Berkerumun Mencipta Harapan

Hampir jam lima sore ketika Roberta Muyapa yang duduk di meja menghadap jalan dari lantai dua Sandiwara Kopi, berusaha menenangkan saya yang barangkali terlihat gelisah, “Kawan, tidak apa-apa kita mulai agak telat eh. Biasa toh, jam karet.”

Saya mengiyakan sambil memalingkan wajah dari arah parkiran motor ke arahnya. Sebenarnya saya sudah tahu kalau diskusi buku ini bakal terlambat digelar. Begitu juga Nomen dan Manfred, dua kawan yang tiba bersamaan dengan saya jam tiga sore ketika seorang pegawai sibuk membersihkan meja-meja kafe sambil memutar lagu-lagu Nadin Amizah.

Ketika kami tiba, pagar kafe belum dibuka. Sandiwara Kopi memang biasanya buka pada malam hari. Sehingga pada sore hari kami boleh memakai tempatnya untuk diskusi buku tanpa mengganggu hilir-mudik pengunjung yang lain. Sambil menunggu di depan pagar, Aan, pemilik kafe itu tiba dengan sebuah mobil tepat di depan pagar. Ia baru saja pulang menjemput ibunya dari bandara. Darinya, kami tahu ia telah mengutus seorang karyawannya untuk menyiapkan kebutuhan diskusi kami.

Dari parkiran, kami naik tangga-tangga menuju lantai dua. Seseorang yang ia utus itu sedang mencondongkan badan ke depan berusaha menggapai puntung rokok di bawah kursi. Kami mencari bangku yang sudah ia bersihkan. “Dia agak tidak enak kalau membersihkan terus ada orang duduk,” kata Aan sebelum kami naik ke kafenya. Kami berusaha tak mengganggu pekerjaannya.

Lima belas menit duduk di kafe itu, Roberta datang sambil mengunyah pinang dengan kantong plastik untuk membuang ludahnya. Perempuan berambut nyaris botak  berwarna kuning ini bakal jadi moderator diskusi buku Ramuan di Segitiga Wallace: Siasat Pengobatan Warga Selat Makassar, Laut Flores, hingga Teluk Cendrawasih (Makassar Biennale, 2020) yang berlangsung Rabu 7 April 2021 di Sandiwara Kopi.

Saya mengenal Roberta kisaran tiga tahun yang lalu, meski lebih sering hanya mendengar namanya. Baru di tahun 2019, saya mulai akrab dengan dia lewat sejumlah kegiatan di Asosiasi Pedagang Asli Papua (APAP)—sebuah organisasi yang ia koordinatori sejak diresmikan pada tahun 2020 lalu.

Mudah sekali berjumpa dengannya. Datang saja ke kegiatan solidaritas atau kerelawanan di Nabire. Ia pasti ada di sana. Berdiri memegang toa sambil berorasi. Ia sangat aktif dan punya punya semacam daya tarik yang mampu menggerakkan banyak orang—meski dia seorang perempuan, status yang oleh masyarakat patriarki dianggap tidak punya daya. Ia memang terang-terangan menggaungkan perlawanan pada patriarki, baik di kehidupan sehari-hari, maupun di sosial media.

Ketika saya memintanya jadi moderator, ia langsung menerimanya. Pertimbangannya, kemampuan manajemen massanya tak perlu diragukan lagi—sesuatu yang sangat berguna dalam diskusi buku ini. Buku yang memapar siasat-siasat penyembuhan warga, yang semuanya hasil penelisikan lapangan oleh enam tim selama tiga bulan di enam wilayah yang tersebar di kawasan Selat Makassar, Laut Flores, dan Teluk Cendrawasih.

Kisaran setengah lima sore, Sambena Inggeruhi, narasumber yang menceritakan praktik mengeluarkan darah kotor dalam buku ini tiba lengkap dengan baju dinas coklat DPRD Nabire. Ia baru saja menghadiri beberapa agenda sebelum tiba di tempat diskusi. Saya lalu memberinya buku itu. Dengan senyum ia membolak-balik isi buku itu sambil memperlihatkannya pada dua orang kawan yang ia bawa. Kami berbincang sedikit soal upaya-upaya yang ia lakukan menindaklanjuti pengobatan tradisional yang kami teliti, sambil memperlihatkan beberapa draft rancangan yang akan ia ajukan ke pemerintahan daerah.

Diskusi mulai tepat jam lima sore. Salah satu narasumber yang direncanakan hadir, Siprianus Bunai, yang juga menceritakan pengalaman praktik pengobatan daun gatal di Suku Pegunungan Papua, tidak bisa hadir sebab tertahan di Kota Jayapura.

Sebelum diskusi dimulai, Roberta meminta saya memimpin doa. Satu kebiasaan di Papua yang tak pernah absen di tiap kegiatan. Roberta selalu mengincar saya ketika saya kebetulan hadir di kegiatan yang ia pimpin. Tapi saya selalu menghindar. Baru di hari itu saya mengambil mic meski doa itu saya pimpin seperti ketika berada di sekolah dasar: “Sebelum mulai, mari kita berdoa menurut agama dan keyakinan masing-masing”. Lalu sunyi sampai kata “Amin” dan semua orang pun membuka mata. Doa yang barangkali jadi pengalaman berbeda mereka yang terbiasa dengan doa dipenuhi kata-kata.

“Kemarin setelah kita diskusikan soal pengobatan tradisional, kita DPRD ada bikin pokok-pokok pikiran terkait ini. Satu usulan saya adalah pengakuan terhadap pengobatan tradisional,” kata Sambena mengawali diskusi buku itu. Menurutnya pengobatan tradisional saat ini dimarjinalkan oleh oknum yang membawa agama kemudian menaruh stigma buruk pada pengobatan tradisional dengan dalih ‘syirik’. “Padahal pengobatan ini—juga bahan-bahannya—tumbuh bersama masyarakat”.

Sambena Inggeruhi, narasumber diskusi buku “Ramuan di Segitiga Wallacea: Siasat Pengobatan Warga Selat Makassar, Laut Flores, hingga Teluk Cendrawasih”.

Dampak dari hal ini adalah maraknya pengobatan Cina di Papua yang padahal juga termasuk dalam pengobatan tradisional. Keduanya mestinya sama-sama diberi ruang dan pengakuan yang sama kuatnya dari pemerintah, sehingga pilihan pengobatan pada masyarakat semakin beragam dan dekat dengan lingkungan mereka.

“Saya tidak tahu nanti ke depan bagaimana hal ini bisa terjadi. Tapi saya pikir, ide-ide bagus yang hari ini kita mulai ke depan kalau kita sama-sama (godok), setidaknya pemerintah mengakui kelompok masyarakat dengan sistem kesehatan tradisional yang ia miliki di setiap kampung,” jelas Sambena.

Ia banyak merenung soal pengobatan tradisional di Papua yang kalah tenar dibanding pengobatan tradisional yang justru berasal dari luar. Hal ini bukan tanpa dasar, ia sering mendengar koleganya bahkan rumah sakit menyarankan membeli obat tradisional Cina. Hal itu menurutnya tidak salah, tapi jadi dilematis ketika pengobatan tradisional Papua tidak ikut diakui dan dijadikan pilihan.

Dalam buku ini, pada tulisan yang ditulis Ipa Chadijah berjudul Ramuan-ramuan dari Utara, ia membandingkan perawatan rumah sakit dan pengobatan Cina, “Tahun 2018 saya menderita DBD hingga dirawat di rumah sakit. Satu minggu rawat inap, berbotol-botol infus, dan serangkaian tes darah, tak ada kemajuan. Trombosit saya bahkan terus turun hingga level sangat mengkhawatirkan… Setengah frustasi, mama saya akhirnya membelikan saya satu kotak obat Cina rekomendasi beberapa kolega, Fufang Eijao Jiang, dan beras merah China. Ajaib, dalam tiga hari mengonsumsi obat-obat ini saya jadi jauh lebih baik” (hal 185).

Pola yang sama terjadi. Ketika rumah sakit tidak mampu menangangi pasien, pengobatan alternatif datang dari para kolega. Dari hal ini barangkali kita bisa belajar, bahwa pengobatan Cina menjadi tenar karena punya cerita-cerita sukses seperti yang ditulis Ipa. Maka dari itu, untuk membuat pengobatan tradisional Papua tak kalah tenar, upaya-upaya dokumentasi agaknya mesti lebih digalakkan dan dikabarkan pada yang lain, entah dari mulut ke mulut, menuliskannya, atau dengan menjadikannya buku.

Sambena kemudian menceritakan pengalaman memperolah cara mengeluarkan darah kotor. Korban pertamanya adalah adiknya, Robertino Henebora yang mengalami keseleo pada kakinya setelah berbenturan ketika bermain bola. Ia lalu berinisiatif mencoba pengobatan yang sering dilakukan oleh ibunya dulu. Pada ujicoba pertamanya, lidahnya terbakar lantaran kapur yang kebanyakan pada daun waru. Tapi pada percobaan selanjutnya, ia berhasil.

Keberhasilan itu bukan saja membuatnya mengeluarkan darah kotor, tapi juga melunturkan asumsi-asumsi mistis dari kepalanya yang selama ini terlintas ketika melihat ibunya mempraktikkan pengobatan tersebut. Dari situ ia memutuskan untuk meneruskan pengobatan tradisional itu sampai sekarang. Ia juga bersikeras pengobatan ini mesti dilestarikan dan dijaga, meski pada saat itu ia tak tahu cara memulai itu.

Hal yang membikin saya ikut merasa bangga adalah ketika ia mulai menemukan cara melestarikan ketika saya datang mewawancarainya soal pengobatan itu. Proses dokumentasi, distribusi, juga diskusi-diskusi yang diinisiasi untuk membahas pengobatan tradisional ini menurutnya jadi satu cara untuk melestarikan pengobatan tradisional. Ia menyebutnya sebagai proses rasionalisasi pengobatan tradisional pada pemerintah dan dinas terkait.

Meski begitu, menurutnya, kita tidak perlu juga berharap banyak pada mereka, karena bagi dirinya, musuh terbesar kekayaan intelektual masyarakat adat ada pada diri kita sendiri. Selanjutnya, adalah kelompok-kelompok agama yang salah memandang pengobatan tradisional sebagai ‘penyembahan berhala’ dan lain-lain.

Seorang peserta yang hadir, Mikhael Kudiai dari Asosiasi Pedang Asli Papua (APAP) ikut memberikan pandangannya tentang pengobatan tradisional. “Pengobatan tradisional terakhir kali marak dibahas  itu waktu awal-awal Universitas Papua Manokwari baru dibuka. Begitu juga di Uncen. Itu masih bisa diakses di situs Papua Web yang dikelola dari Australia”. Situs ini,tambah Mikhael, menyimpan hasil-hasil riset di Papua. Sayangnya, ketika saya mencoba membukanya, situs ini sedang mengalami perbaikan.

Mikhael beranggapan, sejak tahun 2000-an ke atas, penelitian-penelitian soal pengobatan tradisional dan keragaman hayati itu mulai berkurang intensitasnya. Ia berasumsi, hal ini menyebabkan akses pengetahuan warga soal pengobatan tradisional inipun menjadi sulit, “Padahal tanaman ini ada di dekat-dekat kita saja. Cuma kita dibuat berpikir ke arah yang lebih besar-besar saja”.

Mikhael Kudiai, seorang peserta diskusi, menjelaskan soal hasil-hasil penelitian pengobatan tradisional Papua yang pernah ia baca

Kita bisa belajar dari Lusia Kudiai, seorang perawat di Topo, Nabire Barat, yang praktik mengobati lewat daun akadapi boo (urang-aring) ditulis oleh Manfred Kudiai, “Lusy lebih percaya pada akadapi boo karena khasiat pengobatan dan kesembuhan yang menurutnya amat sangat cepat dibanding obat-obatan khusus batuk dari apotek maupun rumah sakit. Kepercayaannya terhadap akadapi boo diperkaya tanggapan warga sekitar yang mengeluh batuk dan sesak nafas yang sempat ia layani” (hal 137-138). Daun itu tumbuh subur di pekarangan rumah dan sering hanya dicabut karena dianggap gulma. Padahal, ia bisa jadi obat batuk paling dekat dengan kita. Barangkali memang pengobatan ini belum tersebar dan diteliti.

Memang beberapa penelitian soal pengobatan tradisional, menurut Mikhael, masih banyak dilakukan. Sayangnya hanya berakhir sebagai gelar, bukan buku yang bisa diakses warga. “Kalau sudah ada buku begini ‘kan bisa didiskusikan dan jadi pendidikan warga, pengetahuan warga, dan lain-lain karena aksesnya terbuka”.

Freddy Tebai, seorang peserta diskusi yang berprofesi sebagai guru, menuturkan bahwa kalau ia sakit masih menggunakan bahan-bahan tradisional. “Misalnya sakit mata, saya tinggl cari kayu tertentu, terus air dari kayu itu kita teteskan ke mata. Nanti sembuh.” Selain sakit mata, ia juga menggunakan daun giawas dan pisang sepatu untuk sakit perut dan daun pisang untuk sakit telinga.

Kemampuan meracik-ramu tanaman herbal yang dimiliki Freddy dalam buku ini seperti Erwin dalam tulisan Rafsanjani Pemegang Kitab Herbal Keluarga, “Sebenarnya itu semua daun ada fungsinya. Tidak mungkin Allah menciptakan kalau tidak ada khasiatnya. Logikanya begitu. Seperti daun sereh, itu ‘kan obat anti-nyamuk. Cuma kita takutnya gatal,’ jelas Erwin, sambil memperagakan daun sereh yang digosok ke lengannya.” (hal 165). Yang membedakan Erwin dan Freddy barangkali adalah inspirasinya. Jika Erwin memulainya dengan pengalaman membantu neneknya ketika berumur empat tahun, Freddy terinspirasi selain dari pengalaman pengobatan tradisional sepanjang hayatnya, juga dari sebuah gerakan perlawanan di India.

Freddy terinspirasi oleh Mahatma Gandhi ketika melakukan gerakan Satyagraha yang diambil dari konsep filosofi ahimsa yang berarti tanpa kekerasan untuk melawan pemerintahan Inggris, salah satunya menolak mengonsumsi obat-obatan yang diperjual-belikan oleh mereka dan hanya mengonsumsi obat-obat tradisional. Dan gerakan Satyagraha berhasil, juga mengilhami dua gerakan besar di Afrika Selatan oleh Nelson Mandela dan Martin Luther King Jr di Amerika Serikat.

“Sebenarnya farmasi menjadi penting karena bisnis kapital saja. Mereka menghabiskan triliunan untuk menghasilkan obat dan butuh proses yang lama,” lanjutnya. Ia mengapresiasi keberanian menuliskan pengobatan tradisional karena menurutnya tak bisa dimungkiri, kepentingan pemodal selalu berdiri di belakang industri farmasi. “Makanya kalau mereka lihat ada yang menghalangi mereka, mereka bisa buat apa saja.”Tapi riset-riset soal pengobatan tradisional dan aksesnya yang mudah ketika dibukukan setidaknya membuka mata kita kalau kesehatan sebenarnya tidak pernah jauh dari diri kita.

Yance Kotouki, seorang peserta diskusi, menanggapi diskusi ini dengan memaparkan satu fakta soal buah merah yang hak patennya banyak dimiliki oleh orang luar Papua. “Sebagai orang yang petik, remas, masak, dan makan buah merah, saya merasa terpukul,” katanya.

Satu contoh pemegang hak paten buah merah adalah seorang ilmuwan Indonesia bernama Rudy Susilo, ahli biokimia dan farmakologi lulusan Free University, Berlin, Jerman, yang saat ini memegang empat hak paten pemroresan buah merah.[1]Hadirnya buku ini, menurutnya, bisa jadi satu pemicu bagi para anak muda untuk mengelola kekayaan intelektual seperti pengobatan dan obat tradisional menjadi sesuatu yang profesional di mata akademisi.

“Sebenarnya salah satu keuntungan kita itu ketika para saintis-saintis dunia mau masuk ke Papua itu mereka dihadang oleh masalah politik. Ini syukur sekali. Kalau tidak, ini lisensi tanaman semua orang luar yang pegang,” sambungnya.

Buku Ramuan di Segitiga Wallacea: Siasat Pengobatan Warga Selat Makassar, Laut Flores, hingga Teluk Cendrawasih menurutnya menjadi penegas untuk melihat pengobatan tradisional sebagai sesuatu yang penting untuk didokumentasikan bersama.

Terakhir, Jhon Kudiai menanggapi diskusi ini dengan melihat pengobatan tradisional masih menjadi pilihan pengobatan warga Papua lantaran masih kurang percaya pada medis. Ia percaya, pengobatan tradisional ke depannya masih akan bernilai, sebab bagaimanapun bahan-bahan obat diambil dari alam yang sebenarnya bisa kita akses dan tidak membutuhkan biaya yang besar.

“Ini saja satu buku sudah memuat lima belas pengobatan tradisional. Mudah-mudahan ke depan itu ada lagi supaya bisa jadi kamus pengobatan,” lanjut Jhon. Buku ini menurutnya menjadikan pengobatan tradisional “naik kelas” karena sudah didokumentasikan lengkap dengan cara pengobatan dan kandungan dari obat-obat itu sendiri.Hanya saja, upaya-upaya untuk menyebarkannya mesti dilakukan bersama dalam skala yang luas.

Hal ini juga disinggung Anwar Jimpe Rachman dalam pengantarnya pada buku ini, “Sudah jelas, obat paling manjur selama masa yang serba tak-pasti dan tanpa kutik adalah harapan—sesuatu yang diterbitkan oleh pengobatan tradisional. Tapi sayangnya kemudian bahwa sebaran kemungkinan-kemungkinan penyembuhan itu terbatas, dipelihara oleh segolongan kaum atau komunitas kecil. Perlu cara kerja yang lebih besar untuk menyebar dan mengabarkannya” (hal vii).

Diskusi berlangsung selama dua jam dengan ragam cerita pengobatan tradisional yang banyak dari kami baru mendengarnya. Banyak juga siasat-siasat dan inisiatif yang hadir dalam diskusi ini untuk digodok bersama.Bahkan setelah diskusi usai, beberapa orang masih terlibat obrolan soal pengobatan tradisional ini. Barangkali teguran Roberta sebelum diskusi dimulai memang benar, “Tidak apa-apa kalau kita mulai agak telat eh”. Apa yang kami lalui hari ini, barangkali juga seperti teater penyembuhan. Mencipta harapan-harapan.[]

Fauzan Al Ayyuby, belajar dan bekerja di Tanahindie.


[1] Tempo.co, https://tekno.tempo.co/read/693139/ilmuwan-indonesia-ini-terpaksa-lepas-80-hak-paten/full&view=ok, diakses pada 16 April 2021, pukul 15.49 WIT.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan