Efek Klakson dan Gelombang Bunyi dalam Soundsphere

Di jalanan, bunyi klakson kendaraan sudah tak asing lagi bagi telinga kita. Apalagi di jalan-jalan perkotaan, seperti Makassar. Di beberapa titik rawan kemacetan, kelakuan membunyikan klakson secara terus-menerus masih sering saya temui dan rasakan. Iklim semacam ini, saking menyebalkannya menimbulkan kejengkelan, dan bahkan berujung kegaduhan. Tak sedikit beberapa pengendara berbalas umpatan kata-kata kasar.

Di saat lampu lalu lintas perempatan masih merah, beberapa pengendara motor maupun mobil mulai bersahut-sahutan membunyikan klaksonnya, dipencet bertubi-tubi, saat jelas-jelas jalanan lagi macet. Pengendara yang berada di belakang seakan memaksa pengendara yang di depan untuk bergerak maju, tanpa berpikir kalau lampu lalu lintas masih dalam transisi dari merah, kuning ke hijau, dan kadang kembali ke merah lagi sebelum kendaraan melewati perempatan. Hasilnya deadlock di tengah. Di momen-momen seperti ini,  klakson mulai ‘menjerit’ kiri kanan, depan belakang.

‘Jeritan’ bunyi klakson kendaraan yang memekakkan, berulang-ulang, menyiratkan bunyi-bunyi tak sabar diikuti lampu rem kelap-kelip menyala merah, memancing luapan perasaan jengkel dan menyebalkan.

Lantas, bagaimana membuat bunyi klakson tidak menyebalkan?

Salah satu teman mencoba menjawab pertanyaan ini melalui sebuah karya audio visualnya yang dikerjakan saat melakukan residensi di Tanahindie selama tiga bulan. Namanya A.Thezar Resandy, biasa dipanggil Thezar, salah satu seniman bunyi dari Makassar Noise Teror. Ia mencoba membuat karya instalasi klakson ‘di luar kendaraan’ yang dituangkan dalam karyanya berjudul “Main Klakson”.

Menurut Thezar, jika klakson dimainkan dengan pola-pola bunyi tertentu, kemungkinan bunyi yang dihasilkan tidak menyebalkan. Dari pengalamannya, ia pernah mencoba membunyi—mainkan klakson saat berkendara di jalanan kemudian direspons oleh pengendara lain dengan pola bunyi seirama. Menurutnya, ternyata hal itu lucu dan menyenangkan.

Dari pengalamannya dan obrolan-obrolan yang dilakukan selama beresidensi di Tanahindie di Kampung Buku, pelan-pelan Thezar mencoba membuat ‘mainannya’ sendiri. Ia berinisiatif untuk mempelajari mekanisme atau cara kerja  sebuah klakson, dengan berkeliling mencari sebuah tempat perajin klakson di Makassar, namun tak satupun tempat pembuat  klakson yang ditemuinya.

Ia lantas memilih alternatif lain dengan mendatangi bengkel motor bernama ZRT (Zul Racing Team), berlokasi di Jalan Hertasning Baru. Di sana, ia bertemu dengan M. Zul Andi, mekanik sekaligus pemilik bengkel yang membantunya dalam proses perangkaian klakson di luar kendaraan. Thezar diberi semacam rekomendasi komponen-komponen yang diperlukan, di antaranya: aki motor, klakson motor jenis standar, kabel sebagai konektor antara aki dengan klakson, saklar on/off,  pipa PVC, kaleng biskuit, kaleng cat, tripleks, dan balok berukuran  50x55cm.

Dalam prosesnya, Thezar tidak hanya diajarkan cara merangkai sebuah klakson di luar kendaraan oleh Zul, tetapi ia juga belajar soal mekanisme dan fungsi dari setiap komponen-komponen tersebut hingga dapat menghasilkan bunyi.

Presentasi dan Dialog Bunyi

Thezar membuka gelaran Soundsphere edisi kedua dengan secara tiba-tiba memainkan karya audio visualnya, bunyi klakson ‘di luar kendaraan’ yang dipadukan dengan sorotan gerak-gerik visual ikon-ikon pop berupa petak warna sebagai latar pertunjukannya di halaman depan Kampung Buku.

Soundsphere edisi kedua menjadi salah satu rangkaian Satu Dekade Kampung Buku. Dalam Presentasi karya bunyi, visual, dan dialog ini menampilkan A.Thezar Resandy dan Irwan Setiawan.

Karya instalasi klakson ‘di luar kendaraan’ yang dibuat Thezar berbentuk segi empat, berbahan dasar tripleks dengan balok kayu berukuran kecil sebagai rangkanya, dilengkapi dengan komponen-komponen sederhana, seperti pipa PVC, kaleng cat, dan kaleng biskuit yang berfungsi sebagai ruang untuk memerangkap bunyi klakson agar frekuensi suaranya tidak terdengar terlalu menyalak.

Dalam penyajiannya, instalasi ini kemudian disambungkan dengan perangkat elektronik lainnya, seperti sound card dan stompbox yang merupakan perangkat terpenting dalam menghasilkan musik noise.  Perangkat inilah yang memunculkan beberapa efek-efek tertentu, di antaranya: delay yang menghasilkan penundaan yang berulang-ulang dari suara atau bunyi aslinya, flanger digunakan untuk mencampur bunyi asli dengan bunyi hasil delay, dan reverb digunakan untuk menambah gema pada sebuah sumber bunyi.

Thezar mengawali presentasinya dengan memadukan bunyi klakson dengan elemen noise yang pelan dan tampak halus, seakan menghasilkan ‘rantai efek’  gelombang bunyi dengan komposisi beraturan. Sebagai pembuka, bunyi yang dihadirkan Thezar membangkitkan rasa penasaran akan ritme-ritme selanjutnya. Transisi tiap ritmenya menghadirkan suasana yang berbeda meski bunyi yang dihasilkan bising repetitif, namun ia membuat eksplorasi yang kontemplatif.

Di ritme-ritme tertentu, Thezar menampilkan sebuah sample modifikasi bunyi klakson yang mengalir, efek dari bunyinya seakan menempatkan imajinasi ruang  tentang penjelajahan waktu. Sebuah lorong waktu. Transisi bunyi klakson minim di tengah treknya mulai membaur dengan bunyi-bunyi efek klakson yang berulang-ulang, seakan mengajak saya mengalami bebunyian dengan nuansa avant-garde, dan secara bersamaan membawa saya bepergian menggunakan mesin waktu menuju “pintu-pintu dunia lain”.

Rekaman ‘Main Klakson’ berdurasi 13 menit 41 detik ini, di detik-detik akhir, Thezar menghadirkan ritme-ritme chaotic diikuti dengan visual gemerlap kota metropolitan di latar pertunjukannya. Gambaran gedung-gedung tinggi dengan lampu berkelapan dari bangunan toko-toko dan kendaraan seakan melukiskan sebuah ‘kota modern’ dengan kesibukan kendaraan yang lalu-lalang. Thezar menutupnya dengan membentuk harmonisasi antara audio dan visual yang membaur dengan apik.

Perjalanan eksperimentasi Thezar dalam memainkan klakson ‘di luar kendaraan’, mungkin tidak berlebihan jika dari segi improvisasi dan kombinasi, ia berhasil memvisualisasikan sebuah kompleksitas bunyi hingga menjadi musik yang tidak hanya rapat, namun lembut. Bagi saya, trek “Main Klakson” menjadi perkenalan yang baik, rasanya pas untuk dinikmati jika ingin menjelajahi dunia bebunyian baru.

Thezar dalam percobaannya memperlihatkan bahwa suara-suara atau bebunyian yang kerap hadir dalam keseharian kita sebenarnya bisa diaplikasikan dalam bentuk lain. Dari eksplorasinya dengan klakson, Thezar membuktikan bahwa bunyi klakson kendaraan di jalanan yang bersahut-sahutan, menyalak riuh di tengah deru kemacetan menimbulkan kejengkelan dan terasa menyebalkan, ia berhasil mengubah bunyi klakson dan mengimprovisasikannya dengan  mengombinasikan beragaman elemen noise dengan efek-efek tertentu, sehingga terdengar lebih tenang, santai, dan terasa lebih tenteram.

Tiba giliran Irwan Setiawan, akrab disapa Iwan, seorang seniman audio visual asal Makassar. Ia berbagi pengalamannya tentang bagaimana ‘melihat bunyi’, lebih spesifik mengenai osiloskop musik. Osiloskop (oscilloscope) adalah sebuah alat ukur elektronik untuk mengukur gelombang suara. Dengan menggunakan osiloskop, kita bisa mendegar suara sekaligus melihat bentuk suaranya (gelombang sinyal audio) dan secara bersamaan pula kita bisa mengalami rangsangan antara visual dan audio.

Dalam presentasinya, Iwan Setiawan mengombinasikan osiloskop dengan sebuah alat elektronik lainnya bernama synthesizer, bentuknya mirip dengan piano. Synthesizer atau biasa juga disebut dengan synth merupakan sebuah perangkat elektronik yang memproduksi suara dalam bentuk gelombang suara atau sinyal suara yang dikirim ke pembangkit suara. Dalam pengertian lain, cara kerja dari synth ini yaitu memproduksi gelombang suara elektrik, lalu dikonversi menjadi suara melalui pengeras suara atau media output lainnya. Sumber suara dari alat ini, kata Iwan, biasa dikenal dengan istilah Voltage Control Oscillator (VCO) yang mengeluarkan suara ketika disambungkan dengan osiloskop.

Menurut Iwan, cara membuat nada dalam osiloskop musik, ada tiga. Pertama, yaitu kita bikin suaranya, kemudian lihat gambarnya. Kedua, kita bikin gambarnya sedang suaranya kita manipulasi. Ketiga, berkaitan dengan rumus matematika.

Dalam kesempatannya, Iwan hanya mendemonstrasikan cara pertama dan kedua. Ia memulai dengan menampilkan gelombang synth dalam sebuah perangkat elektroniknya dan memperkenalkan sebuah tools yang disebut dengan osilator. Osilator tersebut tampak menyerupai speedometer regulator kompor gas versi mini. Dari perangkatnya, ia mulai mengoprasikan osilator tersebut dengan menggeser jarumnya ke kiri, kemudian menekan salah satu tuts pada synth, secara bersamaan memunculkan bentuk garis horizontal. Kemudian, ia lantas menambah satu osilator baru menjadi dua osilator. Dengan cara yang sama dilakukan sebelumnya, osilator baru yang ia tambahkan dengan menggeser jarumnya ke kanan, memunculkan garis vertikal.

Dalam percobaan lainnya, Iwan memperlihatkan bentuk dari gelombang synth dengan menekan tuts pada sebuah perangkat yang menyerupai piano mini itu, yang sebelumnya sudah dihubungkan dengan laptop dan proyektor untuk menampilkan bentuk dari sebuah gelombang suara. Suatu proses audio visual ia tampilkan. Sambil menekan satu per satu tuts dari synthesizer, Iwan menjelaskan bahwa semakin rendah sebuah nada, maka gelombangnya semakin sedikit, dan sebaliknya.

Untuk mengukur sebuah gelombang, ada istilah yang  dikenal dengan Hertz (Hz), yaitu panjang gelombang per detik. Kata Iwan, “manusia cuma bisa mendengar 20 gelombang per detik hingga 20.000 gelombang per detik, di atas itu manusia tidak dapat lagi mendengarnya.” Dalam pengertian lain, ambang frekuensi bunyi yang  dapat didengar oleh telinga manusia berkisar getaran frekuensi 20 Hz sampai 20.000 Hz. Suara di atas 20.000 Hz disebut dengan ultrasonik , sedangkan di bawah 20 Hz disebut infrasonik.

Pada prinsipnya, percobaan yang dilakukan Iwan adalah menampilkan sebuah musik osiloskop dengan menghubungkan antara audio dan visual. Di mana, bunyi (audio) yang bermacam-macam yang dihasilkan oleh sebuah perangkat synthesizer, secara bersamaan memunculkan sebuah visual dalam bentuk gelombang. Atau dengan kata lain, melihat bentuk bunyi itu sendiri.

Di penghujung acara, sebelum sesi dialog dibuka, Iwan mempersembahkan karya audio visualnya yang diberi judul “Soundsphere an Oscilloscope Music”. Sebuah musik instrumental ia mainkan. Musik yang dihasilkan dari sebuah proses modulasi, peralihan dari satu dasar nada ke nada yang lain, diikuti dengan pengubahan gelombang pendukung untuk menyampaikan bunyi dalam visualnya.

Musiknya mempunyai esensi bersifat hibrid, yang mencoba menafsirkan makna dari sebuah hasil persilangan beberapa elemen musik yang saling berbaur. Tiap transisinya tampak pelan dengan sedikit entakan di ujung penggalannya, diikuti dengan tampilan visual gelombang suara manipulasi. Alunan gebukan drum minim di tengah treknya, seakan mengantarkan saya ke satu pertunjukan Tari Hip Hop Kontemporer: Paralleles karya Abderzak, seorang koreografer kelompok tari asal Prancis, saat melakukan tur di Makassar beberapa bulan yang lalu.

Baik Iwan maupun Thezar telah berhasil memperlihatkan bahwa kemungkinan-kemungkinan lain bisa dimunculkan dalam berbagai ranah, di mana bunyi adalah sebuah medium untuk membuka segala kemungkinan-kemungkinan untuk dieksplorasi.

Setelah sesi dialog dibuka, beberapa pengunjung membuka obrolan dengan mulai berbagi cerita tentang pengalamannya dengan jalanan yang dianggap sebagai “ruang yang pas untuk melatih kesabaran, apalagi di perempatan lampu merah. Soal modifikasi klakson mobil truk yang menyerupai terompet juga dianggap penting untuk dieksplorasi. Di lain sisi, sopir truk yang memodifikasi klakson mobilnya menunjukkan bahwa mereka punya cita rasa estetika yang cukup tinggi dan hal ini menarik untuk dilacak, atau minimal kita pertanyakan sebagai seniman.”

Adapun respons pengunjung lainnya muncul, dengan melihat klakson bukan lagi dari bendanya, tetapi dari perspektif manusianya (pemilik atau penekannya). Salah satu pengunjung malam itu mengatakan bahwa di jalanan seperti di Kota Makassar kebiasaan membunyikan klakson bisa ditandai bagaimana kekuasaan  bisa dilihat dari bunyinya, makin besar bunyi komponen suatu kendaraan makin punya kuasa di jalanan. Misalnya, kendaraan yang punya klakson dengan bunyi yang menyalak atau kendaraan yang menggunakan sirene yang bunyinya mendengung keras.

“Dari obrolan tentang klakson banyak sekali yang tiba-tiba bisa muncul. Prototipe yang dibikin Thezar yang terbilang sangat sederhana bisa memicu obrolan-obrolan, ada fenomena yang memicu obrolan, dengan banyak pengembangan yang ditawarkan sebagai referensi. Mulai dari filosofi politik di jalanan soal kekuasaan sampai ke pengembangan metode penelitian lapangan. Hal ini menunjukkan dari hal sederhana, kemudian bercabang ke mana-mana,” tutup Kurator Soundsphere, Anwar ‘Jimpe’ Rachman.

Soundsphere edisi berikutnya akan membuka pintu seluas-luasnya bagi para pemusik atau perajin bunyi-bunyian untuk berkontribusi, berbagi pengalaman, menampilkan sesuatu, dan tentunya berkolaborasi dengan berbagai kalangan.

Rafsanjani, Mahasiswa Antropologi Universitas Negeri Makassar dan sedang belajar meneliti di Tanahindie.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan