Ujung Bulu Melayar: Mengalami dan Mengaktivasi Ruang Baru Bersama Teater Kampong

Achmad Dharsyaf Pabottingi, akrab disapa Om Cacca’, salah satu pendiri Teater Kampong bersama beberapa anggota Teater Kampong lainnya berdiri di depan panggung utama Tarungku Toae, sebutan bangunan eks penjara di Bulukumba yang dibangun pada tahun 1917. Om Cacca’ mengajak kami berkumpul dan memandu kami keluar dari bekas tahanan ini menuju jalan raya. Saya tidak tahu ke mana orang-orang akan pergi. Di antara rombongan, ada yang berteriak, bergandengan tangan, saling merangkul, ada juga yang membawa obor api. Saat itu, saya hanya yakin bahwa kami sedang berjalan menuju sebuah pagelaran yang menarik. Meski, asumsi ini terasa terburu-buru.

Kami berjalan rombongan melewati Kantor Bupati Bulukumba yang berbatasan dengan lapangan Merdeka di Jalan Sudirman, setiap malamnya, di sekeliling lapangan ini ramai oleh tenant-tenant makanan dan minuman, pedagang nasi santan, kios pulsa dan toko handphone, juga rumah-rumah warga.

Setiba di Kelurahan Ujung Bulu, kelurahan yang kami lewati, ada seorang pria paruh baya menahan rombongan. Niko, salah satu anggota Teater Kampong menghampiri laki-laki paruh baya itu. Saya tidak mendengar jelas apa yang mereka negosiasikan sambil bersalaman. Yang jelas, setelah itu, pria paruh baya tadi dipanggil Om Beje’ langsung mengawal kami dengan sepeda motornya. Kami terlihat serupa arak-arakan mempelai pria yang sedang berjalan ke rumah mempelai wanita.

Padahal, sebenarnya kami hanya rombongan yang berjumlah kurang dari 30 orang sedang berjalan menuju Bioskop Surya, suatu tempat yang sebagian dari kami tidak mengetahui di mana lokasinya. Pria pengawal itu sesekali berteriak memberi kami kata-kata semangat dan rombongan tersenyum masam menyaksikannya. Gatot, salah satu panitia Makassar Biennale (MB) 2019 di Bulukumba yang juga ikut dalam rombongan, membeberkan bahwa Om Beje’ adalah warga asli Pao (daerah yang kami lalui) yang sejak dulu terkenal sebagai kawasan “Texas” di Bulukumba, dan Om Beje’ adalah salah satu “preman” di tempat tersebut.

Setiba di eks bangunan Bioskop Surya, bioskop lama yang terdiri dari tiga studio dan tiga pintu utama ini. Dari hasil pengamatan saya, studio di sisi kanan dan kiri bisa menampung sekitar 100 orang, sedangkan studio tengah bisa menampung hingga 300 orang. Kami berjalan masuk melalui pintu sebelah kiri berlampukan cahaya bulan dan lampu gawai masing-masing. Saya tidak tahu apa yang saya injak, bahu siapa yang sudah saya senggol hingga tiba di dalam bioskop yang beralaskan tanah, dedaunan, dan ranting-ranting kering. Menurut cerita, bioskop ini dulunya dikelola oleh orang Tionghoa yang bermigrasi ke Bulukumba.

Di studio sisi kiri ini, ada layar putih berbentuk persegi empat, kira-kira berukuran 4 x 3 meter, yang terbuat dari enam belas kertas minyak yang ditempel satu sama lain. Kertas minyak itu diikat dengan tali rafia kemudian dikaitkan ke tembok dan batang pohon mangga. Ada juga satu lampu sorot di balik layar. Kami semua berdiri memandangi layar kertas minyak itu. Beberapa di antara kami sudah mulai grasak-grusuk mencari posisi menonton yang strategis, warga-warga di sekitar Bioskop Surya juga berdatangan. Barangkali, mereka penasaran dan heran dengan keributan sedari kami berjalan tadi.

Pingkan Polla, seniman performans dari Forum Lenteng tiba-tiba masuk membenamkan diri di balik layar, menyambut setiap orang yang datang, lantas mempersilakan Teater Kampong untuk tampil. Om Cacca’ bersama awak Teater Kampong menampilkan cerita rakyat Bulukumba yang bertajuk “Manu Putena Barabba Manu Koro-korona Cabalu” (Ayam Putih dari Barabba dan Ayam Hitam Emas dari Cabalu). Mereka menggunakan gitar sebagai musik latar pertunjukan, ranting pohon sekitar, dan obor api sebagai properti tambahan.

Setelah itu, Om Cacca’ melanjutkan performans keduanya bertajuk “Olympus dari Mitologi Yunani”. Siluet tubuh Om Cacca’ dan para penampil di balik temaram warna hitam putih dan kelihaian mereka menyesuaikan liuk tubuh, menjadikan Bioskop Surya malam itu serasa sedang menonton pagelaran wayang, menyaksikan film 12 Angry Men, dan ingatan tentang bibi saya yang seumuran dengan Om Cacca’.

Saat masih sekolah di kampung, bibi saya sering menceritakan rutinitasnya saat masih gadis. Pada malam hari, ia dan teman-teman sebayanya berjalan beberapa kilometer untuk menonton pertunjukan film kolosal yang telah diputar berulang-ulang. Menjadikan film-film di layar tancap itu sebagai hiburan bersama kekasihnya dulu sambil makan kacang rebus.

Saya juga terus membayangkan layar kertas minyak itu, mungkin suatu waktu bisa saya buat di bawah kolong rumah tetangga saya di kampung, mengajak adik-adik saya yang kecil untuk bergerak sesuai kehendak hati mereka. Sementara di dapur rumah, ibu saya sedang riweh menggoreng sanggara peppe’ beserta sambal ulek yang terdiri dari tomat, cabai rawit, gula merah, dan terasi udang. Sedang bapak saya akan merokok bersama para tetangga yang biasanya hanya terjadi ketika ada hajatan.

Ingatan bercampur imajinasi itu terus berlangsung ketika Ikram Pradita Caka berpuisi dan Khaeria Ulfarani Rahman yang membacakan pesan-pesan dari grup Whatsapp “MB Bulukumba”. Layar milik semua warga itu, ditutup oleh anggota Teater Kampong, Muh. Ishak Saleh (Depeng) dengan puisi karya Chairil Anwar.

Performans Teater Kampong “Olympus dari Mitologi Yunani” (Foto: tim dokumentasi MB 2019).


Saya baru pertama kali melihat sebuah performans dengan menggunakan layar hitam putih. Bioskop lama itu juga terasa magis karena suara gonggongan anjing dan suara ranting yang terinjak oleh kaki-kaki kami. Pengalaman berbeda itu membuat saya tergugah untuk mengobrol langsung dengan Pingkan Polla, yang telah menginisiasi pertunjukan ini.

Pingkan dan Teater Kampong

Kisah ini bermula dari pertemuan antara Pingkan Polla dengan Teater Kampong. Pingkan adalah seniman yang berdomisili di Jakarta dan bekerja di Forum Lenteng. Pingkan sudah mengetahui tentang Makassaar Biennale sejak Januari 2018 saat datang ke Makassar. Ia mengetahui informasi ini dari Anwar Jimpe Rachman, Direktur dan Kurator MB 2019. Hingga pada beberapa bulan terakhir, Pingkan dihubungi oleh Jimpe dan diajak untuk mengikuti residensi.

Rencana awalnya, Pingkan akan residensi di Kota Parepare. Namun, karena satu dan lain hal, Pingkan akhirnya residensi di Bulukumba. Setelah mengetahui informasi tentang lokasi residensinya, Pingkan mengumpulkan informasi tentang daerah yang dikenal sebagai sentral pembuatan kapal pinisi itu. Informasi yang didapatkan Pingkan di internet ketika mengetik kata “Bulukumba” adalah berita-berita kriminal yang terjadi di kabupaten ini.

Beberapa waktu setelah itu, Pingkan akhirnya tiba di Kota Makassar dan berangkat ke Bulukumba bersama rombongan tim kerja Makassar (MB 2019) yang juga menuju perhelatan MB 2019. Pingkan tiba bersama rombongan di Roemah Penjara Bulukumba, sesaat sebelum malam pembukaan dimulai.

Setelah mengetahui lokasi MB di Tarungku Toae, Pingkan yakin bahwa narasi tempat ini sudah sangat kuat, apalagi setelah mengetahui bahwa tempat ini bukan ruang kosong yang dimanfaatkan MB, melainkan sudah dikelola dan dihidupkan oleh Teater Kampong sejak 2007.

Hingga pada sesi Wicara Seniman di hari kedua perhelatan MB 2019 di Bulukumba, dengan tajuk “Teater Kampong Sejarah dan Seni” Om Cacca’ menjelaskan konteks sejarah teater di dunia, Indonesia, Sulawesi Selatan, dan Bulukumba, tempat Teater Kampong berdiri sejak 1979 hingga sekarang. Laki-laki berumur 64 tahun itu juga banyak menjelaskan kaitan antara seni dan teater itu sendiri, serta teater sebagai ruang menyampaikan pesan secara indah dari berbagai sudut pandang kehidupan sehari-hari, yang dianggap pincang. Ia juga membeberkan upaya-upaya dan pasang surut yang dialaminya bersama teman-teman di Teater Kampong.

Bagian yang paling menarik perhatian Pingkan dari wicara seniman itu adalah metode belajar yang diterapkan Teater Kampong. Metode latihan Teater Kampong menggunakan metode yang intuitif dan berbasis spontanitas, yang tidak perlu menggunakan naskah dan arahan yang rigid dari sutradara, sehingga para pemain berhak melakukan improvisasi dan eksplorasi sendiri. Bagian ini menjadi penting, sebab ada beberapa anggota Teater Kampong yang buta aksara. Om Cacca’, sebagai sutradara hanya memberikan konsep dan makna setiap cerita yang akan dimainkan. Menurut ayah empat anak ini, sutradara yang baik adalah dia yang memberi ruang dan keleluasaan bagi setiap orang yang akan bermain teater untuk mengeksplorasi konsep cerita ke dalam ruang dan gerak yang akan ditampilkan di panggung.

Menyiasati Waktu Residensi

Pingkan memulai residensinya di Bulukumba dengan mengumpulkan informasi tentang Teater Kampong dari obrolannya bersama Om Cacca’, Zidiq Fathana (putra Om Cacca’), Niko, Mahesa, dan teman-teman Teater Kampong lainnya yang sehari-hari latihan, dan berkumpul sambil minum ballo enau di Roemah Penjara.

Bagi Pingkan sendiri, residensi adalah sebuah metode pelibatan seseorang yang berasal dari daerah lain atau daerah yang sama untuk mengenal isu atas sebuah lokasi dan memberi interpretasi baru terhadap ruang tersebut. Residensi bertujuan untuk membingkai sebuah isu-isu yang berkesesuaian dengan konteks lokasi dan warga di lokasi residensi tersebut.

Durasi residensi Pingkan yang singkat, sekitar dua minggu, membuatnya harus lebih interaktif dalam menggali kebutuhan dan hal yang bisa ia lakukan di Bulukumba bersama Teater Kampong. Syukurnya, saat pertama kali mengikuti malam Pembukaan MB 2019 – Bulukumba, Wicara Seniman, dan Malam Tiba-tiba, Pingkan sudah mendokumentasikannya. Perempuan keturunan Manado ini menyadari bahwa publikasi dan pendokumentasian secara digital itu penting. Ia berinisiatif membuat akun YouTube untuk Teater Kampong yang diberi nama Teater Kampong Bulukumba. Ia mulai mengunggah video Pembukaan MB 2019 – Bulukumba, Teater Panambe oleh Teater Kampong, dan Wicara Seniman yang difasilitasi Om Cacca’ di akun YouTube Teater Kampong Bulukumba.

Pingkan juga terus mengobrol dengan para anggota muda Teater Kampong, bahkan datang ke rumah pemain musik tradisional Teater Kampong, Iskandar Maddatuang Daeng Tawang. Di malam kedua perhelatan MB 2019 – Bulukumba yang dipadati oleh warga dan beragam penampilan teater, puisi, hingga kasidah itu, Pingkan menyadari bahwa di Bulukumba ini orang suka tampil. Ia tergugah untuk memikirkan model pertunjukan seni yang berbeda, tetapi pada saat itu dia belum tahu apa yang akan dia lakukan.

Hingga akhirnya, Gatot memberinya informasi bahwa di kota ini ada bioskop lama. Dari situ, di hari ketiga residensinya, ia bersama Gatot mengunjungi bioskop lama itu. Ia terkesima dengan bentuk bioskop yang besar dan megah. Pingkan membayangkan ketika bioskop ini difungsikan lewat berbagai pertunjukan yang digelar setiap harinya, maka tempat ini akan dipenuhi oleh ratusan orang, dan bisa menjadi salah satu ruang kesenian di Bulukumba.

Pingkan terus berupaya mengumpulkan informasi lewat warga setempat, mulai dari orang tua hingga pemuda lokalnya lewat nongkrong. Menurut Pingkan, nongkrong bersama warga setempat sangat menyenangkan dan memang mesti sering dilakukan, apalagi sedang residensi dengan durasi yang singkat. Lewat informasi yang didapatkan secara lisan, kita bisa menyerap berbagai pengetahuan dari warga yang menceritakan pengalaman sehari-harinya yang berkaitan dengan konteks lokasi tempat tinggal mereka.

Hal baik lainnya adalah, Muh. Ishak Saleh, salah satu anggota Teater Kampong, lokasi rumahnya tepat berada di depan Bioskop lama itu. Ternyata saat bioskop itu beroperasi, ibu dari Ishak sudah tinggal di situ dan pernah punya warung Kopitiam. Pingkan juga diberi tahu ayah Ishak tentang film-film Jet Li dan film India yang terakhir mereka nonton pada 1980 akhir hingga 1990-an awal. Ia tidak tahu pasti kapan bioskop lama itu berhenti beroperasi, sebab dari beberapa warga yang diwawancarainya, informasi yang didapatkannya berbeda-beda. Ternyata lokasi bioskop ini dulunya terkenal sebagai wilayah dengan tingkat kriminalitas yang tinggi. Informasi lain yang ia dapat bahwa pada 1990-an saat bioskop ini berhenti beroperasi, ada orang sempat mendirikan rumah di situ, tetapi masyarakat setempat melarang karena menjadi tempat “remang-remang”.

Pengetahuan dari hasil nongkrong itu juga membawa Pingkan untuk menggali lagi informasi tentang Teater Kampong, karena sejak setahun terakhir ia memang sedang melakukan penelitian mengenai persinggungan antara teater dan seni performans. Jadi, ia memikirkan kemungkinan lain yang bisa dikerjakannya bersama dengan Teater Kampong yang sedari awal sudah membuatnya terkesima.

Dari penelusuran lanjutannya, Pingkan mendapati bahwa sejak kecil, Om Cacca’ itu senang dengan mitologi-mitologi Yunani. Mitologi-mitologi itu ditontonnya dari film-film yang dibawa oleh kakaknya yang dulunya kuliah di Makassar. Tokoh-tokoh dalam film itu, Om Cacca’ bentuk menjadi wayang dan mencoba memainkannya. Ia menyebutnya film. Dari pengalaman masa kecil Om Cacca’ yang diketahui Pingkan dari sebuah skripsi yang ditulis oleh salah seorang mahasiswa dari Makassar dan kesukaan Pingkan menonton film hitam putih membuatnya menginisiasi sebuah performans dengan model seperti menonton film.

Ide itu lalu didiskusikan dengan kurator, tim kerja MB 2019 – Bulukumba, dan beberapa kawan dari Teater Kampong. Karya itu diberi judul “Ujung Bulu Melayar”. Judul dari presentasi publik ini diambil dari nama kecamatan tempat bioskop lama berada. Kata “melayar” berhubungan dengan Bulukumba yang terkenal dengan slogan kapal pinisinya. Kata “melayar” juga bisa berarti melakukan pertunjukan layar atau screening. Secara singkat, “Ujung Bulu Melayar” adalah menonton layar di Ujung Bulu, jelas Pingkan sambil terkekeh.

“Ujung Bulu Melayar” ini diadopsi Pingkan dari Teater Isin Angsat saat residensi selama sebulan di proyek seni Bangsal Menggawe 2019, Kota Pemenang, Lombok Utara. Pada saat itu, Pingkan berkolaborasi dengan pasangan suami istri pemain teater untuk menampilkan teater yang beririsan dengan performans.

Isin Angsat adalah bahasa lokal di Kota Pemenang yang merujuk pada biota laut bercangkang keras serupa kerang yang biasa muncul saat air laut surut dan bisa dikonsumsi. Kesamaan antara Ujung Bulu Melayar dan Isin Angsat terletak pada spontanitas yang dalam istilah zaman sekarang mirip prank sebab orang-orang yang terlibat tidak menyadari dan mengetahui bahwa sedang tergabung dalam sebuah performans. Yang menjadi pembeda dengan prank adalah performans ini dilakukan dengan kesadaran kultural. Pun begitu, ketidaksadaran dan ketidaktahuan tadi tetap memberi dampak dan suasana berbeda di Kota Pemenang kala itu, bahkan Teater Isin Angsat bisa melibatkan hingga seribu warga Kota Pemenang, bahkan Bupati Lombok Utara.

Selama menggeluti dunia kesenimanan sejak tiga tahun terakhir, Pingkan menjadikan Bulukumba sebagai lokasi residensinya yang ketiga. Di sini, dia mencoba untuk memfasilitasi kawan-kawan di Teater Kampong yang telah memahami betul apa yang mereka akan kerjakan. Saat Pingkan menyampaikan rencananya membuat Ujung Bulu Melayar, anggota Teater Kampong sudah mengerti apa yang harus disiapkan dengan ongkos seminimal mungkin dengan durasi pengerjaan kurang dari sehari.

Menariknya, karya Pingkan ini ternyata baru diketahui oleh Om Cacca’ tiga jam sebelum karya itu siap dipresentasikan ke publik. Sebetulnya, untuk merencanakan karya ini, Pingkan telah mengobservasi metode improvisasi dan spontanitas yang diterapkan Om Cacca’ di Teater Kampong. Sebelum mulai jalan menuju ke lokasi performans, Pingkan hanya meminta Om Cacca’ untuk membawa cerita rakyat. Pingkan sudah yakin bahwa beliau akan tampil dengan baik, karena karya Pingkan adalah sesuatu yang dikerjakan Om Cacca’ sejak kecil.

Di Balik Performans

Saya bertanya kepada Pingkan, Mengapa dia memilih performans dibandingkan dengan seni yang lain? Pingkan tertawa, karena baru mendapati pertanyaan ini sejak belajar performans. Ia mencoba menjawabnya. Sejak ia tergabung dalam Forum Lenteng tiga tahun silam, tahun itu juga bertepatan dengan dibentuknya 69 Performance Club. 69 Performance Club adalah platform studi mengenai seni performans yang diinisiasi oleh Forum Lenteng. Partisipan 69 Performance Club kebanyakan berasal dari latar belakang pendidikan non seni. Maka dari itu, platform ini didirikan untuk mengerti lebih dalam mengenai seni performans itu sendiri.

Selain belajar di Forum Lenteng dan 69 Performance Club, saat sekolah dulu, Pingkan tergabung dalam kelompok seni tari, teater,dan paduan suara di gereja. Ia mengelak disebut suka tampil. Keterlibatannya di performans terjadi karena ada kesempatan dan rasa ingin tahu terhadap apa sebenarnya seni performans itu. Ia menceritakan pengalaman performansnya pertama kali berjudul “Attempt”. Saat itu ia memanjat pohon, lalu jatuh, memanjat pohon lagi, jatuh, dan para penonton saat itu berkata performansPingkan bagus. Ia heran, atas respons “bagus” itu. Ia membutuhkan waktu dua tahun untuk menyadari respons orang-orang tadi, menyadari gerak yang waktu itu dilakukannya dan apa sebenarnya seni performansini.

Bagi Pingkan, performansadalah sebuah pernyataan tubuh setiap orang yang berupa pola, warna, gerak yang dinilai secara visual. Bagian ini juga yang membedakan antara teater dan performans. Teater diklasifikasikan sebagai seni pertunjukan sementara performans sebagai seni rupa. Perbedaan ini karena performans tidak mengharuskan adanya sutradara, dialog, dan naskah. Tubuh adalah medium yang dibingkai untuk memberikan statement akan sesuatu hal yang terlihat secara visual.

Performans menggunakan tubuh untuk membangun konten yang selanjutnya diinterpretasi oleh setiap orang yang menyaksikannya. Interpretasi itu tentu saja beragam dan dipengaruhi oleh bagasi pengetahuan, pengalaman, konteks lokasi, kondisi geografis hingga cara pandang seseorang terhadap sesuatu. Salah satu yang penting dari sebuah performans adalah aktivisme atau upaya mengaktivasi sesuatu. Misalnya “Ujung Bulu Melayar” yang mencoba mengaktivasi Bioskop Surya yang sudah tidak terpakai, dan mengajak teman-teman Teater Kampong untuk mengalami suasana berbeda, hal yang selama ini baru mereka kerjakan di bekas penjara lama, serta menawarkan pada warga setempat sebuah usaha untuk menghidupkan sebuah lokasi dengan kegiatan yang membangun.

Dalam “Ujung Bulu Melayar”, Pingkan sebagai seniman tidak tampil dalam pementasan. Bagi Pingkan, seniman performans tidak harus selalu tampil dalam sebuah karya. Seorang seniman perlu peka melihat kondisi sekitar. Ada kalanya seniman harus mundur, menyadari potensi di lingkungan itu, dan memfasilitasi publik untuk terlibat aktif dalam merespons apa yang terjadi pada dirinya ataupun di lingkungan sosialnya. Respons dalam wujud performans inilah yang bisa dipresentasikan ke ruang privat, semi privat hingga ruang publik.

Selama residensi di Bulukumba, Pingkan mengalami atmosfir yang sangat berbeda dengan dua pengalaman residensinya sebelumnya. Ada narasi kebudayaan yang kuat dan isu yang sangat beragam di kabupaten ini. Ia menyadari bahwa banyak sekali pengetahuan yang ia dapatkan selama menjalani residensi. Perempuan kelahiran Magelang ini juga selalu menekankan pada dirinya bahwa pengetahuan yang dia punya, dan pengetahuan warga di lokasi residensi adalah setara dan saling mengisi.

Bulukumba juga membuatnya menyadari bahwa banyak di antara kita hendak residensi di berbagai tempat yang jauh hingga luar negeri. Pingkan tidak mengelak bahwa hal ini juga adalah keinginannya. Tetapi, residensi di sini membuatnya berpikir bahwa kemana pun kita pergi, kita semakin sadar bahwa ruang dan isu yang paling dekat dengan kitalah yang perlu diaktivasi.

Pilihannya untuk menggali dan menggeluti seni performans perlahan membangun mental Pingkan untuk selalu punya keingintahuan terhadap banyak hal baru yang ia dapati. Baginya, ini bisa terjadi karena akumulasi pengetahuan, pengalaman, dan latihannya terus menerus di Forum Lenteng yang memang dilatih untuk memiliki mental belajar.

Akhir yang Memulai

Lewat perbincangan yang cukup panjang di dalam “Sel 4” malam itu, hingga tulisan ini dengan tertatih saya selesaikan, saya teringat dengan pesan Om Cacca’ saat wicara seniman. Kala itu “Papi”, panggilan lain Om Cacca’ berpesan bahwa “kita jangan patah semangat, sebab di kolong langit, semua tempat bisa jadi ruang berkesenian”.

Saya juga membaca ulang presentasi Prashasti Wilujeng Putri saat simposium MB 2019 di Makassar dalam sesi “Seni Rupa dan Gender”. Lewat makalah berjudul “Performativitas Tubuh dalam Seni Performans”, Prashasti menulis “Tidak ada tubuh yang tidak mengalami konstruksi sosial. Butler dalam hal ini lebih suka memakai istilah social inscription. Status dan peran seseorang dituliskan atau ditatokan dalam tubuh individu. Tubuh manusia sudah diberi gender sejak awal eksistensi sosial mereka (dan tidak ada eksistensi yang tidak bersifat sosial), yang artinya tidak ada “tubuh yang natural” yang bebas dari konstruksi sosial itu.”

Seni performans menjadi sebuah metode dalam mengonstruksi dan merekonstruksi sebuah konten atau gagasan tertentu yang hendak disampaikan. Secara lebih dalam, saya menyadari bahwa setiap orang berkesempatan untuk membangun konten terhadap dirinya sendiri, orang di sekitarnya dan tentu saja lingkungan tempatnya berada. “Ujung Bulu Melayar” memberi kesempatan kepada saya dan banyak orang untuk mengaktivasi Bioskop Surya bersama Teater Kampong.

Perbincangan saya dengan Pingkan malam itu harus berakhir ketika Irha Maghfirah, salah satu tim kerja MB 2019 – Bulukumba menghampiri untuk memastikan beberapa kesiapan untuk menyambut kegiatan MB 2019 besoknya dan kemungkinan hal tiba-tiba yang akan terjadi di malam harinya. Setelah malam itu, Pingkan masih terus melanjutkan penelusurannya terhadap Teater Kampong dan merencanakan perjalanannya ke Pulau Selayar. Malam itu saya pulang dengan mulai menyadari bahwa menyaksikan performans adalah proses kembali ke diri sendiri untuk kembali mengalami ingatan-ingatan yang telah lalu dan memulai imajinasi untuk segala kemungkinan baru yang kelak bisa dilakukan dan diinterpretasi oleh setiap orang.

Tulisan ini terbit pertama kali di makassarbiennale.org

Wilda Yanti Salam, mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Hasanuddin dan belajar meneliti di Tanahindie.


Bagikan:

Tinggalkan Balasan