Sontekan Keseharian di Akhir Tahun

Merasa Pameran
Presentasi Keseharian Menyambangi Akhir Tahun
Pameran Karya Instalasi, Interaktif, Foto, Video, dan lain-lain.

Sejak beberapa bulan lalu di masa pandemi ini, Adrian Hasdiantoro (Iyan), Teguh Fajrin Nugraha (Teguh), dan Husein Abdullah (Cenk) senantiasa mengobrolkan perihal materi studi terbaru yang mereka ikuti. Saat ini mereka bertiga sedang mengikuti program pembelajaran alternatif selama satu tahun secara daring soal kolektif dan ekosistem seni rupa di Indonesia yang diinisiasi oleh Gudskul – salah satu ruang belajar untuk publik berfokus pada simulasi kerja kolektif serta dialog yang kritis dan eksperimental. Tiap minggunya di ruang tengah SIKU mereka mengobrolkan materi-materi apa saja yang telah atau sedang mereka simak, interaksi atau obrolan apa saja yang terjadi di dalam kelas daring tersebut bersama kolektif lainnya dari berbagai kota di Indonesia.

Dari obrolan rutin mereka, banyak hal yang kemudian mereka munculkan sebagai ide yang bisa dikerjakan bersama sesuai dengan konteks yang ada di lingkungan SIKU atau Makassar secara umum. Salah satunya bagaimana jika obrolan yang sudah dan sedang terjadi ini bisa dipresentasikan dalam bentuk pameran. Ide soal pameran ini awalnya terkesan asal bunyi saja, tapi kemudian ketiga orang yang sudah disebutkan di atas merasa tidak masalah untuk memamerkan ide mereka masing-masing.

Pada minggu-minggu berikutnya dalam setiap obrolan mereka coba memantapkan tema atau akan mau berbicara apa pada presentasinya nanti. ‘Keseharian’ dan ‘Masa Kecil’ dipilih menjadi dua kata kunci dari presentasi ini. Keseharian dipilih sebagai bentuk spekulasi atau pertanyaan soal bagaimana, dan sejauh mana realitas yang mengelilingi mereka tersalin dalam tindak-tanduk manusia, seperti yang dipresentasikan oleh Teguh dan Cenk. Sementara masa kecil seseorang ternyata menjadi aktivitas berulang yang paling berpengaruh pada seseorang hingga membentuk keadaan seseorang yang relevan terhadapnya tanpa bermaksud meromantisir, seperti yang tampak pada presentasi Iyan. Lalu ada satu keseharian di SIKU yang benar belaka mereka sepakati untuk dibuatkan satu karya bersama: domino – kepopuleran permainan di SIKU muncul sejak masa pandemi.

Dalam beberapa kali obrolan sebenarnya sudah disepakati presentasi ini akan dilakukan pada bulan November, tapi karena mereka bertiga punya kesibukan yang lain demi terjaganya asupan gizi harus ditunda ke bulan Desember. Penundaan yang rasanya pantas disyukuri, karena di akhir bulan November mereka bertiga kedatangan segerombolan mahasiswa dari Politeknik Negeri Media Kreatif (Polimedia) Makassar atas usulan dari salah satu dosen mereka yang tidak lain juga salah satu warga di SIKU. Dosen atau salah satu warga di SIKU ini mengampu mata kuliah desain pamer pajang. Ia lantas memilih untuk melibatkan mahasiswa-mahasiswanya turut serta mengerjakan presentasi ini sebagai bagian dari penilaian ujian akhir semester.

Pada prosesnya mereka dibagi berdasarkan minat yang disesuaikan dengan kebutuhan pameran; ada yang mengerjakan desain, dokumentasi, publikasi pameran; ada juga yang bersama-sama ketiga seniman membuat layout pameran; lalu yang lainnya juga turut ambil bagian membuat video mapping, yang digarap oleh mahasiswa dari angkatan berbeda yang dimaksudkan untuk mengisi nilai tugas akhir mata kuliah audio visual. Video mapping ini sendiri merupakan bagian dari karya eksperimen bermain domino. Karya yang mempersilakan pengunjung bermain domino dengan format berganda tujuh (dari angka kosong-kosong hingga tujuh-tujuh) dengan beberapa aturan tertentu yang setidaknya meskipun membikin bingung para pemain, tapi janganlah sampai kehilangan orientasi permainan.

Pada presentasi individu, Iyan memilih untuk tercemplung di masa kecilnya. Dia memilih bercerita melalui film favoritnya yang membentuk kesehariannya sebagai mahasiswa jurusan film di Institut Seni dan Budaya Indonesia (ISBI) Makassar. Iyan menganggap bahwa menonton film Kung Fu dan Bollywood di ruang tamu rumahnya sebagai roman pertamanya mengalami film dan membentuk seluruh aktivitasnya sekarang ini. Teguh yang merupakan lulusan ilmu statistika, menampilkan kumpulan foto yang bercerita kegemarannya: bagaimana konsumsi yang ia makan dalam seminggu bisa memengaruhi atau tidak sama sekali setiap aktivitasnya, entah dalam hal itu Teguh merasa perlu bermain badminton sebagai bentuk keseimbangan berat badannya atau mencucurkan keringatnya dengan menyolder. Hubungan-hubungan hal tersebut ditampilkan dalam satu data yang berisi grafik jumlah gizi yang Teguh konsumsi. Lalu Cenk yang kesehariannya terbagi antara menyelesaikan kuliah pendidikan seni rupa, menggambar di berbagai sudut jalanan kota bersama teman-temannya sekaligus mengerjakan proyek-proyek mural dari kafe hingga rumah makan, merasa perlu menuangkan keruwetan pikirannya yang satu sama lain saling mengalami tarikan perhatian. Tarikan antara apakah dia harus mencari ritme antara ketiga hal tersebut sebagai metode berkeseniannya atau jangan-jangan ritme itu tidak perlu dicari karena sudah tertaut secara organik. Ibarat labirin, Cenk coba mengguratkan hal-hal demikian.

Di masa pandemi yang kita belum tahu kapan kita kemudian semakin akrab dalam situasi daring di setiap kegiatan atau kerjaan. Keseharian bisa jadi terlampau cepat hanya dengan menatap layar– tahunya sudah akhir tahun. Paling tidak di bulan terakhir 2020 ini kita bisa menyisakan satu hal terdekat yang bisa dikerjakan di SIKU – meskipun secara terbatas – dengan menghabiskan waktu untuk nongkrong. Presentasi akhir tahun ini berupaya merekam hal-hal tersebut bahwa jika masih ada sumur di ladang boleh lah kita menumpang mandi. Bahwa setidaknya jika “sumur di ladang” itu adalah SIKU, kami ingin mengajak teman-teman untuk “menumpang mandi” dalam bentuk cerita, bercengkerama, nongkrong, bermain domino, dan apapun itu – tentunya dengan mematuhi protokol kesehatan.

Salam Olahrasa!

H. Crespo & Daeng Abraham

Bagikan:

Tinggalkan Balasan