Kesetiaan Kepada Pilihan

Tahun 1972, saya terdaftar dan masuk sebagai mahasiswa Fakultas Filsafat UGM. inilah tahun awal saya sebagai mahasiswa, dan pada tahun itulah pula saya mengenal grup teater Gajah Mada. 

Perkenalan ini dimulai ketika suatu sore saya melintasi boulevard Bulaksumur yang membelah kampus UGM, dan di pinggiran sisi lain boulevard saya menyaksikan sekelompok mahasiswa yang sedang melatih vokal dan menghafal naskah. Secara iseng saya mendekat dan melihat latihan itu, dan bertanya kepada seseorang di antara mereka, kapan kiranya pentasnya. 

Sekitar dua bulan berlalu, saya menyaksikan pentas itu di University Club UGM. Sejak itulah saya selalu menguikuti pentas pentas teater Gama, dan mengikuti diskusi diskusi yang dilakukan setelah pementasan. Dari diskusi-diskusi itulah saya makin mengenal, dan salah seorang di antaranya, Suharyoso, sutradara dan pendiri teater Gama, mengundang dan mengajak saya untuk menyaksikan latihan latihan mereka. Dengan senang hati saya menerimanya, dan sesekali saya mengajak Linus Suryadi AG, seorang penyair, untuk ikut melihat latihan dan juga pementasannya. Beberapa kawan penyair dan penulis Yogyakarta, Weda Asmara, Bambang Darto, Emha Ainun Najib juga ikut menikmati pementasan itu melalui ajakan saya. 

Keterlibatan saya sebagai penonton teater Gama makin intensif ketika teater Gama menggarap lakon karya Putu Wijaya, Lho, Anu, Aduh. Intensitas pertemuan itu setelah setahun lebih saya mengenal grup teater mahasiswa yang saya anggap memiliki antusiasme dalam melibatkan publik untuk ikut mendiskusikan karya dan proses produksi. Dalam rentang waktu itulah saya berkenalan secara akrab dengan Suprapto Budi Santosa, Landung Rusyanto Simatupang, Wachid, Nining, dan beberapa anggota lainnya. 

Jika saya mengingat pengalaman saya sebagai publik teater, salah satu pengalaman yang paling mengesankan adalah keterlibatan saya sebagai publik, dan pelajaran memahami teater melalui grup dan anggota-anggota teater Gama. Di grup itulah perbincangan tercipta secara intensif melalui pengalaman melihat proses latihan dan cara kerja produksi. Dalam kaitan itu, salah satu di antaranya yang selalu berbincang dan berdiskusi dengan intensif adalah Budi Santosa. 

Waktu berlalu, dan selama lima tahun saya melibatkan diri dan mengikuti pementasan ke berbagai kota seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Malang, di samping pementasan di Yogyakarta. September tahun 1977, saya balik kampung ke Serang, Banten, ibu saya meninggal, dan kabar tentang Teater Gama hanya bisa saya ikuti tanpa bisa ikut menyaksikannya. Hampir dua tahun saya tak menyaksikan produksi Teater Gama. Sejak itu saya hanya sesekali kontak Budi, juga beberapa teman lainnya melalui surat menyurat. Sementara itu, saya berkeliling ke berbagai kota mencari nafkah sebagai distributor buku. Sesekali mampir ke Yogyakarta menemui mereka, dan Budi tak lagi di UGM. Sudah lulus dan entah pindah ke kota mana. Tapi saya masih bisa bertemu dengan Suharyoso dan Landung. 

Tahun 1980-an awal saya pindah ke Solo, dan tahun 1982 saya ber-KTP Solo. Dengan bermukim di Solo, jarak ke Yogyakarta kian dekat, dan kembali saya bisa menyaksikan pementasan Teater Gama, dan bertemu dengan beberapa anggotanya. Dari pertemuan itulah saya mendengar Budi pindah ke Makassar, antara tahun 1982-83. Pada tahun 1990-an, setelah tiga tahun, 1989-92 bekerja di the University of Michigan, saya punya kesempatan berulang kali ke Sulawesi Selatan dan Makassar. Tapi, sayangnya kunjungan saya ke Sulsel dan Makassar waktu itu tak memungkinkan saya bertemu dengan Budi. Pertama, karena saya tak mengetahui di mana posisinya, juga tak memiliki nomor kontak, walaupun saya juga mendengar bahwa ada “orang Jawa”, ungkap seorang teman Makassar, yang suka main teater dan bekerja di PU. Saya yakin itu Budi. Tapi, pekerjaan saya sebagai distributor buku tak memungkinkan saya bertemu. 

