Tugu Sampan di Tepian Sumpang

Tanah merupakan unsur penting dalam kehidupan manusia. Di atas tanah, aktivitas biologis maupun sosiologis manusia dibentang berabad-abad. Sebagai unsur vital, tanah kerap kali diperebutkan manusia dengan alasan masing-masing. Pertentangan ini melahirkan diskriminasi dan tak jarang memakan korban. Menurut Kepala Bagian Humas Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Harison Mocodompis, sepanjang tahun 2018 tercatat ada 2.546 sengketa tanah,[1] dan dari data yang dihimpun Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), ada 13 korban tewas dan ratusan orang lainnya jadi korban kriminalisasi serta penganiayaan—angka itu merupakan hasil pemantauan KPA sepanjang 2017 terkait kasus sengketa lahan di berbagai daerah di Indonesia.[2]

Di satu perkampungan di Kota Parepare, Sumpang Minangae, Bacukiki Barat, terjadi sengketa lahan yang akhirnya dimenangkan oleh pemerintah setempat. Memang ada perlawanan warga, tetapi tidak terorganisir dengan baik karena kurang bersatu. Ini diakui warga Sumpang Minange, Herman, salah seorang aktor perlawanan warga tersebut, “Seperti tai kambing: keluar bersatu, sampai di luar, terhambur.”

Lantaran tidak terorganisir, sengketa lahan di Sumpang Minangae dilihat sebagai peluang oleh seorang oknum. Karena ingin mempertahankan tanahnya, warga rela mengumpulkan dana dengan perjanjian akan diuruskan sertifikat. Tetapi hasilnya nihil, hingga pelang bertuliskan “Tanah ini milik pemerintah” tertancap di depan pos informasi yang terletak di Sumpang Minangae. Selain oknum, beberapa caleg juga memanfaatkan konflik ini untuk meraup suara dengan menjanjikan hal yang sama. Tetapi, tetap saja hasilnya sama.

Tanah yang ditempati oleh Herman memang tidak bersertifikat. Tetapi ia beralasan, tanah yang mereka garap adalah tanah negara, bukan tanah pemerintah. Ia mendikotomikan negara dan pemerintah dengan cara administratif—merujuk pusat dan daerah. Edi Hardlum, praktisi hukum di Jakarta mencoba membedah perbedaan tanah negara dan tanah pemerintah:Tanah Pemerintah adalah tanah negara yang diberikan kepada instansi pemerintah dengan hak pengelolaan dan hak pakai. Instansi pemerintah seperti kementerian, direktorat dan pemerintah daerah menguasai tanah dengan hak pengelolaan dan hak pakai dengan memiliki atas hak pengelolaan atau hak pakai. Kedua, sedangkan Tanah Negara diartikan sebagai tanah yang tidak dilekati dengan sesuatu hak atas tanah.”[3]

Kawasan yang ditempati warga punya sebutan  Bola Tallu Pulue yang berarti “tiga puluh rumah”. Diberi nama Bola Tallu Pulue karena kesepakatan awal antara pihak pemilik tanah dan pihak penggarap bahwa tapal batas mereka melingkupi tiga puluh rumah warga. Bola Tallu Pulue terletak tepat di kiri Jembatan Sumpang Minangae yang melintang di atas Sungai Salo Karajae dari arah jalan poros Makassar – Palopo. Menyusuri lorong pertama setelah jembatan itu, Bola Tallu Pulue terhitung dari tiga lorong terakhir yang melintang ke arah utara.

Selain sengketa lahan antara warga melawan pemerintah, konflik juga terjadi antara warga melawan warga pada lahan untuk ditanami menara (tower) salah satu provider di Indonesia. Persoalan lokasi tanam jadi rebutan warga Kampung Sumpang Minangae. Awalnya, pihak pengelola provider datang ke warga dan menunjuk satu titik tempat tower akan ditanam, tapi protes datang dari salah seorang warga. Akhirnya, tower itu ditanam di rumah warga yang memprotes itu. Persoalan ini tidak akan terjadi jika warga punya kesadaran hidup bersama. Misalnya, karena sadar tanah yang mereka tinggali tidak bersertifikat, hanya digarap saja oleh mereka, baiknya pengelolaannya dibagi-bebankan pada semua orang. Begitupun menyangkut biaya sewanya. Mungkin bisa dipakai untuk kebutuhan bersama untuk memajukan kampungnya.

Konflik warga di atas ditangkap oleh Hysteria ketika melakukan residensi di daerah Sumpang Minangae, sebagai rangkaian dari Makassar Biennale yang berlangsung di Parepare. Bagus Oktav berkolaborasi dengan Satrio Sudibyo, seniman asal Semarang dengan tag “STO 24”, melakukan residensi sejak 21 September 2019. Mereka berdua, setelah melakukan observasi dan pemetaan masalah, memutuskan membuat tugu sampan dan mural di wilayah tersebut. Selain lokasinya yang strategis—sebuah kampung yang dominan berpenghuni nelayan, dari kabar yang ia dengar dari beberapa orang, Sumpang Minangae adalah satu-satunya kampung yang punya makanan olahan ikan tuing-tuing (ikan terbang atau Hirundichthys oxycephalus), yaitu ikan asap tuing-tuing.

(Kiri) Pak Herman – (Kanan) Bagus Oktav (Foto: tim dokumentasi MB 2019)

Pak Herman bersama Bagus, juga membicarakan pelaksanaan “Festival Tuing-Tuing”. Bagus menjelaskan aktivasi ruang pada Herman. Ia mengatakan, ketika ruang-ruang warga sudah aktif, warganya akan ikut aktif, juga lingkungan di Sumpang Minangae terkondisikan dengan baik. Untuk itu, perlu dibangun ruang dialog yang difasilifasi oleh Hysteria lewat festival warga. Herman menyambut baik rencana itu. Bahkan ia bersedia bertanggung jawab mencari tuing-tuing untuk diasapi dan disantap bersama. Bagus juga jadi mediator agar pos informasi di depan wc dan kamar mandi umum yang dikelola Dani, salah satu warga Sumpang Minange, bisa dimural oleh Satrio Sudibyo.

Satrio Sudibyo punya nametag “STO 24” dari aktivitas street art-nya. Ia memulai aktivitas seninya pada tahun 2011. Ketika masih duduk di bangku sekolah menengah atas, ia terpicu seorang kawannya yang membawa zine berisi aktivitas street art ke sekolah. Sejak itu, Dibyo, sapaan akrabnya, mulai tertarik dan memutuskan menggambar di ruang publik. Grafiti pertamanya berupa tag dirinya “STO 24”, yang merupakan kecenderungan seniman street art pemula memulai aktivitas seninya.

STO punya riwayat panjang hingga bisa lekat dengan Dibyo. Dari candaan semasa SMA, ketika teman-temannya saling sapa dengan panggilan nama orang tua, ada salah satu nama orang tua temannya yang pendek. Hingga mereka menyepakati memberi sematan yang lebih pendek untuk nama orang tua mereka juga. Dibyo lalu diberikan nama STO. Pada mulanya ia tak suka. Lama kelamaan, nama itu telanjur mendarah daging di dirinya, dan jadi terbiasa dengan panggilan itu.

Dibyo mengaku mendapat sensasi tersendiri ketika menggambar di ruang publik. Sensasi yang menurutnya sulit dijelaskan oleh kata-kata. Ia pernah ditangkap satpam ketika menggambar di pagar seng salah satu gedung di Kota Semarang. Ia tak tahu kalau gedung itu memiliki CCTV yang jadi bukti atas aksinya. Ia dipenjara selama sehari, lalu dibebaskan dengan alibi dirinya adalah perantau dan tak punya apa-apa.

Selain sensasi, Dibyo juga memanfaatkan street art sebagai media komunikasi. Di satu titik, ia merasa jenuh dan ingin melakukan sesuatu yang baru. Dibyo kemudian merangsek masuk ke salah satu kampung untuk menggambar. Kebetulan, di kampung itu, ia bertemu dengan Hysteria—kolektif  yang aktif sejak 11 September 2004 di Semarang dan berkonsentrasi pada isu kota, anak muda, dan komunitas yang menekankan produksi artistik berdasar hasil riset pengetahuan keseharian di masyarakat.

Pertemuan Dibyo dan Hysteria berlanjut pada Peka Kota, salah satu program Hysteria untuk mendukung perkembangan kultur komunitas dengan melakukan pemetaan. Saat itu, Peka Kota sudah masuk pada babak keenam dengan tema “Grafiti Art Jamming”. Dibyo terlibat sebagai seniman dengan merespons isu ikan dan air dan mempresentasikannya pada dinding sepanjang tujuh puluh dua kali dua meter di Kampung Kenari, Purwodinatan, Semarang.

Hubungan Dibyo dan Hysteria mulai terjalin pada saat itu. Ketika Hysteria melakukan kegiatan, Dibyo acapkali terlibat sebagai seniman. Begitu juga ketika Dibyo ingin melangsungkan kegiatan, ia meminjam tempat Hysteria. Tak sebatas itu, ketika Makassar Biennale mengundang Kolektif  Hysteria untuk residensi dan berpameran di Parepare, satu dari empat kota yang ditetapkan Makassar Biennale 2019 sebagai lokasi pameran selain Makassar, Bulukumba, dan Polewali Mandar, Dibyo juga diajak oleh Bagus Oktav, Manajer Ruang Hysteria.

Bagus Oktav hidup menggelandang di jalan sejak tahun 1996, lalu balik ke Semarang tahun 2011. Ia mengenal Hysteria lewat adiknya. Karena penasaran pada aktivitas adiknya—awalnya Bagus kira adiknya kumpul-kumpul dan melakukan sesuatu yang tidak bermanfaat. Bagus Oktav lalu pergi menyambangi base camp Hysteria dan mengamati pola-pola yang terjadi di sana.

Karena keseringan main di sana, pada pertengahan 2012, ketika adiknya keluar dari Hysteria—saat itu hanya ada Adin sebagai Direktur Hysteria dan Purna Cipta Nugraha sebagai manajer program, Bagus diminta oleh Adin untuk membantu Hysteria mengorganisir kampung—pilot projectpertama di Kampung Bustaman, Purwodinatan, Semarang Tengah. Ketika masuk ke Kampung Bustaman, Bagus tidak tahu mau melakukan apa di kampung itu, sebab dari pengalaman hidupnya dari tahun 1996 hingga 2011, ia hanya tahu cara hidup di jalan, mengamen, dan sebagainya.

Suatu ketika, seorang remaja mengajaknya minum minuman keras. Di tengah menikmati minuman itu, menyusul bergerombol pemuda. Dari minum-minum itu, akhirnya ia jadi akrab dengan pemuda setempat. Bagus pulang ke base camp dan menceritakan apa yang ia dan pemuda kampung bicarakan selama minum minuman keras. Adin mencatat apa saja yang dikatakan oleh Bagus. Lalu Bagus sadar bahwa apa yang ia katakan itu adalah data meskipun lisan. Setelah itu, selama dua bulan Bagus hanya minum bersama pemuda kampung. Tapi karena ia kuat minum, pemuda kampung sampai minta ampun. Bagus kemudian menjelma menjadi figur yang disegani soal menenggak minuman keras.

Di bulan ketiga, ia mengajak seorang teman untuk masuk ke kampung itu. Di titik ini Hysteria mulai mengenalkan program-program mereka. Sejak itu, Bagus mulai belajar pelan-pelan soal pemberdayaan masyarakat. Pengalaman Bagus bersama Hysteria membuatnya cepat beradaptasi ketika residensi di Sumpang Minangae yang direpresentasikan dalam bentuk “Festival Ikan Tuing-Tuing”.

Ikan tuing-tuing ingin diangkat oleh Bagus sebagai ikan khas Sumpang, meskipun ia tahu bahwa ikan tuing-tuing lebih terkenal di Polewali Mandar. Tetapi, ikan tuing-tuing bisa jadi pengangkat nilai ekonomi warga jika diperlakukan secara khusus. Caranya beragam, misalnya untuk kasus ikan tuing-tuing di Sumpang Minangae, Bagus mengangkat nilai ekonominya dengan mengadakan Festival Ikan Tuing-Tuing, yang menjadi karya Hysteria di Makassar Biennale 2019.

Syamsu Alam Ali dan Andi Parenrengi dari Lembaga Penelitian Universitas Hasanuddin pada tahun 2006 menyatakan, ikan terbang (Hirundichthys oxycephalus) merupakan sumber daya laut ekonomis penting di Selat Makassar (sekitar perairan Parepare dan Polewali-Mamasa) dan Laut Flores (sekitar perairan Takalar dan Bulukumba)… Kelompok ikan terbang Takalar dan Bulukumba di Laut Flores serta kelompok ikan terbang Parepare dan Polewali Mamasa di Selat Makassar masing-masing merupakan subpopulasi yang berbeda.”[4]

Bagus dan Dibyo juga mengaktivasi ruang dengan cara melakukan mural di depan pos informasi. Keputusan itu diambil setelah melihat pos informasi merupakan sentrum untuk informasi-informasi tertentu, pemanfaatan ruang publik, dan yang terakhir, karena pos informasi itu kurang dimaksimalkan oleh warga Sumpang Minangae. Aktivasi ruang dimaknai sebagai “aktivitas memacu masyarakat untuk terlibat dalam penghidupan ruang bersama. Dengan kompleksitas masalah yang dihadapi masyarakat, untuk meyakinkan mereka untuk bertindak tentu saja bukan hal mudah. Konflik kepentingan dan pihak mana yang diuntungkan terkadang membuat enggan elemen lain untuk terlibat. Untuk itu komunikasi yang intensif antarelemen masyarakat adalah prasyarat terciptanya kondisi ini. Dengan demikian aktivasi masyarakat itu tidak terberi, namun bisa didorong melalui rekayasa sosial dengan pendekatan-pendekatan tertentu. Seniman ditantang untuk memberikan perspektifnya melalui karya. Tak hanya berasyik masuk mengolah estetika karya, seniman harus bisa mengaktifkan ruang-ruang dialog tak hanya berkait paut dengan karyanya tetapi juga menangkap fenomena dalam masyarakat.”[5]

Hal ini dipraktikkan oleh Dibyo. Dalam memural pos informasi di Sumpang Minangae, Dibyo terlebih dulu mencari tahu apa yang ada di dalam kampung itu. Ia menemukan satu kutipan yang menarik baginya, serta dalam pengakuannya, kutipan itu akan menjadi motif baginya ketika bepergian dan mengunjungi satu tempat: “Lao Sappa Deceng, Lisu Mappadeceng” yang berarti “pergi mencari kebaikan, kembali membawa kebajikan”. Kutipan itu jadi bagian muralnya, dengan meletakkan ikan dan buaya yang oleh masyarakat Sulawesi Selatan dianggap sebagai saudara.

Dibyo “STO24” memural dinding pos informasi di Sumpang Minangae (Foto: tim dokumentasi MB 2019)

Festival Ikan Tuing-Tuing juga dirangkai dengan pembuatan tugu sampan oleh Hysteria. Sampan dipilih oleh Bagus karena ketika mendengar kata nelayan, benda pertama yang bisa diingat adalah sampan. Sampan juga jadi simbol dari cara Bagus mengafiliasikan Sumpang Minangae sebagai kampung nelayan.

Pembuatan tugu sampan dan mural oleh Bagus dan Satrio adalah cara menerjemahkan bahasa teks dari hasil obsevasi yang dilakukan dengan cara yang lebih mudah dipahami oleh warga. Sampan yang ditaruh dalam sebuah pot terbengkalai di pinggir Pantai Sumpang Minangae—awalnya pot-pot itu ditanami beberapa tanaman, namun mati karena tidak dirawat oleh warga dan tidak cocok dengan iklim dan lokasi tempat tanaman itu diletakkan. Pot itu jadi bagian bawah tugu yang dicor semen. Dengan menaruh sampan sebagai simbol, Bagus berharap warga sekitar akan terpantik untuk menjaga sampannya, bermimpi memiliki sampan, atau minimal sampan itu terekam sebagai memori kolektif yang mengikat mereka sebagai masyarakat nelayan.

Praktik yang dilakukan oleh Bagus dan Dibyo dengan menggunakan seni sebagai alat mampu mempresentasikan masyarakat nelayan untuk mengenali kampungnya sendiri. Bagus meyakini, dengan tingkat minat baca yang rendah, teks kurang mampu menjelaskan temuan-temuan mereka dan menjembatani makna-makna yang terkandung di dalamnya. Lewat seni, Bagus dan Dibyo mencoba memantik mereka untuk mengingat kembali, misalnya, ikan, buaya, dan sampan sebagai bagian dari kehidupan mereka.

Bagus sadar, euforia warga terhadap sesuatu yang baru bagi mereka sangatlah besar. Oleh sebab itu, Bagus berusaha mempercantik tampilan sampan yang mereka jadikan tugu dengan mural yang juga dibuat oleh Dibyo. Selain ingin menggugah euforia warga, Bagus sempat mendengar bahwa Sumpang Minangae akan dijadikan salah satu lokasi wisata. Dengan alasan itu, Bagus lalu memikirkan cara untuk menyambut keinginan itu dengan menjadikan tugu sampan sebagai salah satu spot selfie/swafoto yang bisa jadi padanan cantik dengan latar matahari tenggelam (sunset) yang langsung jatuh ke air jika dilihat di titik tugu itu diletakkan.

Proses residensi dan pembuatan karya Hysteria banyak dilakukan dengan cara dialog dan negosiasi kepada warga. Dialog-dialog tentang konflik soal lahan tanah yang terjadi di wilayah Sumpang antara beberapa orang, misalnya, coba dilebur dengan cara melakukan “Festival Tuing-Tuing”. Festival sebagai ruang rekonsiliasi, mencoba mempertemukan mereka dalam atmosfir bahagia untuk sejanak melupakan konflik mereka, dan menjadi harapan besar dan kabar baik jika konflik itu mereda.

Ini sejalan dengan apa yang diharapkan Makassar Biennale terjadi selama MB 2019. Dalam makalah simposium berjudul “Makassar Biennale dan Proyeksi-proyeksinya”, Direktur Makassar Biennale, Anwar Jimpe Rachman (2019:5), menyatakan: Lapisan-lapisan inilah yang menjadi pertimbangan-pertimbangan MB tatkala membangun logika biennale-nya sendiri, dengan mengutamakan kerja-kerjanya dalam bingkai: seni rupa bisa menjadi jalan keluar. Ia berpotensi membangun pintu-pintu di banyak tempat melalui seni rupa sebagai metode yang berpeluang menyambung semua lapisan warga, seniman, dan akademisi yang terpisah selama ini. Lantaran itulah MB 2019 berlangsung di empat kota/kabupaten di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Semuanya demi membuka kesempatan ‘menikmati’, ‘mengalami’, dan merayakan dunia seni rupa bagi warga di banyak tempat, dengan meminta semua seniman yang diundang: harus “datang dengan tangan kosong, pulang tangan kosong”. Demikian pula bagi para akademisi untuk urunan dalam menjelaskan temuan-temuan mereka kepada orang kebanyakan.”

Ada kemajuan kecil dari cara Hysteria meredam konflik-konflik yang terjadi di wilayah Sumpang Minangae. Ketika sedang memasang tugu, salah satu warga yang berkonflik dengan Pak Herman datang dan menawarkan sampannya untuk dipakai dan dijadikan tugu. Ini menarik, sebab dua kubu yang sedang berkonflik sama-sama ingin terlibat dalam “Festival Tuing-Tuing” yang berlangsung 28 September 2019 silam.Walaupun ternyata ikan tuing-tuing sedang kosong karena bukan musimnya, festival itu kemudian dijalankan dengan sesi berbagi (sharing session) dan foto bersama di depan tugu sampan yang dinamai “Tugu Sampan Tepian Cinta”.

Tugu sampan yang dibuat Hysteria kokoh berdiri sebagai simbol dari riwayat negosiasi dan jalan keluar dari konflik yang berkepanjangan. Selain tugu, Hysteria juga meninggalkan “cara kerja” yang bisa diadopsi oleh beberapa anak muda yang terlibat dengannya. Dalam observasi, misalnya, Bagus mengajari Fauzi, Dika, dan Eko melakukan mapping di wilayah Sumpang Minangae untuk memetakan potensi yang ada di daerah itu. Bahkan dari proses observasi dan mapping itu, konflik bisa terbaca seperti apa yang dilihat oleh Hysteria. Tentu saja, tugu sampan juga jadi salah satu ikon baru di Sumpang Minangae dengan latar senja nan cantik yang langsung jatuh ke laut.[]

Tulisan ini terbit pertama kali di makassarbiennale.org

Fauzan Al Ayyuby, belajar dan bekerja di Tanahindie.

[1]Rosiana Haryanti, https://properti.kompas.com/read/2019/02/27/180422821/catat-ada-2546-sengketa-tanah-sepanjang-2018, diakses pada 6 Oktober 2019, pukul 22.28 Wita.

[2]Konsorsium Pembaruan Agraria, http://kpa.or.id/media/baca/peristiwa/404/KPA:_Belasan_Orang_Tewas_dan_Ratusan_Orang_Dikriminalisasi_Akibat_Sengketa_Lahan/, diakses pada 7 Oktober 2019, pukul 18.53 Wita.

[3]Edi Hardlum, http://www.indonesiakoran.com/news/opini/read/80615/membedakan.tanah.negara.dan.tanah.pemerintah, diakses pada 9 Oktober, pukul 00.43 Wita.

[4]Heru Margianto, https://nasional.kompas.com/read/2008/05/18/08130770/function.simplexml-load-file, diakses pada 9 Oktober 2019, pukul 00.04 Wita.

[5]Adin, https://grobakhysteria.or.id/4595/, diakses pada 9 Oktober 2019, pukul 02.06.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan