusun yang terpisah jauh mendapat perhatian melalui kegiatan kesenian seperti MB.

Awalnya untuk menjelaskan konsep pelibatan ini, Komunitas JJ mengumpulkan orang-orang di masjid. Saat itu dihadiri Kepala Dusun, Kepala Sekolah SD Negeri 31 Duampanua, guru Fathul, dan beberapa warga. Pada saat sosialisasi, Komunitas JJ tidak menyampaikan akan ada rangkaian pameran Makassar Biennale, tetapi langsung menjabarkan konsep kegiatannya, seperti menyampaikan akan membuat pameran dengan membuat kerajinan tangan dari kerang-kerang laut, sosialisasi, dan diskusi seputar Dusun Tanroe. Cara ini dilakukan agar mudah dipahami warga. Apalagi acara kesenian seperti pameran sesuatu yang baru dilaksanakan Komunitas JJ di Tanroe.

Setelah sosialisasi, Komunitas JJ mulai bekerja untuk persiapan karyanya. Keinginan untuk melibatkan warga ternyata tidak segampang yang mereka pikirkan. Awal-awal penggarapan warga belum aktif terlibat bahkan kebingungan melihat Komunitas JJ mengumpulkan sampah dari laut terus dikumpulkan di satu tempat. Hal itu tidak membuat Komunitas JJ berhenti, mereka tetap melanjutkan sampai hari dimulainya pameran.

Setelah beberapa hari beraktivitas warga mulai bergantian membantu mulai dari ide, alat, bahan sampai tenaga. Karena sudah mulai terlibat warga merasa punya tanggung jawab kolektif. Warga mengambil peran di dapur untuk membantu memasak juga bergantian memberi makanan atau langsung mengajak Komunitas JJ ikut makan ke rumahnya. Hal itu sangat membantu Komunitas JJ yang lumayan menyita waktu dan tenaga keluar dusun hanya untuk berbelanja makanan.

Hasil riset yang mereka lakukan menghasilkan karya dalam bentuk kerajinan tangan dan instalasi. Karya instalasi “Alat Tangkap” yang menggunakan alat-alat yang biasa dipakai warga seperti yang disampaikan Mutmainnah salah satu penggiat Komunitas JJ, ingin memperkenalkan aktivitas dan alat pencaharian warga. Karya ini terdiri dari sampe, rakkang, gamo-gamo, jala, jerikenlopi, dari’, balacang, dan bagang labu.

Semua karya itu dipamerkan di halaman rumah warga. Karya itu juga memancing ibu-ibu pengunjung membeli ikan saat acara susur kampung. Selain berpameran, susur kampung juga menjadi bagian dari kegiatan. Pengunjung diajak berkeliling dusun untuk melihat karya yang dipamerkan di rumah dan halaman warga. Paddennuang (pengharapan) karya hasil kerja kolaborasi anak-anak Dusun Tanroe dengan Komunitas JJ. Dalam karya paddennuang dapat dilihat jelas representasi kondisi akses jalan, fasilitas kesehatan, air bersih, fasilitas pendidikan, dan MCK di Tanroe. Karya tersebut hasil dari memanfaatkan bahan-bahan yang ada di Tanroe.

Komunitas JJ juga melaksanakan diskusi konservasi penyu bersama warga. Di Tanroe, habitat penyu menjadi terancam karena telurnya dikonsumsi dan dijual. Kasus ini coba diintervensi Komunitas JJ dengan membuat instalasi penyu. Karya yang dibuat dari bambu dan dari’ (jala) bekas itu menjadi bagian dari pameran selama delapan hari. Dalam sambutannya di pembukaan pameran, Riska Awalia menyampaikan persoalan penyu di Tanroe agar warga bersama-sama menjaga habitatnya. Zaka dan Jumri pemuda Tanroe sangat menyetujui langkah ini, apalagi jika ada penangkaran atau konservasi penyu di Tanroe, dengan begitu keberlangsungan habitat penyu bisa terjaga.

Bukan hanya tantangan melibatkan warga, tetapi beberapa penggiat Komunitas JJ sendiri awalnya tidak langsung menerima akan membuat pameran. Pada awal pertemuan dengan kurator Anwar Jimpe Rachman, cuma Riska Awalia yang datang. Beberapa penggiat Komunitas JJ belum memahami betul isu dan tema yang diangkat MB. Akhirnya Tim kerja Parepare beberapa kali melakukan pertemuan dengan Komunitas JJ agar bisa diskusi isu dan tema MB. Dari pertemuan itu Riska Awalia secara perlahan mempelajari MB: Dari katalog MB 2017 juga membuka laman MB sendiri. Pengetahuan-pengetahuan dasar itulah coba ditransfer sedikit demi sedikit ke teman-teman penggiat Komunitas JJ hingga satu per satu ikut mengerjakan pameran.

Download Katalog MB di sini

Selain berupaya untuk membantu warga Dusun Tanroe melalui pameran MB, Komunitas JJ juga menjadikan ajang ini sebagai ruang belajar. Dalam wawancara tiga anggotanya, Gibon, panggilan akrabnya, bercerita banyak belajar soal pendokumentasian dan kerja manajemen. Karena selama ini Gibon merasa banyak bekerja tanpa perencanaan. Berbeda dengan Gibon, Mutmainnah sendiri banyak belajar dari MB. Dan berharap nantinya ilmu yang didapatkan akan diaplikasikan di luar dari kegiatan MB. Riska Awalia sebagai pimpinan proyek melihat MB sebuah ruang belajar yang begitu besar. Dia berharap ada efek pada kegiatan selanjutnya yang dikerjakan Komunitas JJ.[]

Andi Musran, Direktur Sampan Intitute


[1] Wawancara 6 Oktober 2019, pukul 19:27 Wita

Bagikan:

Tinggalkan Balasan