Baru beberapa tahun kemudian, suatu hari pada tahun 1997 ketika saya ikut mengorganisir Makassar Dance Festival, MDF, kami bertemu, setelah belasan tahun hanya kontak beberapa kali melalui koresponden. Pertemuan di Benteng Makassar, Fort Rotterdam, itu membuncah dalam obrolan tentang keluarga dan kesenian. Tentu saja kami kongko tentang teater. Obrolan demi obrolan dan waktu berlalu hubungan kami terus berlanjut dalam berbagai wujud, salah satunya, ajakan Budi untuk menikmati kulineri Makassar yang tak pernah saya tolak, suatu kenikmatan yang tak pernah saya dapatkan di Solo dan kota kota di Jawa lainnya. Ajakan untuk menikmati dunia kulineri itulah yang juga menjadi pertemuan kami terakhir. 

Suprapto Budi Santosa (kiri) bersama Goenawan Monoharto. (Foto: Dokumentasi IBF)

Pada minggu pertama dan kedua November 2020 saya mengikuti Ini Bukan Festival (IBF) yang diorganisir oleh Bahar Merdu dan beberapa teman lainnya bersama Studio Etika & Cafe. Beberapa kali kami bertemu dan saya menyaksikan pentas Budi bersama Goenawan Monoharto. Itu suatu pentas yang menarik, sederhana tapi dengan tema yang kuat yang diambil dari lakon pada masa gelora revolusi Indonesia sedang meluap-luap. 

Pada kesempatan itulah perbincangan tentang kesenian, teater dan ajakan menikmati kulineri disodorkan oleh Budi: ayam tolak pinggang, suatu menu yang rasanya unik dan aneh dalam nama. Siang itu, Budi menjemput. Kami bertiga, Budi, saya, dan Sukma Sillanan menuju Sungguminasa. Dua ekor ayam tolak pinggang saya nikmati, di antara perbincangan tentang keunikan nama dan rasa sajian yang memang langka. Pertemuan di meja makan restoran itu, satu hari sebelum saya kembali ke Solo pada tanggal 10 November, atau sehari sebelum IBF ditutup oleh rangkaian acara kolaborasi seniman dari berbagai disiplin. 

Kembali ke Solo, kami saling kirim WA, melalui grup WA dan kontak japri. Dan saya shock ketika sekitar seminggu lebih dari pertemuan di meja makan itu, Pak Halilintar Lathief mengirim WA via japri mengabarkan Budi kena COVID setelah pertemuan di suatu rumah. 

Saya kirim WA berharap kesembuhan dan kepulihannya. WA terakhir yang saya terima, ketika saya mengirim WA dan bertanya dengan harapan: “Kondisi Anda sudah lebih baikan?”. Jawaban Budi, “sedang berproses, dijalani saja”. 

Ada perasaan besar hati dan besar harapan saya ketika mendapat jawaban yang begitu kuat, namun juga terasa ada sesuatu yang dikhlaskannya. 

Saya ceritakan kondisi Budi kepada istri saya, Melati, dan dia kaget. Waktu yang begitu misterius itu selalu membuat kita gugup dan rasanya sia-sia menafsir jalannya. Kegugupan itu kian mengguncang ketika bertubi-tubi datang kiriman WA dari berbagai rekan di Makassar dan Jakarta, yang mengabarkan kepergian Budi. 

Saya terhenyak dan tubuh saya terasa oleng. Beberapa saat kemudian saya baru bisa mengirim sejenis doa untuk mengiringi kepergiannya, kepergian seorang sahabat yang tak lekang oleh waktu, dan di dalam rentang waktu itu pula rasanya ada sejenis yang tak bisa saya rumuskan dengan pasti, namun selalu membuat saya respek kepada almarhum: suatu jalan pilihan hidup dalam berkesenian, berteater tanpa beban di antara posisinya sebagai pejabat namun tak gamang oleh posisinya, yang jarang kita temui di lingkungan kita. 

Adakah itu karena pilihan kepada jalan kehidupan yang secara setia dirunutnya, teater yang tak pernah lepas dari kehidupannya. 

Innalillahi Waina Illahi Roji’unRest In Peace, Budi.

Halim HD, pegiat kebudayaan, bermukim di Solo.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan