Citra Tropika

(Anwar Jimpe Rachman – pengantar kuratorial pameran seni rupa “Tropika”, program studi Pendidikan Seni Rupa FKIP Universitas Muhammadiyah Makassar, 26 Februari – 1 Maret 2018)

MEMANG masih mengambang apakah benar atau tidak langit yang menjingga dan memerah di belakang tokoh plontos yang berteriak dalam lukisan The Scream, karya Edvard Munch, adalah efek letusan Gunung Krakatau di Selat Sunda, yang dilihat oleh pelukis ekspresionisme Norwegia antara 1983 -1910 itu. Namun bukan debat tersebut yang saya ingin tekankan di sini, melainkan warna-warna di latar belakang lukisan itu yang dianggap sebagai kesan yang tampak dari citra yang lahir dari dunia tropis.

Pengalaman visual tentang warna tropis pun saya pernah alami, ketika membandingkan warna-warna yang ada dalam karya Shin Hyeongman, seniman Korea Selatan, yang datang beresidensi sebulan di Makassar pada tahun 2014. Pada awal kedatangannya di Tanahindie/Kampung Buku, ia tunjukkan karya-karya dwimatranya yang berukuran kecil (agar gampang dibawa dengan tas). Yang terlihat dominan dalam lukisannya waktu itu adalah warna abu-abu atau nuansa yang cenderung redup. Mungkin begitulah karakter warna yang banyak dikerjakan, pikir saya ketika itu. Namun anggapan awal saya itu ralat sendiri. Rupanya ketika sedang menyiapkan pameran akhir masa residensinya, saya dapati karya-karya sketsa dan lukisnya yang penuh warna lebih berani.

Tampaknya, ‘eforia’ warna itu penjelmaan grafis dari pengalaman Shin sepanjang hari selama sebulan di Makassar. Suasana kota pantai ini telah memberinya waktu ‘mengalami’ demikian banyak warna beserta kombinasinya, juga kesan visual yang ditangkapnya dari tumbuhan, binatang, senja di Pantai Losari, hingga benda-benda hasil kebudayaan manusia di kota ini, seperti baliho dan panji-panji partai.

Pengalaman itu jelas berbeda dengan situasi di negara asalnya Korea Selatan, yang mengenal empat musim. Pencampuran dan pengalaman ragam warna tegas sekaligus teraduk itu hanya bisa Shin dapatkan di kawasan tropika, wilayah permukaan bumi di bentangan garis katulistiwa. Wilayah yang mengalami empat musim, jelas berbeda dengan negara yang dilintasi garis katulistiwa yang hanya mengenal dua musim. Pada kawasan yang bermusim empat, terutama di masa-masa tertentu, nuansa warna cenderung menggelap. Sedang pada masa dua musim, sinar matahari yang cenderung stabil memungkinkan warna tampak senantiasa ‘terang’.

 

MEMIRSA rentetan karya enam mahasiswa Jurusan Pendidikan Seni Rupa Universitas Muhammadiyah Makassar dalam pameran bertajuk “Tropika” ini membawa kita pada nuansa tentang wilayah yang sepanjang tahun terpapar matahari ini. Karya-karya ilustrasi dan seni kriya yang ditampilkan Eki Hardi, Fitri Ningsih, Jasman, Muslimah, Nurhidayatun, Suriati perlu kita ‘dalami’ dan ‘alami’ sebagai karya yang menyentuhkan kita ke suasana ini.

Kendati warna-warna kuat dan tegas itu tidak muncul dalam seluruh karya yang dipamerkan dalam “Tropika”, tapi sebagian besar karya itu mengesankan nuansa jagat tropika. Kuatnya kesan itu lantaran objek-objek yang ditampilkan dalam matra dan media karya mereka adalah flora-fauna dan ornamen yang identik dengan belantara di wilayah tropis. Kita bisa melihat semua itu lewat nyamuk Anopheles, semut, lebah, kalajengking, dan laba-laba dalam karya ilustrasi Jasman; pipit, bangau, angsa, sampai merak dalam karya kriya Nurhidayatun; ikan cupang, kutilang, sampai daun dan bunga penuh warna pada kriya-kriya Suriati; warna-warna berani di karya kaligrafi Fitri Ningsih; perahu, pasir, dan buah salak dalam kaligrafi Muslimah; atau eksotik tengkorak dari lembah atau pegunungan yang dihuni oleh masyarakat-masyarakat penganut agama leluhur.

Selamat menikmati citra-citra negeri tropika!

Bagikan:

Tinggalkan Balasan