Kembali Berburu dan Meramu, Sedikit Cerita tentang Buku “Ramuan di Segitiga Wallacea”

Banyak hal datang tepat waktu, buku ini salah satunya. Kehadiran buku ini kontekstual karena dua hal yaitu pertama, karena pandemi dan kedua, mengingatkan kita bahwa riset serupa jangan sampai pudar, apalagi hilang.

Di saat awal pandemi menyerang lebih dari setahun lalu, orang-orang panik. Dunia sains kedokteran modern kelimpungan. Pandemi yang dulunya hanya dibaca dalam buku, didengar melalui cerita, kini dihadapi.

Orang-orang bertumbangan, silih berganti informasi kematian datang, bahkan kadang lebih cepat dari azan subuh. Harapan untuk bisa hidup lebih lama tiba-tiba memudar, debar jantung tak beraturan,manusia gelisah.

Semenjak pandemi tahun lalu, aktivitas manusia dibatasi. Oleh karenanya, manusia punya banyak waktu untuk merenung, merespon kegelisahannya, berusaha menenangkan dirinya sendiri. Sementara kondisi alam akibat aktivitas manusia yang berkurang, berangsur membaik.

Mengenali diri lebih baik, peduli terhadap imun, memberikan hak atas tubuh, memulai pola hidup sehat dan sebagainya merupakan hasil dari perenungan tersebut. Itu juga sebagai tanda masih adanya celah harapan dibalik awan kelabu pandemi dan ketidakberdayaan sains modern.

Situasi pandemi diperparah dengan kondisi manusia modern yang semakin lemah karena ulahnya sendiri dan penguasa yang meremehkan wabah. Manusia modern punya seribu satu cara merusak diri mereka sendiri, baik dari luar, maupun dari dalam. Memakai apa yang tidak diketahuinya dan mengkonsumsi apa yang tidak dimengertinya. Mengedepankan kenyamanan dibandingkan kesehatan.

Misal, sinar surya saja manusia blok dengan berbagai losion, seperti anti terhadap sinar matahari, termakan propaganda raksasa industri kosmetik dunia yang dicarikan pembenaran melalui sains modern. Padahal, sinar matahari diperlukan semua mahluk bernyawa. Ditambah lagi di Indonesia, propaganda industri kecantikan ini memperparah pikiran masyarakat dengan narasi “cantik itu putih”.

Jika benar sinar matahari menyebabkan kanker kulit, maka berapa banyak petani, pekebun, nelayan, petambak, kuli, dan serentetan pekerja lapangan lainnya—yang terpapar sinar matahari berlebihan—terkena kanker kulit? Berapa banyak manusia sebelum kapitalis industri kimia bermunculan terkena kanker kulit diakibatkan paparan sinar matahari? Pandemi ini menaikkan literasi kesehatan kita, salah satunya adalah betapa penting paparan sinar matahari untuk merangsang produksi vitamin D dalam tubuh secara alamiah.

JIKA narasi arus utama benar bahwa awal virus pada pandemi ini muncul dari manusia yang memakan hewan liar yaitu kelelawar, maka sesungguhnya manusia hanya mengulang kebodohan demi kebodohan.

Kate Kelly, dalam bukunya The History of Medicine: Early Civilizations, Prehistoric Times to 500 C.E. (2009), menjelaskan bahwa para paleopatologist—ilmuwan yang mempelajari masyarakat terdahulu dan penyakitnya—memaparkan terkait penyakit awal pada peradaban manusia fase berburu dan meramu yakni berasal dari zoonotic illnesses (penyakit yang didapatkan dari memakan hewan liar)—parasit dan bakteria. Penyakit yang menyumbang angka kepunahan suatu populasi tertentu.

Menepuk jidat kita masing-masing adalah ekspresi yang diperbolehkan setelah mengetahui kabar dari buku Kate tersebut. Akibat sekelompok orang yang tidak bisa mengendalikan nafsu makan khususnya memakan kelelawar, saat ini milyaran manusia kena imbas. Sekali lagi, jika narasi arus utama tentang asal muasal virus dalam pandemi ini benar.

Pandemi seolah menabok kepala manusia yang bebal untuk kembali ke diri, kembali ke dalam, kembali ke hal sederhana, dan kembali ke alam mempraktikkan keseimbangan. Ini juga sudah diberitau oleh Hippokrates berpuluh abad yang lalu:

Natural forces within us are the true healers of disease.” – Hippocrates

Bukankah itu imun dalam tubuh  yang sedang dibahas oleh Hipokrates?

Sekali penyakit muncul, ia jarang hilang. Sejarah pandemi selalu berakhir dengan kemampuan imun manusia yang semakin familier dan baik merespon virus.

Konteks pandemi dengan kembali memahami hal-hal sederhana di sekitar kita adalah pesan kuat yang coba dipancarkan buku “Ramuan di Segitiga Wallacea” ini. Mengkonsumsi ramuan herbal untuk menyokong imun, misalnya, bukan lagi suatu jalan alternatif seperti yang dipikirkan sebelumnya, tapi suatu hal primer bak jalan poros utama lebar dan panjang, bebas hambatan, serta murah dan mudah. Menginjeksi kesegaran, mengingatkan kembali, dan mengembalikan harapan bahwa manusia bisa tetap bermimpi untuk hidup lebih lama dengan cara yang sederhana, namun kerap dilupa.

Sejak dahulu kala eksperimentasi dengan tumbuhan, maupun tanaman sebagai bahan penyembuhan penyakit, memainkan peranan penting dari praktik pengobatan di manapun. Hal ini masih menjadi basis dari perkembangan farmakologi sampai saat ini khususnya fitofarmaka (Kate Kelly, 2009).Eksperimentasi tersebut bagian integral praktik etnomedisin. Pengobatan merupakan bagian dari budaya.

Namun, mengapa pengetahuan ini tersingkirkan khususnya di Nusantara?

Gani Ahmad Jaelani, dalam opininya di Tirto, menyebutkan terdapat empat nama Barat yang tertarik pada praktik pengobatan lokal di Nusantara pada abad ke 19 – awal 20. Empat nama tersebut yaitu Blume, Horsfield, Waitz, dan Kloppenburg. Dua alasan mengapa sejak awal abad 20 ketertarikan Barat terhadap tumbuhan berkhasiat di Hindia Belanda mulai berkurang yaitu pertama, munculnya paradigma bakteriologi yang dimungkinkan oleh adanya laboratorium yang mengurangi penelitian di alam terbuka, dan kedua, kerangka kolonialisme yang juga wujud dominasi sains Barat yang menganggap pengetahuan lain di luar ilmu kedokteran modern dianggap terbelakang.

Terdapat karya menarik dari Kloppenburg. Dua volume karya tulis Kloppenburg yang terbit pada tahun 1911 yaitu Tanaman Berkhasiat Indonesia, serta Petunjuk dan Saran Pengobatan Tradisional Tanaman Berkhasiat Indonesia. Karya tersebut memuat 497 tanaman/bagian tanaman berkhasiat dan 1467 resep herbal yang dituliskan tidak seperti buku ilmiah, namun seperti buku harian dan resep makanan (Osa Kurniawan Ilham).

Ahli herbal seperti (Alm) Prof. Hembing, dari tahun 1970an sampai akhir hayatnya, konsisten mempromosikan kesehatan dari alam ini. Anjuran pekarangan rumah menjadi ruang apotek hidup, bergema. Hal yang familier bagi generasi yang hidup tahun 1980an-1990an di Nusantara.

Pada masa kepresidenan Susilo Bambang Yudhoyono, didirikanlah PDHMI (Perhimpunan Dokter Herbal Medik Indonesia) naungan IDI (Ikatan Dokter Indonesia) pada 10 Juni 2009. Organisasi ini diketuai oleh dr. Hardhi Pranata, Sp.S, MARS., dokter spesialis syaraf dan dokter kepresidenan SBY.

Di Indonesia, penggunaan herbal belum sepenuhnya masuk dalam sistem kesehatan negara.Berbeda dengan TCM (Traditional Chinese Medicine) diTiongkok yang telah sepenuhnya terintegrasi (Zhang Qi, dkk., 2011). Jejal iklan industri farmasi raksasa plus kliknya dengan praktisi kesehatan semakin membuat manusia di Nusantara satu dimensi, semakin tidak melirik tumbuhan berkhasiat.

Upaya pembentukan berbagai macam perundangan (seperti KepMenKes 381/2007 terkait Kebijakan Obat Tradisional Nasional/Kotranas – Menteri Siti Fadilah Supari) dan pendirian PDHMI, serta rangkaian aktivitas terkait,mengindikasikan negara mencoba hadir untuk mengakomodasi hal ini, terutama melihat potensi andalan jamu. Di ranah tulisan ilmiah,meskipun tidak sebanyak arus utama, jurnal yang membahas fungsi kandungan tumbuhan juga terus bermunculan.

Alasan negara untuk memperhatikan sektor ini cukup kuat karena begitu beragamnya flora serta catatan warisan budaya bangsa. Tercatat informasi tertulis tentang jamu terdapat pada Serat Kawruh (memuat 1.734 ramuan bahan alam, cara penggunaan, dan jampi-jampi) dan Serat Centhini. Di masyarakat Sunda juga terdokumen 113 jenis tumbuhan obat dimanfaatkan oleh masyarakat (Kotranas, 2007).

Hasil tim survei Ekspedisi Biota Medica tahun 1998 di wilayah Provinsi Riau dan Jambi diarsipkan 45 ramuan dengan 195 spesies tumbuhan obat telah digunakan masyarakat suku Melayu tradisional, 58 ramuan dengan 115 spesies digunakan masyarakat suku Talang Mamak, dan 73 jenis ramuan dengan 116 spesies oleh suku Anak Dalam. Pulau Kalimantan menyimpan 4.000 spesies tumbuhan obat (Kotranas, 2007).

Masyarakat Bali mengenal Lengis Arak Nyuh yaitu minyak multi khasiat dari penyulingan berbagai rempah.Di Taman Nasional Gunung Rinjani – NTB masyarakat memanfaatkan 40 jenis tumbuhan obat. Di Sulawesi Tenggara pada tahun 1977 tim peneliti menemukan 449 spesies tumbuhan obat. Di kalangan etnis Bugis-Makassar dikenal pencegahan dan pengobatan penyakit yang tertulis alam naskah Lontara Pabbura. Jenis lain seperti kayu sanrego, daun paliasa, dan satigi juga telah dikenal turun temurun. Terdapat 216 jenis tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat Maluku Selatan. Di Papua, ribuan jenis tumbuhan obat telah digunakan turun temurun baik untuk memelihara kesehatan seperti rumput Keybar untuk meningkatkan kesuburan wanita, Akwai untuk peningkatan seksual pria, dan Watu sebagai penenang (Kotranas, 2007).

Namun, apa yang kurang dari itu semua adalah riset yang diarahkan semata pada tumbuhan dan menghilangkan praktik manusianya. Dengan kata lain, subjek yang melakukan praktik pengobatan tradisional berbasis kearifan lokal tersebut pudar, tidak dilihat lagi oleh banyak peneliti, tidak dianggap penting.

Padahal mereka(sanro/tabib/dukun atau apapun sebutannya) adalah penyedia jasa kesehatan pertama dan terdekat bagi masyarakat yang mengalami banyak kesulitan dan keterbatasan. Namun, citra sanro/tabib/dukun dalam masyarakat umum di negeri ini terkadang telah terbingkai negatif seiring budaya layar yang mencitrakan mereka dalamberbagai film sebagai pihak antagonis penuh magisserta narasi modernitas yang menempatkan posisi mereka terpinggirkan.

Menghadirkan subjek yang mempraktikkan pengobatan tradisional adalah konteks kedua buku “Ramuan di Segitiga Wallacea” ini.Tulisan yang ada di dalamnya tidak hanya bercerita dan mengarsipkan pengetahuan seputar kegunaan tanaman serta ramuan, namun juga suasana serta kisah-kisah manusia termasuk masalah yang mengitarinya.

Kita tidak bisa mengimajinasikan bahwa kondisi masyarakat di Nusantara ini semua sama, misalnya dengan berkendara melaju santai melalui beberapa blok akan menemukan pasar swalayan, apotek, puskesmas, atau rumah sakit. Masih banyak masyarakat yang hidup dengan akses infrastruktur dasar yang sangat terbatas dan jauh secara jarak, belum lagi berbicara kondisi masyarakat di pulau-pulau kecil.

Tidak ada yang salah dengan penelitian tanaman yang kemudian masuk ke arus sains modern laboratorium dan sebagainya, bahkan itu sangat perlu. Tetapi, mengimajinasikan tanaman yang sudah diteliti itu dikembangkan serta diproduksi massal dan secara cepat menjangkau masyarakat pedalaman adalah hal yang mistis, kalaupun terjadi, magis.

Mulai dari berburu mencari dan mengambil tanaman di alam, meneliti kandungannya, menerbitkan hasil penelitian, mencari perusahaan farmasi yang mau memproduksi dengan hitungan bisnis untung yang besar, pemasaran, dan sebagainya adalah rantai alur yang panjang dan lama, terkadang berakhir buntu. Bahkan industri mie instanpun perlu waktu yang tidak instan untuk sampai ke hilir bertemu konsumen dan mempertahankan bisnisnya.

Pada titik inilah subjek yang melakukan pengobatan tradisional itu penting keberadaannya. Kita berterima kasih, riset dalam buku Ramuan di Segitiga Wallacea kembali mengingatkan kita terhadap itu. Para peneliti mengarsipkan hal yang mungkin dianggap sepele bagi orang lain, sekaligus memberi penghargaan melalui tulisan atas mereka yang berdedikasi di masyarakat namun jauh dari lampu sorot. Apalagi mereka tidak mengambil untung dari monetisasi ala orang kaya baru di negeri ini.

BUKU INI, mulai dari sampulnya sudah memancarkan nuansa persahabatan dan kesederhaan. Ini bisa dilihat pada senyuman di sampul itu.

Dengan melihat warnanya, sekelebat saya mengingat komposisi warna latar naskah-naskah kuno di Nusantara. Suatu arsip pengetahuan yang darinya kita bisa mengenali dan mempelajari masa lalu.

Ilustrasi pada sampul pun diambil dari sesuatu yang riil didapatkan oleh salah satu peneliti di dalam buku ini yaitu foto dalam tulisan Nomensen Douw berjudul “Daun Berduri yang Dihamparkan”. Tulisan yang merekam pengobatan tradisional di Nabire melalui penggunaan medium daun gatal/wituye sebutan oleh Suku Mee, satu dari lima suku pegunungan tengah Papua.

Dokumentasi foto terkait tokoh, tanaman, dan suasana yang didapatkan peneliti dalam buku ini semuanya berwarna dengan kualitas cetakan buku yang sangat baik. Hal ini tidak saja berguna bagi para pembaca awam, namun juga dapat berguna bagi para ahli botani dengan mengidentifikasi secara lebih dalam tumbuhan apa yang sedang dituliskan serta dapat mengkoreksi jika nanti ada kekeliruan teks dalam tulisan terkait informasi tumbuhan.

Terdapat 15 penelitian dalam buku ini yang mengambil lokus di Makassar, Bulukumba, Pare-Pare, Toraja, Pangkep, Labuan Bajo, dan Nabire. Tulisan yang mengalir dengan ciri khas masing-masing menampilkan lima elemen dasar yaitu alasan penulis mendekatkan diri pada penelitian itu, tokoh/subjek, medium (tanaman serta ramuan), testimoni pengguna, dan suasana.

Urutan 15 tulisan yaitu:

  1. “Mencari Tina di Toraja” oleh Regina Meicieza Sweetly – pohon tina di Desa Pangden, Lemo, Toraja, dengan tokoh peramu Agustina Pala’langan;
  2. “Naba Rure, Daun Pemanggil Darah” Fauzan Al Ayyuby, medium daun waru, merekam praktik pengobatan tradisional di Nabire;
  3. “Tujuh Dokter di Kolong Rumah” oleh Soraya Ayu Ananda & Andi Musran, dengan tokoh HJ. Munati di Pare-pare;
  4. “Pelipur Sesak di Plato Bulukumba” oleh Muhammad Harisah, yang tidak hanya menceritakan tentang pengobatan, namun akses jalan yang rusak parah ketika memasuki Desa Kahayya di Kab. Bulukumba;
  5. Kerumitan masalah dari tokohyang diceritakan, “Sepasang Tangan untuk “Kehidupan Kedua” oleh Syahrani Said di Pare-pare;
  6. “Daun Berduri yg Dihamparkan”oleh Nomensen Douw di Nabire;
  7. “Sesuai titik” oleh Azizah Diah Aprilya yang menceritakan seputar akupuntur dengan tokoh utama Deanegita (akupunturis di Makassar);
  8. “Rempapake untuk Penari Caci dan Luka dalam Perempuan” oleh Aden Firman di Labuan Bajo;
  9. “Tiupan untuk Tembuni yang tersisa” oleh F. Daus AR di Kab. Pangkep dengan tokoh utama daeng Caddi;
  10. “Daun Bertumpuk Penyembuh Batuk” oleh Manfred Kudai di Nabire;
  11. “Tepu, Penolong Pertama Ibu Hamil di Kahayya” oleh Anjar S. Masiga di Bulukumba;
  12. “Berkah Tanaman Liar di Tangan Hatija” oleh Anjar S. Masiga di Bulukumba dengan tokoh utama Ummi Tijang;
  13. “Pemegang Kitab Herbal Keluarga” oleh Rafsanjani di Makassar;
  14. “Ramuan-ramuan dari Utara” oleh Ipa Chadijah di Makassar;
  15. “Bedak Belukar, Pengobatan dari Dapur” oleh Wilda Yanti Salam di Makassar.

Tulisan yang cair tersebut bisa terjadi karena para penulis sudah terlepas dari jeratan tulisan ilmiah yang kaku. Salah satunya adalah tidak berfokus pada konsep/teori dan penelitian terdahulu yang kemungkinan memecah konsentrasi pada apa yang sedang dilihat di depan mata dan bisa saja terjebak inter-tekstualitas dan menjadi “tawanan teks”.

Tawanan teks studi terdahulu biasa terjadi pada penelitian, misalnya para penstudi budaya Jawa yang kiranya tidak afdal ketika tidak merujuk teks dari Geertz. Seperti meminta izin, membungkuk dihadapan teks terdahulu, padahal meneliti budaya sendiri yang kemungkinan penelitinya tumbuh lebih lama dari Geertz melakukan penelitian.Alih-alih untuk mengisi kekosongan pengetahuan, bisa-bisa konsentrasi hanya diseputar menghadirkan teks-teks yang lampau sementara konsentrasi pada penelitian di depan mata dipenuhi kekosongan. Suatu fatamorgana penelitian.

Tawanan teks juga bisa mengerdilkan penelitian, dengan beberapa corak congkak dapat dideteksi ketika seseorang mengeluarkan narasi, “penelitian serupa sudah pernah dilakukan”. Seolah semua tabir sudah diungkap, tidak ada hal lain lagi yang tersisa untuk diteliti. Padahal masih banyak cerita dan pengetahuan yang belum dituliskan seperti banyaknya lagu yang belum dibuat.

Aktivitas esensial penelitian kualitatif dalam buku ini dilakukan dengan baik. Aktivitas esensialnya yaitu fokus berkonsentrasi pada sesuatu, datang, mencari, berburu informasi, mendengar, mengikuti kehidupan tokoh, merekam suasana, faham apa yang sedang terjadi, lalu meramu menuliskannya dengan tenang. Tanpa perlu sibuk dengan hal eksternal misalnya penelitian terdahulu atau analisis berdasarkan suatu teori/konsep tertentu yang kadang hanya berguna sebagai pengetesan teori/konsepsi empunya teori/konsep.

Tidak ada keharusan tulisan dalam buku ini menjadi tulisan etnografi semenjak para penulis juga pastinya terbatasi dengan berbagai hal teknis, misalnya jumlah kata, waktu penelitian dan sebagainya. Emik – etik juga berkelindan menyebar dalam tulisan-tulisan di buku ini. Informasi beragam juga dimunculkan seperti sejarah ruang, budaya, dan lainnya. Sederhana dalam metode, kaya dalam tulisan.

Saya lebih menyukai menyebut tulisan dalam buku ini sebagai pengarsipan pengetahuan bermodel catatan harian. Penulisnya memulai dan menambahkan informasi dengan leluasa dari arah mana saja, ekspresif, dan banyak ditemukan penulisan prosa ala novel.

Berikut nukilan dari dari tulisan Syahrani Said yang menceritakan seorang tokoh praktisi pengobatan tradisional yang tidak lain adalah ibunya sendiri. Syahrani menuliskan kegetiran ibunya dengan puitis:

“…Kejadian itu berdampak buruk terhadap Mama, yang akhirnya hilang arah langkah menuju citta-citanya. Kekecewaan bermuara pada tindakan membakar ijazah S1, sebagai simbol bahwa pendidikan yang Mama tempuh bertahun-tahun tak membuahkan hasil sesuai harapan, sekaligus menegaskan untuk tidak lagi mencari pekerjaan menggunakan ijazahnya… (hal.72).”

Begitu juga beban sedih yang dituliskan Aziziah terkait tokoh bernama Dean. Dean pernah memiliki pasien bernama Sasa sewaktu ia praktik di Bandung. Pada waktu itu Sasa berumur 7 tahun, Sasa bermasalah dengan ginjal. Dean tidak bisa merawat Sasa lagi karena ibu Dean memintanya untuk pulang ke Makassar, waktu itu ibu Dean sedang sakit:

“…beberapa bulan setelah itu, saat sedang duduk di ruang tamu, Dean melihat ada anak kecil di depannya. Dean termangu cukup lama…tiba-tiba si anak kecil menghilang dan dia langsung teringat anak itu Sasa. Ia lalu menanyakan kabar Sasa melaui temannya, ternyata anak itu meninggal sebulan setelah Dean pulang ke Makassar. Sekitar setahun ia membawa peraaan sedihnya itu…(hal.104).”

Ekspresi jujur Nomensen:

“Perjalanannya lumayan membosankan dan membikin bokong kram. Jaraknya lima puluhan kilometer (hal.88).”

Namun, jika ditanya, apa satu hal yang cukup menganggu saya ketika membaca buku ini? Hal itu ialah ketika para penulis mulai untuk mencari sumber acuan, beberapa penulis menggunakan situs Wikipedia yang terbuka untuk disunting siapa saja. Atau singkatnya, tidak ada nama yang pasti yang dapat bertanggung jawab atas teks-teks dalam situs tersebut. Untungnya, sumber acuan tidak begitu mendominasi bagian dalam tulisan.

Setiap tulisan yang selesai adalah pencapaian. Jamak kita mafhum bersama bahwa dibalik tulisan yang tenang dan rapi, terdapat ikhtiar yang tidak mudah.Pengantar dari penyunting juga bernas di awal, bak makanan, sajian pembuka langsung lezat.

Selamat buat para penulis dan penyunting atas pencapaian individu serta kolektif yang tercapai. Selamat buat semuanya, hasil kembali berburu dan meramunya apik tenan.

The only way to build hope is through the Earth” – Vandana Shiva

Mari membangun harapan.[]

Muhaimin Zulhair A, peneliti di Tanahindie.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan