Makassar Biennale

  • Makassar Biennale 2019 Hadir di Penjara Tua Bulukumba

    Sekitar jam setengah delapan malam, beberapa pemuda berdiri di Tarungku Toae, bekas penjara tua Bulukumba, yang berlokasi di perempatan lampu merah Jalan Sudirman. Mereka memastikan orang-orang memarkir motornya dengan rapi, setelah itu mengantar mereka masuk melalui terowongan kecil yang dilukis dengan motif batu merah, menuju halaman Tarungku Toae yang telah dipadati ratusan orang. Di Tarungku…

    Read more

  • Menangkap Cahaya-Cahaya Sungai Mandar

    “Ada dunia yang penuh pengalaman, yang melebihi dunia orang yang agresif, yang melebihi sejarah, dan yang melebihi ilmu pengetahuan. Keadaan kualitas alam dan ungkapan seni yang hebat sama-sama sulit untuk diterjemahkan. Kita hanya mengerti sebatas kedalaman jiwa dan pemikiran kita.”  Ansel Adams Fotografi secara umum diartikan sebagai proses menulis atau melukis cahaya. Secara lebih luas,…

    Read more

  • Reinventing Narration in Museum

    New Order regime’s influence through “Green Revolution” program demanded the presentation of  the text for the collection of Museum La Galigo which informs that sago was used as an “alternative” food for people of Sulawesi Selatan. In fact, in Luwu Regency, Sulawesi Selatan, which situated around 367 km from Makassar City, in the past, people…

    Read more

  • Menarasikan Ulang Museum

    Pengaruh kebijakan rezim Orde Baru lewat program Revolusi Hijau mereprensentasikan penyajian teks koleksi Museum La Galigo yang menyebutkan bahwa sagu sebagai makanan “alternatif” masyarakat Sulawesi Selatan. Di Kapubaten Luwu di Sulawesi Selatan yang berjarak sekisar 367 kilometer dari Kota Makassar, dulunya masyarakat di sana menjadikan sagu sebagai makanan pokok dan komoditas andalan, lantaran memiliki peranan…

    Read more

  • Program Magang Makassar Biennale 2019

    Yayasan Makassar Biennale membuka kesempatan magang bagi teman-teman mahasiswa dan umum untuk bekerja dan belajar bersama dalam kerja-kerja tim Makassar Biennale 2019. Program magang meliputi:  1. LO (Liason Officer)  2. Fotografer   3. Videografer (editor dan juru kamera video) 4. Desainer Grafis Program magang Makassar Biennale 2019 berlangsung selama dua bulan: 1 September – 31 Oktober 2019 di empat Kabupaten/Kota, yakni Makassar, Bulukumba, Parepare, dan…

    Read more

  • Optimisme Seni Rupa di Makassar

    Pameran karya Celebes ArtLink menyodorkan tema sentral “Makassar Sebagai Medan Seni Rupa dan Masa Depan Seni Rupa Indonesia Timur” dalam sesi Art Talk dengan menampilkan puluhan lukisan para seniman dari Kalimantan, Sulawesi, Bali, hingga Papua. Art Talk menjadi salah satu visi Celebes ArtLink dengan menyelipkan diskusi dalam merespons ruang hotel bukan hanya sebagai ruang untuk…

    Read more

  • City Soaked in Drinking Stall

    Foreword for Anwar Jimpe Rachman (ed.), City Soaked in Drinking Stall, Makassar: Tanahindie Press, 2018. LONTANG is the local word for traditional drinking stall which many can be found in Makassarese settlement area, especially at the southern of Sulawesi Island. It has the same appereance of any common stalls, benches facing each other with a…

    Read more

  • Kampung Garam di Makassar Biennale

    “Romantis dan puitis,” kata Ahmad Anzul, menyimpulkan kesan yang didapat begitu mendekati karyanya yang dipamerkan pada Makassar Biennale 2017. Melihat ikan kering yang tergantung pada karyanya, ingatan saya lalu jatuh pada peristiwa gempa di Nabire, Papua, pada 26 November tahun 2004. Gempa berkekuatan 7,2 Skala Richter (menurut lembaga observasi gempa di Hong Kong dan Australia;…

    Read more

  • Corak Reklamasi di Makassar Biennale

    Pada tahun 2011, Faisal Syarif sedang membuat karya, ketika menjelang fajar tiba, ia telah selesai membuatnya. Tetapi ia merasa bahwa ada yang kurang dari karyanya. Tiba-tiba matahari terbit, cahayanya menerpa karyanya dan persis seperti apa yang ada di dalam pikirannya. Cahaya dari matahari pagi yang terbit menjadi penyempurna: alam memberikan sentuhan pada karyanya. Sebuah kompleksitas…

    Read more

  • Masompe ke Makassar Biennalle

    “Kebanyakan dari pasompe’ (perantau) mengalami nasib yang kurang beruntung, karena hak-hak mereka dirampas,” kata Muhammad Suyudi, perupa Makassar. Ia menceritakan, misalnya si A pergi merantau, kemudian punya warisan dari orang tuanya dalam bentuk sawah. Sawah ini dikelola oleh anaknya yang lain. Ketika bapak si A ini meninggal, ia tidak mendapat hak apapun dari sawah itu. Ini dialami…

    Read more